Arti 'No Kings' yang Mengguncang AS, Warga Demo Trump

ADVERTISEMENT

Arti 'No Kings' yang Mengguncang AS, Warga Demo Trump

Trisna Wulandari - detikEdu
Senin, 30 Mar 2026 12:33 WIB
A giant inflatable balloon in the likeness of US President Donald Trump as a baby in diapers is seen as demonstrators march during the No Kings national day of protest in Los Angeles on March 28, 2026. Nationwide protests against US President Donal
Demonstrasi 'No Kings' di Los Angeles, California, AS pada Sabtu (28/3/2026). Foto: AFP/ETIENNE LAURENT
Jakarta -

Warga Amerika Serikat ramai-ramai ikut demonstrasi terhadap Presiden AS Donald Trump di berbagai kota sejak beberapa hari terakhir. Mengusung slogan 'No Kings', para demonstran menyoroti isu penangkapan warga sipil oleh Badan Imigrasi dan Bea Cukai AS (ICE) hingga perang di Iran.

Dilansir NPR, protes nasional ini setidaknya sudah merencanakan 3.000 lebih kegiatan unjuk rasa, termasuk di luar negeri, seperti di Kanada dan Meksiko. Terdekat, demonstrasi No Kings akan digelar secara nasional pada Selasa (31/3/2026) malam. Apa sebenarnya arti 'No Kings'?

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Arti 'No Kings' di AS

Pada dasarnya, istilah 'No Kings' merujuk pada beberapa hal. Sebagai sebuah kegiatan, 'No Kings' adalah gerakan damai yang melawan kediktatoran atau tindakan otoritarian.

Dalam hal ini, 'No Kings' dimulai pada Juni 2025 sebagai mobilisasi damai nasional jutaan orang yang turun ke jalan dan menyatakan Amerika Tidak Punya Raja (No Kings). Aksi ini merupakan simbol perlawanan atas kekuasaan otoriter Trump yang bertepatan dengan periode pawai ulang tahun Trump di setiap negara bagian, dikutip dari laman resminya.

ADVERTISEMENT

AS Serasa Dipimpin Tiran

Sebagai slogan pada unjuk rasa, kelompok demonstrans No Kings menjelaskan, tindakan Trump selama menjabat sebagai presiden lebih mirip tindakan seorang raja ketimbang seorang pemimpin yang dipilih secara demokratis.

Sejumlah arahan Trump yang memicu kemarahan dan demonstrasi warga AS antara lain menarget keluarga imigran dengan melakukan profiling, menangkap, dan menahan mereka tanpa surat perintah. Trump juga mengancam akan mengambil alih pemilihan umum.

Dalam hal ini, demonstran juga menyorot langkah Trump memanipulasi peta untuk membungkam pemilik suara atau pemilih. Ia juga disorot lantaran mengabaikan penembakan massal di sekolah-sekolah dan di tengah lingkungan umum.

Warga juga menyatakan kesusahannya karena kebijakan Trump membuat biaya hidup naik, serta layanan kesehatan dan pendidikan anjlok, sementara memberikan bantuan besar-besaran kepada sekutunya, Israel. Mereka menyoroti AS menghabiskan miliaran dolar pajak untuk untuk serangan rudal di luar negeri.

Gerakan 'No Kings' menggarisbawahi, Amerika Serikat bukan milik raja, diktator, atau tiran, melainkan milik rakyat. Para rakyat peduli, hadir, dan berjuang untuk martabat diri, kehidupan yang terjangkau, dan hadirnya kesempatan-kesempatan nyata bagi masyarakat, yang ditegaskan sebagai "tanpa takhta, tanpa mahkota, tanpa raja".

"Presiden (Trump) mengira kekuasaannya mutlak. Tapi di Amerika, kita tidak memiliki raja, dan kita tidak akan mundur melawan kekacauan, korupsi, dan kekejaman," tulis koalisi No Kings.

Koalisi Aktivis

Sebagai organisasi, No Kings adalah koalisi aktivis progresif yang melancarkan gerakan damai. Prinsip dasar di balik semua kegiatan No Kings adalah komitmen terhadap aksi tanpa kekerasan.

Pada unjuk rasa, para demonstran diarahkan untuk menjalankan aksi sesuai hukum, sambil meredakan potensi konfrontasi dengan pihak-pihak yang tidak setuju dengan nilai-nilai mereka. Para demonstran juga dilarang membawa senjata apapun, termasuk yang diizinkan secara hukum.




(twu/nwk)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads