Libur lebaran tinggal hitungan hari, sebagian masyarakat kembali akan melakukan perjalanan balik kembali ke perantauan yang identik dengan jarak tempuh lumayan jauh. Sebagian mungkin menikmati perjalanan tersebut, tapi tak sedikit pula yang justru menganggapnya musuh.
Mereka memilih tidak berada di dalam kendaraan seperti mobil, pesawat, kapal, kereta, atau bus, dalam waktu yang lama. Hal tersebut terjadi karena mereka harus merasakan mual atau mabuk perjalanan saat berada di dalam kendaraan. Kondisi dimana seseorang merasa pusing berbayang, dan bahkan muntah, serta terlihat pucat.
Lantas, mengapa tidak semua orang merasa mual saat perjalanan?
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Seorang profesor klinis di Fakultas Kedokteran, Universitas Stanford, Dr Kristen K Steenerson, mengatakan semua orang sebenarnya berpotensi untuk mengalami mabuk perjalanan.
"Hanya saja setiap orang memiliki ambang batas yang berbeda untuk seberapa banyak paparan gerakan yang cukup merangsang hingga membuat mereka mual," ujarnya dikutip dari Popular Science pada Senin, (16/3/2026).
Baca juga: Mudik Lebaran 2026 dalam Angka |
Apa yang Dimaksud Mabuk Perjalanan Penyebabnya?
Mabuk perjalanan adalah kondisi sesaat yang seketika muncul akibat guncangan dari kendaraan seperti mobil, bus, kapal, dan pesawat, atau mungkin wahana roller coaster. Beberapa orang bahkan merasakannya saat bermain ayunan, atau saat sedang berselancar.
Pada umumnya, gejala yang akan muncul meliputi, mual, keringat dingin, sakit kepala, kulit pucat, pusing, hingga muntah. Menurut sains, hal ini disebabkan oleh konflik sensorik atau ketidakcocokan saraf. Kondisi dimana otak menerima sinyal bertentangan dari tiga sumber perifer yang berfungsi untuk menjaga keseimbangan.
Sumber yang dimaksud adalah mata, telinga bagian dalam, dan sensor tubuh di persendian, otot, dan tendon. Sensor yang ketiga berfungsi untuk merasakan gerakan tubuh dan tindakannya sendiri, disebut dengan propriosepsi. Seperti, orang yang mampu mengetik tanpa melihat keyboard, dan menyentuh hidung saat mata terpejam.
"Otak mengambil berbagai informasi sensorik dari ketiga sumber tersebut dan kemudian menggabungkannya, mengintegrasikannya, jika boleh dikatakan demikian, menjadi satu pesan yang kohesif," jelasnya.
Saat otak menerima sinyal bertentangan, ia akan kebingungan dan mengiritasi struktur sekitar batang otak yang mengganggu keseimbangan. Tubuh kemudian bereaksi terhadap kebingungan sensorik tersebut, dan mencoba membasmi racun yang dirasakan.
Teori lain menyebut, mabuk perjalanan adalah evolusi dari orang yang diberi racun, karena keracunan menyebabkan ketidakseimbangan sensorik. Otak lalu kebingungan dan berkata, 'baiklah, mari kita coba singkirkan semuanya untuk berjaga-jaga.'
Apakah Mabuk Perjalanan Bergantung pada Usia?
Sekitar satu dari tiga orang berisiko mengalami mabuk perjalanan dan ini umum terjadi. Beberapa faktor seperti usia, genetika, dan faktor lingkungan, ventilasi yang buruk dan asap rokok semakin memperburuk keadaan. Sebuah studi menyebut, hampir 70% variasi kerentanan terhadap mabuk perjalanan bersifat turun-temurun.
"Anak-anak jauh lebih rentan, dan kemudian kita, para wanita yang beruntung yang sedang dalam masa pramenstruasi, perimenopause, atau pascamenopause, juga bisa menjadi lebih rentan," tutur Steenerson.
Pada umumnya, mabuk perjalanan lebih sering menyerang anak-anak 7 sampai 12 tahun dan akan berkurang seiring bertambahnya usia. Namun, kemungkinan mabuk perjalanan kembali meningkat pada lansia.
Termasuk juga wanita hamil yang mengalami fluktuasi hormon estrogen. Kelompok penderita kecemasan tinggi dan penderita migrain, juga masuk dalam kelompok rentan terhadap mabuk perjalanan.
Ada pula, mabuk kendaraan yang ditandai dengan rasa kantuk yang hebat, depresi, mudah tersinggung dan apatis, yang disebut dengan sindrom sopite. Umumnya, sindrom ini menyerang pada astronot, pelaut, dan pilot, yang terpapar perjalanan panjang berulang.
Bagaimana Cara Mencegah Mabuk Perjalanan?
Untuk mengurangi efek buruk dari mabuk perjalanan, seseorang disarankan untuk:
- Menghindari makanan berat sebelum bepergian
- Tidak minum minuman beralkohol yang membuat dehidrasi
- Menghindari duduk di kursi belakang jika di mobil
- Pilih tempat duduk yang menghadap sayap pesawat untuk mendekati pusat gravitasi
- Jika di kapal, mencari posisi di bagian tengah dek kapal yang dekat air
- Pilihlah kursi yang menghadap depan, atau serah dengan laju kereta api atau bus
- Minum obat untuk mabuk perjalanan sebelum bepergian
- Mengkonsumsi permen atau minuman jahe, yang mampu meredakan sakit perut dengan memblokir sinyal pemicu mual di batang otak
- Memiliki titik sentuh, seperti berbaring atau dengan menekan kepala ke kursi untuk mengurangi kebingungan antara mata dan telinga
- Mendengarkan musik lembut, serta membaca dengan meningkatkan durasinya secara perlahan
Alangkah baiknya, seseorang membiasakan diri untuk melakukan perjalanan dengan berbagai kendaraan supaya terbiasa. Jangan biarkan mabuk perjalanan menjadi penghalang untuk melakukan perjalanan yang seru. Istirahat cukup, tetap terhidrasi, dan tetap berjaga-jaga dengan menyediakan permen jahe dan playlist musik akustik.
"Sebagian besar mabuk perjalanan mungkin berasal dari otak Anda, jadi memastikan kebiasaan otak tetap sehat, sangatlah penting," tandasnya.
Apakah detikers pernah merasa mabuk perjalanan saat perjalanan jauh?
Simak Video "Video: Pantauan Lalu Lintas di GT Warugunung"
[Gambas:Video 20detik]
(sls/pal)











































