BMKG Tegaskan Modifikasi Cuaca Bukan Pemicu Cuaca Tidak Stabil!

ADVERTISEMENT

BMKG Tegaskan Modifikasi Cuaca Bukan Pemicu Cuaca Tidak Stabil!

Novia Aisyah - detikEdu
Kamis, 29 Jan 2026 09:30 WIB
BMKG Tegaskan Modifikasi Cuaca Bukan Pemicu Cuaca Tidak Stabil!
BMKG Modifikasi Cuaca. Foto: ANTARA FOTO/AJI STYAWAN
Jakarta -

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) membantah narasi yang beredar di media sosial. Narasi yang dimaksud mengatakan apabila operasi modifikasi cuaca (OMC) dilakukan secara terus-menerus, maka akan berisiko dan seperti bom waktu.

"Dalam narasi yang beredar, OMC memiliki risiko bencana lain seperti membuat kondisi cuaca tidak stabil serta membentuk cold pool (kolam dingin), memindahkan atau menumpuk air di wilayah tertentu sehingga membuat banjir besar, dan memberikan rasa aman yang palsu," jelas BMKG melalui keterangannya pada Rabu (28/1/2026).

Benarkan Cold Pool Efek Samping OMC?

BMKG memaparkan, cold pool atau kolam dingin adalah fenomena meteorologi yang sepenuhnya alami. Fenomena tersebut terjadi ketika air hujan menguap di bawah awan badai, mendinginkan udara, dan menciptakan massa udara padat yang jatuh ke permukaan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sejatinya setiap kali terjadi hujan secara alami tanpa ada campur tangan manusia, menurut BMKG, cold pool pasti terbentuk alami. Maka, mengaitkan fenomena ini sebagai efek samping berbahaya dari OMC merupakan suatu kekeliruan sains. Pasalnya OMC dengan teknik penyemaian awan (cold seeding) tidak menumbuhkan awan baru dan hanya bekerja pada awan yang sudah ada di alam.

ADVERTISEMENT

BMKG: OMC Bukan Pemicu Cuaca Tidak Stabil

BMKG menegaskan OMC bertujun murni untuk mitigasi bencana dan perlindungan masyarakat dengan menambah atau mengurangi curah hujan, dan bukan pemicu cuaca tidak stabil. Selain itu, apabila OMC berhasil mempercepat turunnya hujan, maka secara logis akan membentuk cold pool yang identik secara fisik ataupun kimiawi dengan cold pool dari hujan alami.

"Dari skala energi pun, tidak bisa dibenarkan. Ditinjau dari skala energi, teknologi manusia saat ini belum mampu menciptakan massa udara dingin dalam skala besar. Melalui modifikasi cuaca, manusia hanya memicu proses alami pada awan yang sudah jenuh (seperti yang dilakukan melalui modifikasi cuaca di Indonesia), alih-alih membangun sistem pendingin atmosfer raksasa," ungkap BMKG.

Pindahkan Hujan ke Tetangga Bikin Banjir?

BMKG turut menyinggung narasi yang menyebut memindahkan hujan ke wilayah tetangga kemudian berpotensi menyebabkan banjir. Menurut BMKG, ada dua metode utama yang diterapkan untuk melindungi wilayah strategis.

Pertama, metode tersebut adalah Jumping Process Method di mana tim OMC mendeteksi suplai awan dari laut (Laut Jawa/Samudra Hindia) menggunakan radar dan menyemainya sebelum mencapai daratan supaya hujan jatuh di perairan.

Kedua, Competition Method, yakni awan yang tumbuh langsung di atas daratan (in-situ), penyemaian dilakukan sedari dini untuk mengganggu pertumbuhan awan (tidak menghilangkan) agar tidak menjadi awan Cumulonimbus yang masif. Ini dilakukan untuk meluruhkan intensitas hujan, bukan memindahkan ke pemukiman lain.

Walau begitu, BMKG sepakat kemampuan lingkungan dalam merespons air hujan yang jatuh menjadi faktor penting terjadi atau tidak terjadinya banjir.

"Pun, fakta hilangnya sekitar 800 situ di Jabodetabek sejak 1930-an menjadi faktor utama kurangnya daerah resapan dan berpotensi menjadi pemicu banjir. Oleh karenanya, BMKG sepakat bahwa penataan lingkungan sebagai respons terhadap penanganan banjir menjadi hal paling utama yang harus dilakukan baik oleh pemerintah maupun masyarakat secara keseluruhan," kata pihak BMKG.

"Namun demikian, pada saat bersamaan secara paralel juga diperlukan upaya mengurangi curah hujan seperti OMC agar bisa diterima oleh kondisi lingkungan saat ini," tegasnya.

BMKG menyebut ke depannya penataan lingkungan harus terus dilakukan dan penguatan kapasitas modifikasi cuaca juga harus ditingkatkan. Sebab, tantangan perubahan iklim bukan isapan jempol dan potensi hujan ekstrem akan terus meningkat.




(nah/pal)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads