Gen Z Disebut Lebih Bodoh daripada Generasi Sebelumnya, Ini Alasannya

ADVERTISEMENT

Gen Z Disebut Lebih Bodoh daripada Generasi Sebelumnya, Ini Alasannya

Siti Nur Salsabilah - detikEdu
Jumat, 13 Feb 2026 08:00 WIB
9 Cara Mengatasi Kecanduan Gadget pada Anak, Remaja, dan Orang Dewasa
Foto: freepik/Freepik/Ilustrasi Gen Z dan Gadget
Jakarta -

Pakar neurosains pendidikan asal Amerika Serikat menyebut Generasi Z (Gen Z) yang lahir antara tahun 1997 hingga 2010 lebih bodoh daripada generasi sebelumnya. Hal ini terutama anggapan mereka merasa pintar padahal secara prestasi tidak demikian.

"Mereka adalah generasi pertama dalam sejarah modern yang mendapat nilai lebih rendah pada tes akademik standar dibandingkan generasi sebelumnya," kata Dr Jared Cooney Horvath, dikutip dari New York Post.

Ia mengatakan bahwa Gen Z memiliki nilai buruk pada hampir semua ukuran kognitif, mulai dari perhatian dasar, memori, kemampuan membaca dan menulis, kemampuan berhitung, fungsi eksekutif, dan IQ umum. Meski begitu, mereka tetap percaya diri tentang kepintaran mereka.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Dan yang lebih buruk lagi, sebagian besar anak muda ini terlalu percaya diri tentang betapa pintarnya mereka. Semakin pintar seseorang menganggap dirinya, semakin bodoh sebenarnya mereka," imbuhnya.

ADVERTISEMENT

Efek Paparan Layar

Dari mempelajari banyak data tes akademik standar, Horvath menyimpulkan bahwa anjloknya prestasi generasi Z karena mereka terlalu sering menatap layar. Meski tumbuh di era serba digital, kebiasaan tersebut tidak bisa menggantikan pembelajaran sebenarnya.

Sebagian besar anak muda menghabiskan waktu mereka untuk menatap layar. Sementara itu, secara biologis manusia diciptakan untuk belajar secara detail dari manusia lainnya, dan bukannya hanya menatap layar dengan poin ringkasan saja.

"Lebih dari separuh waktu seorang remaja terjaga, separuhnya dihabiskan untuk menatap layar," kata Horvath, yang telah mengajar di universitas-universitas di seluruh dunia, termasuk Harvard dan Universitas Melbourne di Australia.

Minim Baca Buku, Lebih Banyak Bermain Media Sosial

Horvath juga mengatakan, kondisi ini diperparah dengan banyaknya Gen Z yang menghabiskan waktu di luar sekolah bersama perangkat digital mereka seperti ponsel, laptop, ataupun pc.

Alih-alih membaca buku dan memahami maknanya, anak muda lebih memilih menghabiskan waktu mereka untuk berselancar di dunia maya dengan bermain aplikasi Tik Tok, berkirim snapchat, dan melihat konten kata-kata motivasi yang singkat.

"Belajar dari layar telah mengubah mereka menjadi pembaca yang hanya membaca sekilas, dan tanpa usaha yang sungguh-sungguh, bahkan pikiran yang cemerlang pun bisa menjadi tumpul," ujar Horvath.

Sebagai seorang pro-ketelitian, Horvath berharap sekolah dapat membatasi waktu menatap layar (screen time) di sekolah. Ia berharap agar para siswa kembali membaca buku dan begadang semalaman untuk persiapan ujian.

Ia juga menyampaikan kenyataan pahit, bahwa kemampuan kognitif generasi muda saat ini ternyata lebih rendah dibanding orang tuanya saat seusia mereka. Berdasarkan standarisasi dan pengukuran perkembangan kognitif pada akhir tahun 1800-an, menyatakan bahwa "Setiap generasi telah melampaui prestasi orang tua mereka, sampai Generasi Z."

Menurut Horvath, kondisi ini tidak hanya terjadi di AS, tetapi juga di puluhan negara lain. Begitu negara-negara mengadopsi teknologi digital secara luas di sekolah, kinerja akan menurun secara signifikan.

"Setiap kali teknologi masuk ke dunia pendidikan, pembelajaran akan menurun," tuturnya.

Penulis adalah peserta magangHub Kemnaker di detikcom.



(sls/faz)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads