Apa Itu Black Rain yang Terjadi di Iran? Plus Dampaknya bagi Manusia

ADVERTISEMENT

Apa Itu Black Rain yang Terjadi di Iran? Plus Dampaknya bagi Manusia

Callan Rahmadyvi Triyunanto - detikEdu
Rabu, 18 Mar 2026 14:00 WIB
Fire of Israeli attack on Sharan Oil depot is seen following the Israeli strikes on Iran, in Tehran, Iran, June 15, 2025. Majid Asgaripour/WANA (West Asia News Agency) via REUTERS   ATTENTION EDITORS - THIS PICTURE WAS PROVIDED BY A THIRD PARTY
Foto: via REUTERS/Majid Asgaripour
Jakarta -

Serangan Israel dan United States (AS) terhadap depot penyimpanan bahan bakar dan kilang minyak di Tehran pada Sabtu (28/2/2026) lalu memicu kebakaran besar dan kepulan asap hitam.

Imbas perang Israel-AS dan Iran itu juga menyebabkan polusi udara berbahaya serta fenomena black rain atau hujan hitam yang dikhawatirkan mengancam kesehatan jutaan warga.

Dalam pernyataan yang disebarkan melalui laman Reuters pada Selasa (10/3/2026) dikutip Rabu (18/3/2026), World Health Organization (WHO) menyebut telah menerima sejumlah laporan mengenai hujan yang mengandung partikel minyak di beberapa wilayah Iran. Kondisi ini terjadi setelah depot penyimpanan bahan bakar dan kilang minyak di Tehran diserang, yang memicu kepulan asap hitam tebal hingga menyelimuti kota itu.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Lalu, apa sebenarnya 'black rain' alias hujan hitam itu? Apa penyebabnya dan bagaimana dampaknya bagi manusia? Berikut penjelasannya.

ADVERTISEMENT

Apa Itu Black Rain?

Ilmuwan lingkungan dari University of Adelaide di Australia, Farzana Kastury mengatakan bahwa black rain alias hujan hitam adalah istilah umum untuk air hujan yang terkontaminasi polutan dari atmosfer.

Dilansir dari Nature, hujan jenis ini biasanya terbentuk dari partikel asap kebakaran hutan, pembakaran bahan bakar berat, atau limbah dari proses penyulingan minyak mentah. Polutan dalam hujan hitam ini bisa termasuk benzena, aseton, toluena, dan metilen klorida yang berpotensi menyebabkan kanker.

"Hujan hitam menunjukkan tingkat polusi udara lingkungan sekitar yang sangat tinggi," kata Gabriel da Silva, ahli kimia atmosfer dari University of Melbourne.

Ditambahkan Brian Oliver, peneliti pernapasan dan polusi dari University of Technology Sydney, bahwa warna hitam pada hujan disebabkan oleh partikel jelaga atau karbon dari kebakaran. Hujan juga bisa mengandung partikel berbahaya dari material bangunan yang hancur, seperti asbes atau silika.

Dampak Kesehatan bagi Manusia

Menurut para ilmuwan, hujan hitam yang melanda Iran dalam beberapa hari terakhir terjadi setelah serangan Israel-AS di Tehran. Jika partikel beracun dari hujan dan asap ini terhirup atau terpapar terus-menerus dalam waktu lama, kondisi ini bisa membahayakan kesehatan manusia dan berdampak jangka panjang bagi lingkungan.

Diketahui, badan kesehatan dunia itu memiliki kantor di Iran dan bekerja sama dengan pihak berwenang dalam situasi darurat kesehatan, mengatakan telah menerima beberapa laporan mengenai hujan hitam yang mengandung partikel minyak sepanjang pekan ini.

"Hujan hitam dan disertai hujan asam, yang melanda Teheran, menimbulkan ancaman serius bagi penduduk kota, terutama bagi sistem pernapasan," kata Juru Bicara WHO Christian Lindmeier dilansir dari Reuters.

Ia menambahkan bahwa serangan tersebut menyebabkan pelepasan besar-besaran hidrokarbon beracun, oksida belerang, dan senyawa nitrogen ke udara.

Para ilmuwan menjelaskan bahwa menghirup atau bersentuhan dengan asap dan partikel tersebut bisa menimbulkan sakit kepala, iritasi pada kulit dan mata, serta kesulitan bernapas. Paparan jangka panjang terhadap beberapa senyawa beracun ini juga berpotensi meningkatkan risiko munculnya beberapa jenis kanker.

"Menghirup asap dari kebakaran juga dapat memicu kesulitan bernapas, hingga serangan jantung atau stroke pada orang yang memiliki gangguan pernapasan atau peredaran darah sebelumnya," ujar Hui Chen, ahli klinisi-neurosaintis terkemuka di University of Technology Sydney (UTS), dikutip dari ABC News.

Jika hujan hitam masuk ke pasokan sistem air dan dikonsumsi, hal itu dapat menimbulkan gejala pencernaan seperti sakit perut, mulas, atau diare, tergantung pada jumlah dan komposisi kimianya.

Selain itu, yang menjadi perhatian utama, bila nitrogen dan sulfur dioksida membentuk hujan asam, hujan tersebut bisa mengiritasi mata dan tenggorokan, seperti dilaporkan oleh New Scientist.

Namun, risiko utama tetap berasal dari asap dan partikel halus yang terhirup, karena partikel-partikel ini dapat menembus jauh ke dalam paru-paru dan bahkan masuk ke aliran darah.

"Jika tetesan hujan mengenai kulit, memang ada beberapa senyawa berpotensi karsinogenik (bersifat menyebabkan penyakit kanker), tetapi bisa dicuci," kata profesor epidemiologi lingkungan University of Leicester Anna Hansell.

"Jika masuk ke hidung dan mulut, senyawa ini mungkin bertahan lebih lama, namun partikel asap yang sangat halus dapat menembus jauh ke paru-paru dan bahkan masuk ke aliran darah," pungkas Hansell.




(nwk/nwk)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads