Sejarah Islam di Indonesia tentu tidak lepas dari Wali Songo. Menariknya, sejumlah istilah kebahasaan yang kita tahu saat ini ternyata berasal dari bahasa Arab yang dilokalkan para wali.
Pelokalan tersebut dilakukan Wali Songo dengan mengadopsi dari Istilah-istilah Kapitayan dan Hindu-Buddha. Praktik ini rupanya bertujuan agar sejumlah istilah terdengar lebih akrab di telinga masyarakat Jawa.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Istilah-istilah Lokal yang Diciptakan Wali Songo
Lembaga pendidikan Syiwa-Buddha saat itu disebut dukuh, sementara lembaga pendidikan Kapitayan disebut padepokan. Keduanya dikembangkan oleh Sunan Ampel dan Wali Songo lainnya menjadi lembaga pendidikan Islam. Hal tersebut dijelaskan dalam buku Sejarah Lengkap Islam Jawa karya Husnul Hakim.
Sunan Ampel sendiri mengubah istilah susuhunan menjadi sunan. Istilah sashtri, dan istilah cantrik juga diubah menjadi santri. Kemudian, istilah dukuh dan padepokan diubah menjadi pesantrian, yang di lidah orang Jawa menjadi pesantren.
Beberapa istilah lain yang dibuat agar akrab dengan masyarakat kala itu adalah:
- Susuhunan untuk menggantikan kata asy-syekh
- Kiai untuk menggantikan kata al-'alim
- Guru untuk menggantikan kata al-ustaz
- Pesantren untuk menyebut ma'had
- Santri untuk menyebut murid atau salik
- Sembahyang untuk menggantikan istilah shalat
- Puasa untuk menggantikan istilah ash-shaum
- Sunat untuk menggantikan istilah khitan
- Langgar untuk menggantikan istilah mushalla
- Swarga untuk menggantikan istilah jannah
- Neraka untuk menggantikan istilah nar al-jahannam
- Bidadari untuk menggantikan istilah hur.
Wali Songo juga menyerap kata-kata dalam bahasa Arab ke bahasa lokal sekaligus mempertahankan istilah lokal, tetapi dengan pemaknaan baru. Beberapa kata tersebut di antaranya:
- Sabar untuk mengakrabkan istilah shabr
- Ikhlas untuk mengakrabkan istilah ikhlas
- Adil untuk mengakrabkan istilah 'adil
- Lila untuk mengakrabkan istilah ridha
- Andap asor untuk mengakrabkan istilah tawadhu'
- Guyub rukun untuk mengakrabkan istilah ukhuwah
- Sederhana untuk mengakrabkan istilah wara'
- Nerima untuk mengakrabkan istilah qanaah
- Eling untuk mengakrabkan istilah dzikir
- Pasrah untuk mengakrabkan istilah lillah.
Pengaruh dari Bahasa Lain
Istilah-istilah dari bahasa lain juga ada yang berpengaruh dalam proses Islamisasi di Nusantara. Dikutip dari buku Tanya Jawab Seputar Atlas Wali Songo karya KH Agus Sunyoto, berikut istilah-istilah yang dipengaruhi dari bahasa Persia dan India yang cukup terkenal:
- Kenduri (kanduri)
- Istana (astana)
- Bandar (pelabuhan).
Bagaimana detikers, ada istilah lainnya yang kalian tahu, mirip dengan yang ada di bahasa lain?
