Hewan Besar Ini Ternyata Jalannya Jinjit, Kok Bisa?

Hewan Besar Ini Ternyata Jalannya Jinjit, Kok Bisa?

Callan Rahmadyvi Triyunanto - detikEdu
Jumat, 13 Mar 2026 05:00 WIB
Kaki gajah
Foto: Sophie Regnault melalui Wellcome Collection/Kaki gajah
Jakarta -

Pernahkah detikers melihat hewan jalan berjinjit? Ternyata ada spesies hewan besar yang secara anatomi memiliki bentuk seperti sedang berjinjit.

Hewan yang dimaksud yaitu gajah. Mereka memiliki semacam jari keenam sebagai tambahan di kaki mereka. Jari tersebut berupa tulang yang membesar, terletak di dalam bantalan lunak kedua kaki depan dan belakang.

Struktur ini kemudian dianalisis melalui data milik Profesor Biomekanika Evolusi, John Hutchinson. Pada 2011, Hutchinson dan rekan-rekannya mendeskripsikan fitur mengejutkan dari kaki gajah yang telah diabaikan selama ratusan tahun.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

'Jari' Tambahan yang Dimiliki Gajah

Kalau dilihat sekilas, kaki gajah modern memiliki bantalan tebal dan elastis di bawah tumit yang berfungsi seperti sepatu hak tinggi alami dan terlihat jelas melalui pemindaian CT. Kaki gajah purba dulunya menapak rata, tapi kaki gajah modern tampak seolah berjinjit karena bantalan ini.

Solusi evolusioner ini memungkinkan gajah untuk menopang tubuh mereka yang besar sambil meminimalkan tekanan yang merusak saat mereka berjalan. Kesehatan kaki sangat penting bagi gajah, tidak hanya untuk pergerakan tetapi juga untuk komunikasi.

ADVERTISEMENT

Hewan-hewan ini menggunakan getaran frekuensi rendah yang dikenal sebagai infrasonik, yang dapat menempuh jarak jauh dan sebagian terdeteksi melalui kaki mereka.

Perubahan Anatomi Kaki Gajah dari Zaman Purba

Adaptasi membuat kaki gajah berevolusi dari bentuk kerabat purba ke kaki gajah modern. Perubahan ini terjadi ketika gajah purba berevolusi menuju kaki gajah modern dengan berat lebih dari 2000 kg pada zaman Eosen. Saat itu, mereka mulai menempati berbagai habitat darat.

"Perubahan ini terjadi ketika gajah purba mencapai gigantisme dengan massa tubuh lebih dari 2000 kg atau tinggi bahu lebih dari 2 meter pada zaman Eosen sekitar 40 juta tahun yang lalu dan mulai menempati berbagai habitat darat yang lebih luas," tulis Hutchinson dan rekan-rekannya dalam studi mereka, dikutip dari Live Science.

"Mereka menjadi kurang bergantung pada lingkungan air di jalur evolusi yang menghubungkan Deinotheriinae dan Elephantiformes," imbuhnya.

Menurut Hutchinson, kemungkinan ada hubungan antara meningkatnya kebutuhan untuk menahan dan memindahkan beban yang lebih besar di darat dengan tulang jari kaki yang lebih tegak. Tambahan 'jari' serta bantalan lemak bisa mengalihkan sebagian beban dari jari kaki.

"Kombinasi ini menghasilkan kompromi unik yang masih terlihat pada kaki gajah yang hidup saat ini," tuturnya.

Penulis adalah peserta magangHub Kemnaker di detikcom.




(faz/faz)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads