Momen lebaran adalah waktu kumpul bersama keluarga untuk bercengkrama, sekaligus menjalin silaturahmi. Namun, kesempatan ini kerap dijadikan ajang pamer pencapaian, penghasilan, pasangan, dan yang lainnya.
Maka, tidak jarang orang justru khawatir saat menjelang lebaran. Pertanyaan seperti, "kapan lulus?", "kapan nikah?," "sekarang kerja dimana?," "sudah punya anak belum?," justru mendorong sebagian orang tidak mau ikut serta dalam kumpul keluarga tahunan tersebut.
Oleh karena itu, wajar jika sebagian orang merasa mentalnya tidak baik-baik saja saat hari raya tiba. Transisi rutinitas yang berubah drastis, ekspektasi budaya, hingga tekanan sosial cenderung memicu munculnya stres.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Beberapa orang mungkin risih ketika terpaksa untuk bertatap muka dan menerima tamu sepanjang hari. Kegiatan tersebut dirasa begitu menguras energi, dan menyebabkan kelelahan mental sebagian orang.
Lantas, bagaimana cara menghadapi aktivitas lebaran, sementara kesehatan mental tetap aman? Berikut tips dan trik yang dibagikan psikolog dan dosen Fakultas Ekologi Manusia di IPB University, Nur Islamiah, MPsi, PhD.
Tidak Terlibat Percakapan Memojokkan
Sosok yang akrab disapa Mia tersebut menegaskan, penting untuk mengatur ekspektasi diri untuk menyenangkan semua orang saat lebaran. Caranya adalah dengan menerapkan batasan psikologis atau psychological boundaries.
"Kita tidak punya kewajiban dan memang tidak mungkin bisa menyenangkan semua orang. Sering kali kita merasa harus selalu tersenyum, melayani tamu, dan menjaga suasana," ujarnya dikutip dari laman resmi IPB University pada Selasa (17/3/2026).
Dikatakan Mia, tidak ada salahnya membatasi diri untuk tak terlibat dalam perbincangan yang kurang cocok dengan kepribadian. Suasana lebaran biasanya ramai lazim membuat topik pembicaraan beragam. Solusinya adalah mencoba untuk masuk dalam pembicaraan yang dirasa nyaman.
Memberi Ruang untuk Diri Sendiri
Opsi lainnya, tarik diri dari keramaian dan beristirahat sejenak. Mia menekankan, cara ini bukan tindakan yang salah karena kapasitas energi dan mental setiap orang berbeda-beda.
"Memberi ruang bukan berarti menjauh, tetapi cara untuk memelihara kapasitas emosional. Tanpa ruang itu, kita lebih mudah merasa lelah, tersinggung, bahkan merasa kosong meski dikelilingi banyak orang," tuturnya.
Ia juga menekankan betapa pentingnya keseimbangan antara waktu bersama keluarga dan ruang ketenangan untuk diri sendiri. Hal ini bisa diatasi dengan bangun lebih pagi untuk mendapatkan beberapa waktu untuk sendirian, atau istirahat beberapa menit di dalam kamar.
Menjawab Pertanyaan dengan Tenang
Tidak sedikit orang yang merasa terancam bila ditanya terkait pencapaian hidup atau pekerjaan. Maka dari itu, Mia menyarankan untuk tetap tenang dan sopan dalam menanggapi dan menjawab pertanyaan tersebut.
Alih-alih cepat tersulut emosi, kita bisa menjawab dengan santai pertanyaan itu dengan mengatakan, "Masih dalam proses, mohon doanya ya." Menurutnya, jawaban ini cukup untuk menjaga kenyamanan tanpa harus menjelaskan dengan panjang lebar.
Mengalihkan Perhatian ke Hal Lain
Ia menegaskan, tidak baik terlalu mengabaikan perasaan lelah dan tertekan, karena itu respons manusiawi. Perasaan tersebut sangat wajar dan berhak mendapat validasi meski dalam suasana bahagia sekalipun.
"Tidak apa-apa merasa lelah di tengah suasana yang bahagia. Validasi perasaan itu penting. Carilah cara sederhana untuk menenangkan diri, seperti berjalan sebentar, berwudu, atau mengambil waktu untuk beribadah dengan lebih khusyuk," ucapnya.
Saat Lebaran Jauh dari Keluarga
Sebaliknya, bagi orang yang terpaksa merayakan lebaran sendirian, ia mengimbau untuk tetap membangun komunikasi dengan keluarga dan orang-orang terdekat. Diketahui, rasa kesepian adalah hal yang wajar saat harus berlebaran seorang diri.
Ia menilai, penting untuk tetap menjaga tali silaturahmi sekalipun secara virtual. Cara ini dapat mengurangi rasa kesepian di tengah suasana raya.
"Hubungi orang yang disayangi, lakukan panggilan video meski hanya sebentar. Yang terpenting, jangan memendam semuanya sendirian," katanya.
Perlu diingat, ajang lebaran bukanlah kompetisi untuk membanding-bandingkan siapa yang paling baik. Momen ini harus benar-benar dijadikan kesempatan bercakap dan melepas rindu di antara saudara.
"Kita tidak harus selalu kuat dan tidak perlu merasa harus sempurna. Memberi ruang untuk diri sendiri justru merupakan bentuk kekuatan emosional yang matang," tutupnya.
(sls/twu)











































