Perantau Stres Saat Mudik, Pakar: Harapan dari Keluarga Bisa Jadi Toksik

ADVERTISEMENT

Perantau Stres Saat Mudik, Pakar: Harapan dari Keluarga Bisa Jadi Toksik

Novia Aisyah - detikEdu
Jumat, 20 Mar 2026 11:00 WIB
Ilustrasi seseorang yang menderita gejala stres.
Ilustrasi stres. Foto: Shutterstock
Jakarta -

Bagi para perantau, mudik mungkin menjadi salah satu agenda penting saat hari raya Idul Fitri. Namun di balik momen pulang kampung, muncul pula gejala sosial yang kerap berulang, seperti fenomena flexing atau pamer status ekonomi.

Tak jarang, sebagian orang rela melampaui kemampuan finansialnya demi menjaga citra, misalnya dengan menyewa mobil agar terlihat lebih mapan di hadapan keluarga dan lingkungan sekitar.

Selain itu, momen pertemuan keluarga saat Lebaran juga sering diwarnai pertanyaan-pertanyaan seputar pencapaian hidup dan ukuran kesuksesan. Situasi ini menjadi pengalaman umum yang dirasakan banyak perantau setiap tahunnya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ekspektasi dari Keluarga Jadi Beban

Pakar antropologi Universitas Brawijaya, Ary Budiyanto, menjelaskan isu "kesuksesan" memang hampir selalu menjadi topik utama saat seseorang kembali ke kampung halaman. Hal ini tidak lepas dari ekspektasi keluarga yang telah ditanamkan sejak seseorang memasuki usia dewasa.

ADVERTISEMENT

Fenomena ini juga berkaitan dengan konsep sandwich generation, yakni kondisi ketika individu yang lebih mapan secara ekonomi memikul tanggung jawab untuk menopang anggota keluarga lainnya. "Jadi itu juga menjadi beban sekaligus harapan. Harapan itu kan beban to?" ungkap Ary kepada detikEdu, ditulis Kamis (19/3/2026).

Ia menjelaskan, ekspektasi keluarga dapat memicu tekanan psikologis bagi para perantau. Dalam sejumlah kasus, tekanan ini bahkan berujung pada perilaku menyimpang, seperti meningkatnya tindak pencurian menjelang Idul Fitri, demi memenuhi tuntutan sosial tersebut.

Menurutnya, harapan yang terus-menerus dibebankan oleh keluarga akhirnya terinternalisasi menjadi tuntutan terhadap diri sendiri. Kondisi ini membuat beban sosial terasa semakin berat, bahkan berpotensi berkembang menjadi tekanan yang bersifat toksik.

"Karena harapan-harapannya itu selalu dituntut. Dan dia merasa dituntut dirinya sendiri. Karena apa? Ya karena psikologi komunal keluarga besar dan keluarga kampung itu menuntut. Dia merasa gitu. Kan ada orang-orang yang begitu, 'Nanti malu dilihat tetangga'," ujar dosen yang pernah menjadi staf ahli WBTB Kemendikbudristek itu.

Ia menambahkan, tekanan tersebut tidak hanya berasal dari keluarga inti, tetapi juga meluas hingga keluarga besar dan lingkungan kampung. Situasi inilah yang kemudian mendorong sebagian orang melakukan flexing sebagai cara untuk menjaga citra sosial di hadapan lingkungan.

"Bisa jadi toksik kan. Karena beban itu tidak hanya dari keluargamu, tapi keluarga besarmu, bahkan kampung. Nah itu yang jadi toksik kemudian. Kemudian banyak orang flexing," jelas dosen yang pernah menjadi staf ahli WBTB Kemendikbudristek itu.

Survei: Tingkat Kecemasan Masyarakat Naik Jelang Idul Fitri

Apa yang dipaparkan oleh Ary, senada dengan yang terungkap melalui sebuah survei oleh Halodoc. Survei tersebut menemukan tingkat kecemasan di RI justru meningkat hingga 27 persen jelang Idul Fitri.

Seperti dijelaskan oleh Chief Marketing Officer Halodoc,Fibriyani Elastria, tren keluhan kesehatan bergerak dinamis sepanjang bulan puasa. Pada awal puasa, masyarakat banyak mengeluhkan gangguan fisik. Akan tetapi, memasuki minggu ketiga, gangguan kesehatan berubah menjadi gangguan mental.

"Keluhan yang semakin meningkat dari minggu ke minggu adalah terkait kesehatan mental. Puncaknya terjadi di minggu ketiga, meningkat lebih dari 27 persen dibandingkan sebelum Ramadan," ujar Fibriyani dilansir oleh Antara.

Ia memaparkan keluhan yang muncul jelang Lebaran antara lain rasa cemas berlebihan, gangguan tidur, jantung berdebar, hingga sesak napas. Kondisi tersebut dipicu berbagai faktor, salah satunya tekanan keluarga saat mendekati Idul Fitri.

Sebesar 58 persen pemicu kecemasan berasal dari konflik atau tekanan dalam keluarga. Tekanan tersebut termasuk ekspektasi soal pernikahan, anak, kondisi ekonomi, hingga dinamika relasi antaranggota keluarga.

Perubahan pola tidur yang terakumulasi selama tiga minggu puasa dan tekanan sosial juga berkontribusi terhadap peningkatan kecemasan.




(nah/pal)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads