Riset: Makin Tinggi Pendidikan Orang, Makin Besar Kemungkinan Pergi dari Daerahnya

ADVERTISEMENT

Riset: Makin Tinggi Pendidikan Orang, Makin Besar Kemungkinan Pergi dari Daerahnya

Siti Nur Salsabilah - detikEdu
Selasa, 10 Mar 2026 19:30 WIB
Penumpang pesawat tiba di terminal kedatangan Bandara Internasional Minangkabau (BIM) di Padang Pariaman, Sumatera Barat, Sabtu (15/3/2025). Sejumlah perantau memilih mudik lebih awal untuk menghindari terjadinya kepadatan penumpang saat puncak arus
Foto: ANTARA FOTO/Iggoy el Fitra/Ilustrasi bermigrasi
Jakarta -

Benarkah semakin tinggi pendidikan, semakin mudah seseorang untuk memutuskan pindah ke luar kota atau luar negeri? Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melalui Pusat Riset Kependudukan menemukan, 40 persen pemuda di Indonesia pernah bermigrasi setidaknya sekali seumur hidup.

Studi terbaru menjelaskan bahwa pendidikan memengaruhi pola intensitas migrasi pada usia 15 hingga 34 tahun. Peneliti Pusat Riset Kependudukan, Meirina Ayumi Malamassam, menggunakan data longitudinal Indonesian Family Life Survey (IFLS) gelombang 1-5 tahun 2025.

Pendekatan tersebut berusaha menganalisis riwayat perpindahan individu berdasarkan life-course approach. Cara untuk mengukur seberapa besar migrasi yang berkaitan dengan pergantian pekerjaan, pendidikan, hingga pembentukan keluarga.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Hasilnya, rata-rata pemuda di Indonesia mengalami 0,86 migrasi antar kabupaten/kota. Dari kelompok migran tersebut, perpindahan dapat dilakukan bahkan lebih dari sekali dengan rata-rata 2,14 kali bermigrasi.

ADVERTISEMENT

Migrasi Didominasi Orang dengan Pendidikan Lebih Tinggi

Para peneliti menemukan, ada educational gradient yang konsisten pada trajektori migrasi. Ini artinya, orang dengan pendidikan tinggi lebih sering berpindah-pindah wilayah dibanding mereka yang berpendidikan rendah. Bahkan mayoritas kelompok pendidikan dasar, hampir tidak pernah melakukan migrasi.

"Menariknya, kelompok berpendidikan rendah cenderung memulai migrasi pertama pada usia sedikit lebih muda, sedangkan kelompok berpendidikan tinggi menunjukkan kecenderungan mobilitas lanjutan yang lebih kuat pada fase berikutnya," ujar Ayumi, dikutip dari BRIN, Selasa (10/3/2026).

Meski demikian, orang berpendidikan tinggi biasanya memutuskan untuk menetap di wilayah baru pada usia 34 tahun. Sebaliknya, orang dengan pendidikan rendah diketahui lebih awal memulai migrasinya. Hal ini menunjukkan adanya positive education selectivity dalam pola onward migration.

Dalam pola migrasi berkelanjutan menunjukkan rentang waktu yang relatif singkat sekitar 1-3 tahun. Ini jelas menunjukkan bahwa generasi muda Indonesia memiliki tingkat mobilitas yang cukup tinggi.

"Temuan ini memperlihatkan bahwa pendidikan berperan penting dalam membentuk trajektori migrasi. Perbedaan tingkat pendidikan berkaitan dengan peluang, waktu transisi kehidupan, serta arah mobilitas antarwilayah," tutur Ayumi.

Penelitian ini menjelaskan bahwa pendidikan besar pengaruh pendidikan terhadap mobilitas individu. Selain itu, hasil riset ini juga memperkuat pemahaman terkait transformasi sosial dan mobilitas generasi muda di Indonesia.

Penulis adalah peserta magangHub Kemnaker di detikcom.



(sls/faz)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads