Belalai gajah kerap disebut sebagai keajaiban evolusi. Meski tampak lunak, bagian tubuh ini berperan aktif dan cekatan. Namun, tahukah detikers di belalai gajah, terdapat kumis?
Selama ini, belalai gajah berperan penting dalam kehidupan sehari-hari. Mulai dari menyemburkan air, mengambil makanan, hingga untuk berkomunikasi.
Selain itu, ternyata belalai gajah memiliki seribu helai rambut halus yang berfungsi sebagai kumis. Letaknya berada di dalam ujung belalai, kumis membantu gajah mengenali benda di sekitarnya, karena keterbatasan indera penglihatan dan kulitnya yang sangat tebal.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Seperti Apa Bentuk Kumis Gajah?
Dalam studi terbaru yang dimuat di jurnal Science pada 12 Februari 2026, peneliti menemukan kumis pada gajah memiliki bentuk mirip dengan kumis kucing. Para ilmuwan juga berpendapat bahwa desain kumis gajah ini terbilang cerdas.
Penelitian tersebut dilakukan oleh tim peneliti gabungan dari Institut Max Planck untuk Sistem Cerdas, ahli saraf dari Universitas Humboldt Berlin, dan ilmuwan material di Universitas Stuttgart di Jerman.
Tim peneliti mengungkapkan bentuk kumis gajah (secara geometri), jumlah pori-pori (porositas), serta tingkat kelunakan organ tersebut (sifat materialnya). Pengamatan awal menunjukkan, bahwa kumis gajah mirip dengan kumis tikus dan mencit yang meruncing. Bentuknya melingkar, padat dan memiliki tingkat kekakuan yang merata.
Namun, setelah melakukan pemindaian dengan mikro-CT untuk mengukur dalam bentuk tiga dimensi (3D), kumis gajah ternyata lebih mirip dengan kumis kucing domestik. Bentuknya lebih tebal, memiliki rongga pada dasarnya, serta beberapa saluran internal memanjang yang menyerupai struktur tanduk domba dan kuku kuda.
Pori-pori pada kumis gajah secara tidak langsung mengurangi massanya, sehingga kumis di di dalam belalai itu tahan terhadap benturan.
"Ini adalah bentuk perlindungan alami pada kumis gajah, karena kumis tersebut bersifat permanen atau tidak dapat tumbuh lagi," kata para peneliti, dikutip dari Popular Science.
Fitur Kumis Gajah yang 'Canggih'
Kumis pada belalai gajah memiliki gradien fungsional, yaitu transisi dari kaku ke lunak. Hal ini disebabkan oleh pangkal kumis yang kaku dan ujungnya yang lunak seperti karet, dan seluruhnya tidak bekerja secara bersamaan.
Fungsi itulah yang menjaga kumis gajah tidak mudah rusak, dan memudahkannya untuk mengetahui benda yang menyentuh belalainya. Bahkan, fungsi gradien ini yang membantu gajah mampu mengambil keripik tortilla yang tipis itu secara utuh.
Para peneliti juga menemukan perbedaan pada rambut di dalam belalai gajah, dengan rambut yang tumbuh menutupi tubuh bagian luarnya.
"Rambut di kepala, badan, dan ekor gajah Asia kaku dari pangkal hingga ujung, yang sesuai dengan dugaan kami ketika menemukan gradien kekakuan yang mengejutkan pada kumis belalai gajah," ujar Andrew K Schulz , salah satu penulis studi dan peneliti pascadoktoral di Max Planck Institute for Intelligent Systems.
Fleksibilitas kekakuan kumis gajah juga diuji oleh ilmuwan. Hasilnya, pola kekakuan pada bagian kumis memberikan peta yang memungkinkan gajah mendeteksi di mana kontak terjadi di sepanjang setiap kumisnya.
"Sifat ini membantu mereka mengetahui seberapa dekat atau seberapa jauh belalai mereka dari suatu objek. Semuanya terintegrasi dalam geometri, porositas, dan kekakuan kumis. Para insinyur menyebut fenomena alam ini sebagai kecerdasan yang terwujud," tutur Schulz.
Tim peneliti berharap, kecerdasan kumis gajah ini dapat diaplikasikan ke dalam teknologi robotika, dan sistem kecerdasan lainnya.
Penulis adalah peserta magangHub Kemnaker di detikcom.
(sls/faz)











































