Kasus Anak di NTT, Guru Besar Unair Tekankan Pentingnya Kesehatan Mental Anak

ADVERTISEMENT

Kasus Anak di NTT, Guru Besar Unair Tekankan Pentingnya Kesehatan Mental Anak

Siti Nur Salsabilah - detikEdu
Jumat, 06 Feb 2026 13:30 WIB
SD N 02 Kebonagung, Kabupaten Pekalongan, diberlakukan PJJ. Tampak bangku kelas kosong, Kamis (17/2/2022).
Ilustrasi. Foto: Robby Bernardi/detikJateng
Jakarta -

Siswa SD di NusaTenggara Timur (NTT) ditemukan meninggal dunia pada Kamis (29/1/2026). Ia diduga meninggal usai mengalami tekanan finansial yang dialami keluarga.

Dikutip dari detiknews, orang tua siswa tersebut tidak mampu membelikan pulpen dan buku tulis untuknya. Ia dan siswa lainnya juga sempat ditagih berkali-kali terkait uang SPP.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Alarm Pemantauan Kondisi Mental Anak

Kasus tersebut menjadi sorotan berbagai pihak, termasuk ahli sosial. Guru Besar Departemen Sosiologi FISIP Universitas Airlangga (Unair), Prof Dr Bagong Suyanto Drs MSi, mengungkapkan, kejadian ini merupakan peringatan agar masyarakat agar lebih memperhatikan kondisi psikologis anak-anak di lingkungan mereka.

Ia menambahkan, tekanan sosial lebih besar dirasakan oleh anak-anak di daerah terpencil lantaran layanan psikologis sulit didapatkan.

ADVERTISEMENT

"Anak-anak yang tinggal di daerah terpencil seringkali kurang mendapatkan perhatian penuh terhadap aspek psikologis mereka, terutama di lingkungan pedesaan. Juga kurangnya akses terhadap layanan psikologis membuat anak-anak merasa terisolasi dan tidak memiliki dukungan yang cukup," ujar Prof Bagong yang dikutip dari laman Unair, Jumat (6/2/2026).

Menurut Prof Bagong, peran dan dukungan keluarga serta lingkungan sekitar sangat penting untuk mengenali lebih awal masalah emosional dan psikologis yang dialami anak. Ia menekankan, kesehatan mental anak harus diutamakan untuk mencegah kejadian serupa terulang lagi.

Faktor Kesehatan Mental Anak

Berdasarkan keterangan orang terdekatnya, siswa NTT tersebut dikenal sebagai anak yang pendiam dan penurut. Anak bungsu dari 5 bersaudara ini tinggal bersama neneknya sejak usia 1 tahun di sebuah pondok bambu berukuran sekitar 2 x 3 meter.


Selain hidup terpisah dari ibu kandungnya, ia juga ditinggal ayahnya yang bekerja ke Kalimantan sejak 10 tahun lalu dan tidak pernah kembali lagi.

Menurut Bagong, kemiskinan dapat menjadi faktor terbesar yang berisiko bagi kondisi kesehatan mental pada anak-anak.

"Kondisi ekonomi yang sulit dapat menyebabkan stres dan kecemasan pada anak-anak, yang berimbas pada kesejahteraan mental mereka. Ketika orang tua kesulitan memenuhi kebutuhan dasar, anak-anak sering kali merasakan dampaknya. Dampak yang muncul baik secara langsung maupun tidak langsung," tutur Prof Bagong.

Perlu Tindakan Pemerintah

Menurut Prof Bagong, pemerintah perlu mengambil langkah nyata dengan mengembangkan pendekatan community support system. Pendekatan ini dilakukan oleh lembaga sosial regional yang mampu memberikan dukungan emosional dan psikologis bagi anak-anak di daerah terpencil.

"Lembaga sosial lokal harus lebih terlibat dalam memberikan perhatian terhadap kesehatan mental anak. Lembaga harus menciptakan jaringan dukungan yang bisa menjangkau setiap keluarga, terutama yang berada di daerah dengan keterbatasan akses layanan pendidikan," pungkasnya.



(sls/twu)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads