Mantan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbudristek) Nadiem Makarim mengakui pernah membuat grup WhatsApp (WA) sebelum resmi menjabat sebagai menteri. Namun, ia menegaskan grup tersebut bukan bernama "Mas Menteri Core Team" seperti yang sempat disebutkan dalam persidangan.
Hal itu disampaikan Nadiem saat memberikan kesaksian sebagai saksi mahkota dalam sidang kasus dugaan korupsi pengadaan Chromebook dan Chrome Device Management (CDM) di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta Pusat, Selasa (10/3/2026) seperti dikutip dari detiknews.
Dalam perkara tersebut, tiga orang menjadi terdakwa, yakni Mulyatsyah yang menjabat Direktur SMP Kemendikbudristek pada 2020, Sri Wahyuningsih selaku Direktur Sekolah Dasar di Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah periode 2020-2021, serta Ibrahim Arief alias Ibam yang berperan sebagai tenaga konsultan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Saat persidangan, jaksa sempat menanyakan apakah Nadiem pernah membentuk grup WhatsApp bernama "Mas Menteri Core Team" pada Agustus 2019, sebelum ia dilantik sebagai menteri. Nadiem membantah hal tersebut. Ia menjelaskan grup yang dibuat kala itu bernama "Edu Org". Menurutnya, nama grup tersebut baru berubah setelah ia resmi menjabat sebagai Mendikbudristek.
"Pada bulan Agustus 2019 sebelum Saudara menjabat sebagai menteri, Saudara ada membentuk grup WhatsApp dengan nama Mas Menteri Core Team?" tanya jaksa.
"Tidak benar," jawab Nadiem.
"Atau Saudara ikut di dalam grup tersebut?" tanya jaksa.
"Tidak benar. Saya yang membuat grup, tapi namanya itu Edu Org," jawab Nadiem.
Nadiem mengungkapkan, pembentukan grup Edu Org bermula ketika ia menerima sebuah bocoran informasi sekitar bulan Agustus 2019 bahwa dirinya berpeluang ditunjuk sebagai menteri pendidikan.
Karena tidak memiliki latar belakang di bidang pendidikan, ia merasa perlu mengumpulkan sejumlah orang dengan berbagai keahlian untuk berdiskusi dan mempersiapkan kemungkinan tersebut.
"Grup ini (Edu Org) dibentuk di sekitar bulan Agustus atau apa, pada saat saya pertama menerima bocoran bahwa saya mungkin akan diangkat menjadi Menteri Pendidikan. Ya. Jadi saya membuat grup itu karena saya tidak punya latar belakang pendidikan," ujar Nadiem.
Ia menambahkan pengalamannya lebih banyak berada di sektor swasta, khususnya teknologi dan bisnis. Meski demikian, ia mengaku memiliki minat besar terhadap dunia pendidikan.
Grup tersebut, lanjut Nadiem, dibuat sebagai langkah persiapan apabila dirinya benar-benar dipercaya memimpin Kementerian Pendidikan. Ia lantas mengajak sejumlah individu yang dinilai memiliki kompetensi di bidangnya masing-masing dan berpotensi terlibat dalam upaya transformasi pendidikan. Setelah resmi dilantik sebagai menteri, nama grup itu kemudian diubah menjadi "Mas Menteri Core Team".
"Jadi yang saya lakukan adalah untuk preparasi kalau benar itu kejadian akan terjadi, saya membuat grup ini dengan memprioritaskan orang-orang di berbagai ekspertis mereka sendiri yang punya kemungkinan besar punya motivasi untuk bergabung dalam tim dalam melakukan transformasi pendidikan. Itu adalah konteks daripada pembuatan grup Edu Org ini yang tadi setelah itu saat saya menjadi menteri berubah namanya menjadi 'Mas Menteri Core Team'," ujar Nadiem.
(pal/pal)











































