Perang Israel-AS Vs Iran Memanas, Pakar Perkirakan Dampak Global-Inflasi

ADVERTISEMENT

Perang Israel-AS Vs Iran Memanas, Pakar Perkirakan Dampak Global-Inflasi

Cicin Yulianti - detikEdu
Senin, 02 Mar 2026 11:30 WIB
Aksi demonstrasi merespons serangan AS dan Israel di tembok luar konsulat AS di Karachi, Pakistan, Minggu (1/3/2026). (REUTERS/Mohsin Raza)
Konflik Iran-AS. Foto: (REUTERS/Mohsin Raza)
Jakarta -

Konflik antara Israel-Amerika Serikat dan Iran masih berlangsung hingga kini. Serangan udara dan rudal dari Israel masih memasuki kawasan Iran pada 28 Februari 2026 kemarin.

Serangan telah menyebabkan kerusakan bangunan hingga ratusan warga Iran tewas. Tak hanya memicu kecemasan bagi masyarakat di sekitar negara-negara tersebut, tetapi juga masyarakat global.

Penutupan Selat Hormuz di Iran pun menjadi ancaman bagi ekonomi global. Pasalnya, di sanalah jalur keluar masuk distribusi minyak dari kawasan Timur Tengah. Pakar ekonomi sekaligus Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Mohammad Nur Rianto Al Arif buka suara.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ia menyoroti dampak konflik ini terhadap pasar keuangan, inflasi global, rantai pasok, hingga kondisi perekonomian dunia.

ADVERTISEMENT

Stabilitas Energi Global Goyah

DI tengah ketegangan ini, Iran memutuskan untuk menutup jalur Selat Hormuz. Padahal, jalur ini menjadi arteri utama perdagangan minyak dunia.

Konflik antara tiga negara ini secara tidak langsung akan mengganggu stabilitas sistem energi global. Efeknya, harga minyak dunia akan naik.

"Kondisi inilah yang disebut sebagai risiko premium geopolitik yaitu premi harga yang dibayar dunia karena ketidakpastian," kata Nur Rianto dikutip dari laman UIN Jakarta, Senin (2/3/2026).

Menurut Nur Rianto, jika harga minyak naik, maka harga produksi pun ikut naik. Akan banyak perusahaan yang menghadapi masa sulit akibat kenaikan biaya ini.

"Dalam banyak kasus, sebagian besar biaya tersebut diteruskan dalam bentuk kenaikan harga barang dan jasa. Maka, lahirlah tekanan inflasi. Inflasi energi bersifat regresif karena lebih membebani kelompok berpendapatan rendah karena proporsi pengeluaran mereka untuk kebutuhan pokok dan transportasi lebih besar," jelasnya.

Negara Berkembang Semakin Terhimpit

Negara maju bisa merasakan dampak konflik ini terlebih negara berkembang. Pada negara berkembang, dampak yang bisa timbul antara lain defisit necara perdagangan, nilai tukar tertekan, hingga subsidi energi membengkak.

"Bagi banyak negara berkembang, konflik ini menghadirkan tantangan ganda. Di satu sisi, mereka menghadapi tekanan inflasi dan nilai tukar akibat kenaikan harga energi dan arus modal keluar. Di sisi lain, ruang fiskal mereka sering kali terbatas untuk memberikan subsidi atau stimulus ekonomi," katanya.

Tak hanya itu, kesenjangan antara negara maju dan berkembang akan semakin lebar. Utamanya bagi negara berkembang, akan semakin rentan terhadap guncangan eksternal.

Potensi Naiknya Inflasi

Nur Rianto membeberkan, ada lebih banyak lagi dampak yang bisa terjadi jika perang Iran, Amerika Serikat, dan Israel ini belum juga berhenti. Salah satunya kondisi dilematis bank sentral karena harus menurunkan inflasi.
Sembunyikan kutipan teks

Selain itu, bank sentral juga harus membuat pengetatan kebijakan moneter. Jika bank sentral memilih kenaikan suku bunga untuk meredam inflasi energi, maka biaya kredit akan meningkat.

Hal itu akan membuat perlambatan ekonomi lebih nyata. Inflasi akan menganggu stabilitas ekonomi dalam jangka panjang.

Artinya, pasar keuangan global semakin mengalami ketidakpastian. Para investor akan beralih memilih aset yang lebih aman seperti emas dan obligasi.

"Penguatan dolar AS dalam situasi seperti ini sering kali menjadi pedang bermata dua. Bagi Amerika Serikat, ia mencerminkan kepercayaan terhadap asetnya. Namun bagi negara berkembang yang memiliki utang dalam denominasi dolar, penguatan dolar berarti beban pembayaran utang meningkat," bebernya.

Terganggunya Pasokan Logistik Global

Penutupan ruang udara akan menyebabkan terganggunya pasokan logistik global. Kendala ini juga akan semakin parah jika jalur laut ikut ditutup.

"Dalam ekonomi global modern, waktu adalah biaya. Keterlambatan pengiriman komponen industri dapat mengganggu produksi di negara lain. Model produksi yang harus tepat waktu sangat mengandalkan efisiensi dan minim stok sangat rentan terhadap gangguan logistik," kata dosen UIN Jakarta tersebut.




(cyu/twu)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads