Viral Awan Kontainer, Dosen IPB Ungkap Asal-usul Hujan yang Bikin Gatal

ADVERTISEMENT

Viral Awan Kontainer, Dosen IPB Ungkap Asal-usul Hujan yang Bikin Gatal

Siti Nur Salsabilah - detikEdu
Kamis, 29 Jan 2026 14:30 WIB
Seorang ilmuwan penerbangan mendokumentasikan kondisi awan sebagai bahan laporan pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) menggunakan pesawat Cessna 208 Caravan PK-SNM BNPB di sekitar wilayah udara pesisir utara Kabupaten Pati, Jawa Tengah, Minggu (2/11/2025). Hingga hari kesembilan atau per Minggu (2/11) penerbangan kedua, BNPB bersama Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menghabiskan sebanyak 31 ton NaCl dan 14 ton CaO untuk OMC Jateng dalam rangka penanganan dan mitigasi bencana hidrometeorologi basah di wilayah Kota Semarang dan sekitarnya. ANTARA FOTO/Aji Styawan/rwa.
Ilustrasi awan. Foto: ANTARA FOTO/AJI STYAWAN
Jakarta -

Baru-baru ini, publik dihebohkan dengan konten viral di media sosial terkait air hujan yang meninggalkan bercak di kulit dan menimbulkan mata merah. Hujan ini juga disebut mengeluarkan busa ketika ditampung.

Spekulasi yang beredar di masyarakat menyebut fenomena tersebut dipicu oleh 'awan kontainer'. Awan ini juga dikaitkan dengan cuaca ekstrem belakangan di berbagai daerah.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pakar dari Departemen Geofisika dan Meteorologi IPB University, Sonni Setiawan, SSi, MSi, menepis asumsi tersebut. Ia menegaskan, istilah awan kontainer tidak dipelajari dalam ilmu meteorologi, melainkan hanya kesalahpahaman terhadap fenomena atmosfer.

Jika ditelusuri lebih jauh, istilah awan kontainer yang tersebar di media sosial adalah paham yang keliru tentang proses terjadinya hujan. Khususnya pada hal mendasar, yakni tahap awal presipitasi atau turunnya hujan.

ADVERTISEMENT

"Kesimpulan saya, ada kekeliruan dalam memahami proses presipitasi, terutama pada tahap pengintian atau pembentukan inti kondensasi (pengembunan)," ujar Sonni, dikutip dari laman IPB University pada Kamis (29/1/2026).

Asal Hujan yang Bikin Gatal

Menurut Sonni, timbulnya gatal-gatal, mata perih, dan air yang berbusa ketika ditampung, bukan hasil dari jenis awan tertentu. Ia menjelaskan, kondisi tersebut merupakan efek dari fenomena hujan asam.

"Hujan asam terjadi akibat gas-gas polutan di udara yang berperan sebagai inti kondensasi, kemudian larut dalam air hujan. Apalagi di wilayah dengan tingkat polusi udara tinggi, potensi terjadinya hujan asam memang lebih besar," jelasnya.

Istilah 'awan kontainer' yang dibuat pembuat konten menurutnya hanyalah opini pribadi yang dikaitkan dengan fenomena alam. Sonni juga menyebut pemberian istilah tersebut juga tidak memiliki dasar ilmiah apapun.

Benarkah Awan Bisa Tidak Bergerak?

Pernyataan tentang bentuk awan yang terlihat kaku, dan sedikit atau bahkan tidak bergerak, kemungkinan hasil dari pengamatan singkat yang sangat terbatas. Sonni menjelaskan, awan umumnya akan terus berubah dan bergerak secara alami mengikuti aktivitas atmosfer.

"Ketika awan disebut tidak bergerak atau tidak berubah bentuk, itu biasanya hanya berdasarkan pengamatan mata telanjang sesaat, padahal secara fisik awan terus mengalami perubahan," tutur Sonni.

Pakar IPB itu juga mengaitkannya dengan pesawat yang meninggalkan jejak putih di langit. Garis-garis lurus yang kerap tampak adalah hasil kondensasi pesawat atau contrail, dan bukannya bentuk awan.

"Itu adalah uap air hasil pembakaran bahan bakar pesawat. Ketika berada di lapisan udara yang dingin, uap air tersebut mendingin dan mengkondensasi, sehingga tampak sebagai garis lurus di langit," jelas Sonni.

Ia menegaskan, jejak putih yang seolah tidak bergerak tersebut hanya bersifat sementara. Setelah muncul dari pesawat yang terbang, jejak putih itu akan menghilang dan kembali menyebar beberapa menit setelahnya.

"Ini menunjukkan adanya kekeliruan pengamatan yang bisa memicu kesimpulan yang salah," tuturnya.

Terakhir, Sonni berpesan kepada segenap masyarakat untuk tidak percaya begitu saja dengan konten viral di media sosial tentang informasi cuaca. Ia juga mengimbau agar tidak memberi istilah apapun terhadap fenomena atmosfer yang tidak memiliki bukti ilmiah.



(sls/twu)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads