Kebudayaan Mesir kuno meninggalkan warisan berupa artefak papirus Kitab Orang Mati. Dokumen kuno ini merupakan sebuah antologi mantra yang dirancang untuk membantu orang meninggal menavigasi alam baka.
Papirus ini dibuat antara tahun 1290 dan 1278 SM dan disiapkan untuk juru tulis kerajaan senior Ramose, serta dikuburkan bersamanya. Belakangan, para ahli di Museum Fitzwilliam di Cambridge mempersiapkan salinan papirusnya.
Mereka memperhatikan sebuah adegan yang menggambarkan Mantra 117, yang dirancang untuk membantu juru tulis kerajaan senior Ramose melewati alam baka dengan aman. Dalam ilustrasi ini Ramose berdiri di samping dewa berkepala serigala, kemungkinan Wepwawet, dewa perang dan perburuan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun, dalam proses persiapan salinan itu, para ilmuwan menemukan hal menarik. Menurut pihak museum, dewa tersebut tampaknya telah mengalami beberapa perubahan, yaitu pigmen putih tebal dapat terlihat di sepanjang kedua sisi tubuh. Cat tersebut digunakan untuk mengubah garis luar figur, membuatnya tampak lebih ramping.
"Seolah-olah seseorang melihat cara asli serigala itu dilukis dan berkata, 'terlalu gemuk; buatlah lebih ramping,'" kata kurator pameran, Helen Strudwick, dalam sebuah pernyataan yang dilaporkan oleh Smithsonian Magazine, dikutip dari Popular Mechanics.
"Jadi seniman tersebut telah membuat semacam tipp-ex Mesir kuno--yang jga dikenal sebagai wite-out atau liquid paper--untuk memperbaikinya," lanjutnya.
Tim tersebut menggunakan reflektografi inframerah yang menangkap radiasi inframerah yang menembus lapisan cat untuk mengungkapkan secara tepat apa yang ditutupi oleh garis-garis putih pada tubuh hitam serigala tersebut. Inspeksi mikroskop digital 3D pada halaman-halaman buku tersebut mengungkapkan titik di mana garis-garis putih ini dilukis dengan sengaja di atas bagian-bagian tubuh hitam dan kaki belakang, mengubah penampilan serigala tersebut.
Analisis tim terhadap cairan koreksi ini juga mengungkapkan bahan campuran korektor tersebut. Serigala tersebut digambar dengan huntit berminyak, sementara cairan koreksi putih utamanya merupakan kombinasi kalsit dan huntit. Cairan koreksi tersebut juga memiliki bintik-bintik kuning, yang menurut para ahli museum kemungkinan merupakan upaya untuk membantu cairan putih tersebut lebih menyatu dengan papirus yang lebih pucat.
(nah/nah)











































