Konflik antara Israel, Amerika Serikat (AS), dan Iran tidak hanya berdampak kepada masyarakat sipil. Makhluk hidup lainnya seperti hewan pun turut merasakan imbasnya, contohnya makhluk-makhluk yang bermigrasi ini.
Sebagian ahli menilai konflik ini dapat memengaruhi jutaan burung yang melintasi kawasan Teluk setiap tahun di sepanjang jalur migrasi utama.
Teluk Arab terletak di sepanjang jalur migrasi utama yang menghubungkan Eropa, Asia Tengah, Afrika, dan Asia Selatan. Lahan basah dan habitat pesisir di wilayah tersebut berfungsi sebagai tempat istirahat dan mencari makan bagi burung-burung yang melakukan perjalanan antarbenua.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Para ahli mengatakan kepulan asap, polusi, dan ledakan berulang yang terkait dengan perang AS-Israel-Iran dapat mengganggu ekosistem dan mengganggu burung-burung di sepanjang jalur migrasi ini.
"Konflik militer jarang hanya memengaruhi manusia," kata ahli satwa liar dan penulis buku Dr Reza Khan kepada Khaleej Times, dikutip Selasa (17/3/2026).
"Ledakan, kebakaran fasilitas minyak dan gas, dan asap yang berterbangan dapat memberikan tekanan berat pada satwa liar dan ekosistem," jelasnya.
Berkaca pada Perang Teluk 1991
Kerugian bagi satwa liar dinilai terbukti. Salah satunya diungkap melalui studi yang dilakukan setelah Perang Teluk pada 1991.
Dalam konflik tersebut diperkirakan antara 20.000 dan 30.000 burung laut mati di Teluk Arab setelah tumpahan minyak besar-besaran mencemari habitat pesisir.
Di beberapa daerah, tingkat kematian populasi burung laut tertentu diperkirakan mencapai 22-50 persen, terutama spesies seperti kormoran dan grebe.
Perang tersebut juga menyebabkan ratusan sumur minyak di Kuwait terbakar, menghasilkan awan asap yang begitu besar sehingga terlihat dari luar angkasa dan menggelapkan langit di seluruh wilayah selama berbulan-bulan.
"Asap ini mengandung jelaga, senyawa sulfur, dan gas beracun yang dapat menyebabkan stres pernapasan dan keracunan pada burung," kata Khan.
Polusi asap juga dapat mengganggu aktivitas serangga yang merupakan sumber makanan utama bagi banyak spesies burung.
Teluk Arab terletak di sepanjang jalur migrasi utama yang menghubungkan Eropa, Asia Tengah, Afrika, dan Asia Selatan. Burung-burung mulai dari flamingo dan bangau hingga burung perairan dan burung laut bergantung pada lahan basah, dataran lumpur, dan hutan bakau di sepanjang garis pantai Teluk sebagai titik persinggahan penting selama perjalanan panjang mereka.
"Gangguan lingkungan apa pun di sini dapat memengaruhi populasi burung di beberapa benua," sebut Khan.
Bahkan gangguan sementara dapat mengurangi peluang mencari makan. Gangguan lingkungan akibat perang juga dapat memaksa burung untuk mengubah rute migrasi yang telah mereka ikuti selama beberapa generasi. Ledakan, aktivitas pesawat terbang, dan kebakaran dapat membuat burung ketakutan dan memaksa mereka untuk meninggalkan area makan atau berkembang biak.
Suara keras yang tiba-tiba dapat memicu burung melakukan penerbangan panik. Ini menyebabkan burung menghabiskan cadangan energi yang dibutuhkan untuk migrasi.
Menurut Khan, gangguan berulang juga dapat menyebabkan burung meninggalkan koloni bersarang sama sekali. Belum lagi, burung yang terbang di malam hari bisa mengalami kebingungan karena api dari fasilitas industri yang terbakar.
Pengamat UEA: Terlalu Dini untuk Buat Kesimpulan
Namun, pengamat burung di Uni Emirat Arab mengatakan masih terlalu dini untuk menentukan apakah konflik saat ini memengaruhi kehidupan burung di wilayah tersebut.
Pengamat burung UEA, Khalifa Al Dhaheri, mengatakan situasi saat ini masih jauh dari skala kerusakan lingkungan yang terlihat selama Perang Teluk 1991. Menurutnya saat ini situasinya belum sebesar itu.
"Segalanya ditangani dengan sangat efektif di seluruh wilayah," kata Al Dhaheri kepada Khaleej Times.
Ia mengatakan konflik tersebut baru berlangsung singkat dan belum ada bukti jelas tentang gangguan signifikan terhadap migrasi burung. Ketika ia menjelaskan hal ini, perang baru berjalan sekitar 12 hari. Karena itu, menurutnya terlalu dini untuk mengambil kesimpulan.
Sisa minyak dan polutan lainnya dapat bertahan di sedimen dan habitat pesisir lama setelah pertempuran berakhir, memengaruhi kehidupan laut, juga rantai makanan yang bergantung pada burung. Kerusakan pada kapal atau infrastruktur lepas pantai juga dapat melepaskan kontaminan ke perairan. Hal ini berpotensi memengaruhi burung laut dan ekosistem pesisir.
Banyak burung migran bergantung pada lahan basah kawasan Teluk sebagai tempat istirahat dan mencari makan selama perjalanan panjang mereka.
"Burung-burung ini mungkin berkembang biak ribuan kilometer jauhnya," terang Khan.
"Jadi, gangguan di sini dapat memengaruhi populasi burung di benua lain," lanjutnya.










































