Ada Tradisi Munggahan Jelang Ramadan, Sosiolog IPB Ungkap Maknanya

ADVERTISEMENT

Ada Tradisi Munggahan Jelang Ramadan, Sosiolog IPB Ungkap Maknanya

Siti Nur Salsabilah - detikEdu
Jumat, 13 Feb 2026 16:30 WIB
Warga Pandeglang menggelar munggahan menyambut bulan suci Ramadan. Foto: Dok. Istimewa.
Foto: Warga Pandeglang menggelar munggahan menyambut bulan suci Ramadan. Foto: Dok. Istimewa.
Jakarta -

Beberapa daerah di Indonesia memiliki tradisi tersendiri dalam menyambut bulan suci Ramadan. Salah satunya tradisi 'munggahan' yang ada di Jawa Barat.

Mengutip detikJabar, munggahan berasal dari kata 'unggah' yang berarti naik dari suatu tempat yang rendah ke tempat lebih tinggi. Secara umum, tradisi munggahan kemudian diartikan sebagai 'unggah' dari bulan Syaban (Ruwah) ke Ramadan.

Sosiolog sekaligus Kepala Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan (PSP3) IPB University, Dr Ivanovich Agusta, mengatakan bahwa munggahan bukan sekadar tradisi turun temurun. Secara sosial, itu menjadi penanda kolektif tentang kapan harus memperbaiki diri dan berkomitmen secara moral (menuju bulan puasa).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Dari perspektif sosiologi, munggahan sebagai ritus sosial yang menandai peralihan menuju fase religius yang lebih intens. Tradisi ini berfungsi sebagai penanda waktu sosial (social marker) yang membantu masyarakat menyusun ritme kolektif: kapan memperbaiki diri, memulai disiplin ibadah, serta menguatkan komitmen moral bersama," jelasnya, dikutip dari laman IPB, Jumat (13/2/2026).

Ia menilai munggahan merupakan strategi sosial yang bisa memperkuat solidaritas, memperbarui relasi, dan menjaga identitas budaya masyarakat. Tak hanya itu, munggah juga dinilai bisa menjadi momen untuk saling memaafkan, memperbaiki relasi yang renggang, dan memulihkan harmoni dalam komunitas.

ADVERTISEMENT

Berikut ini beberapa kegiatan yang dilakukan dalam munggahan, dilansir detikJabar.

Contoh Kegiatan dalam Tradisi Munggahan

1. Makan Bersama

Ketika munggahan, masyarakat biasanya memasak nasi liwet dengan berbagai lauk dan lalapan. Kemudian disantap bersama-sama di atas alas daun pisang.

2. Mengunjungi Sanak Saudara

Jelang Ramadan, banyak masyarakat percaya setiap individu harus mempersiapkan diri. Salah satunya dengan saling memaafkan.

Ketika munggahan, banyak orang lebih sering memohon ampun kepada Allah SWT. Kemudian berkeliling mengunjungi sanak saudara untuk bermaafan dan bersilaturahmi.

3. Berziarah ke Makam Orang Tua

Di beberapa daerah, ziarah ke makam orang tua menjadi pengingat kematian sekaligus membersihkan makam serta berdoa. Lalu setelahnya, memasak makanan untuk disantap bersama-sama.

Mempererat Solidaritas Sosial-Mempertahankan Nilai Kebersamaan

Menurut Dr Ivanovich, munggahan dapat mempererat tali persaudaraan dan juga solidaritas antaranggota masyarakat. Sebab, banyak kegiatannya mengharuskan masyarakat bertatap muka seperti makan bersama dan bermaafan sehingga menumbuhkan rasa "ke-kita-an" (sense of belonging).

Dalam konteks keluarga, tradisi ini ternyata dinilai dapat menyediakan ruang untuk memperbaiki hubungan kakak-adik, orang tua, hingga saudara jauh yang terhalang oleh jarak dan kesibukan.

"Interaksi semacam ini mempertebal modal sosial, yaitu kepercayaan, jaringan pertolongan, dan norma timbal balik," tuturnya.

Di tengah dunia digital yang memecah individu menjadi kesibukan-kesibukan, munggahan bisa menjadi momen untuk memaknai kebersamaan. Tak hanya makan, nilai yang terkandung dalam munggahan juga sering kali tentang semangat gotong royong dan kebersamaan.

Namun tak bisa dipungkiri, sebagian daerah telah menggeser makna munggahan yang sederhana menjadi rutinitas seremonial.

"Di sebagian tempat, munggahan cenderung mengalami komodifikasi, menjadi ajang konsumsi, simbol status, atau sekadar rutinitas seremonial. Media sosial mendorong orientasi tampil, sehingga makna kebersamaan bergeser menjadi representasi citra," ungkap Dr Ivanovich.

Penting untuk Menjaga Orisinalitas Munggahan

Menurut Dr Ivanovich, penting untuk menjaga keotentikan dari tradisi munggahan ini karena kegiatan positif di dalamnya. Masyarakat disarankan untuk memprioritaskan tujuan utama dari tradisi itu seperti silaturahmi, berbagi, dan saling memaafkan.

"Untuk generasi muda, munggahan harus dipahami sebagai sarana meningkatkan kualitas hubungan antarmanusia, bukan sekadar pengulangan kegiatan. Adaptasi boleh dilakukan pada tempat atau format, tetapi prinsip kesederhanaan, kepedulian, dan kebersamaan harus tetap dijaga," pesannya.

Praktik ini inklusif karena melibatkan banyak anggota masyarakat seperti tetangga, kelompok rentan, hingga warga yang yang terasingkan. Sangat penting untuk menjaga status asli dari tradisi munggahan ini agar tidak berubah menjadi eksklusif.

Harapannya, tradisi munggahan tetap terus ada dan dilestarikan serta diperkenalkan ke anak cucu di masa depan. Tradisi yang selalu relevan, bermartabat, dan memperkuat solidaritas, kekeluargaan, dan sebagai identitas budaya.

Penulis adalah peserta magangHub Kemnaker di detikcom.



(sls/faz)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads