Dosen Departemen Geofisika dan Meteorologi IPB University, Sonni Setiawan, SSi, MSi, menyoroti adanya anomali pola hujan pada pada puncak musim hujan awal 2026. Anomali ini berdampak pada sejumlah bencana dan keluhan kesehatan yang dialami warga.
"Tingginya intensitas hujan di sejumlah wilayah Indonesia, khususnya Pulau Jawa, memang mengikuti monsun Asia, tetapi frekuensinya cukup intens. Ini yang kemudian berdampak pada banjir, penurunan suhu udara, angin kencang, hingga keluhan kesehatan," kata Sonni dalam keterangannya, dikutip dari laman IPB University, Selasa (27/1/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Berdasarkan hasil pengamatan citra satelit dan pemantauan cuaca harian, ia menjelaskan, ada indikasi bahwa faktor atmosfer lain yang ikut meningkatkan curah hujan monsun Asia awal tahun. Fenomena ini bernama Cross Equatorial North Surge atau CENS.
"Berdasarkan pola-pola yang saya peroleh dari data pengamatan, saya menduga adanya faktor lain yang memperkuat curah hujan monsun, yaitu fenomena CENS," ucapnya.
Fenomena yang Pengaruhi Cuaca RI
Sonny menjelaskan, CENS merupakan pergerakan massa udara dingin dari Laut China Selatan yang mampu melintasi garis khatulistiwa. Dengan CENS, massa udara dingin bergerak hingga ke wilayah Indonesia, termasuk Pulau Jawa, sehingga memengaruhi cuaca RI.
"CENS ini tidak hanya menyebabkan penurunan suhu udara, tetapi juga meningkatkan pembentukan awan. Hal ini terjadi akibat pertemuan udara dingin dan kering dari China Selatan dengan udara tropis yang hangat dan lembap," ucapnya.
Ia menerangkan, saat dua massa udara dengan karakter suhu berbeda bertemu, proses penyesuaian menuju keseimbangan termal akan terjadi. Suhu udara tropis yang hangat dan lembap akan menurun, sehingga uap airnya akan mengalami pendinginan dan kondensasi (pengembunan).
"Proses kondensasi ini menghasilkan awan-awan yang lebih banyak. Akibatnya, sinar matahari sulit mencapai permukaan bumi, sehingga udara di antara permukaan dan dasar awan mengalami pendinginan," jelasnya.
Berdasarkan pengamatannya, kondisi ini dinilai mirip dengan saat terjadinya banjir besar di Semarang pada 5-6 Februari 2021 silam. Ia menilai, fenomena cuaca saat ini merupakan hasil interaksi kompleks antara monsun Asia, CENS, dan dinamika atmosfer lainnya.
"Dugaan saya, berdasarkan data pengamatan, CENS berperan sebagai faktor penguat yang mengamplifikasi curah hujan monsun Asia pada periode ini. Selain itu, kehadiran siklon tropis di tenggara Pulau Jawa dekat Australia tampak membloking CENS sehingga awan awan banyak terbentuk lebih banyak dari biasanya," ucapnya.
Selaras, Kedeputian Bidang Meteorologi, Direktorat Meteorologi Publik, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjelaskan, cuaca sepekan ke depan antara lain akan dipengaruhi fenomena aliran angin dari Laut Cina Selatan yang melintasi garis khatulistiwa, CENS.
Faktor lainnya yaitu daerah tekanan rendah yang berpotensi terbentuk di Samudera Hindia selatan Banten, Teluk Carpentaria, dan daratan Australia barat laut, sehingga membentuk daerah perlambatan kecepatan angin di wilayah Indonesia bagian selatan.
BMKG juga memperkirakan adanya pengaruh El NiΓ±o-Southern Oscillation (ENSO) yang sedang menguat pada fase negatif. Sistem iklim dari perubahan pola suhu permukaan Samudra Pasifik ini memengaruhi curah hujan, suhu, dan pola cuaca global.
Kondisi ENSO saat ini menandakan suhu muka laut di Pasifik timur dan tengah menjadi lebih dingin dari normalnya, yang disebut fenomena La NiΓ±a, dalam intensitas. Keberadaan La NiΓ±a lemah berpotensi meningkatkan pasokan uap air yang bisa memicu terbentuknya awan hujan di sebagian wilayah Indonesia, terutama bagian timur.
Sementara itu, aktivitas monsun Asia diperkirakan masih muncul hingga 10 hari pertama Februari 2026. Aktivitas ini salah satunya memicu hujan ekstrem pada 23-26 Januari lalu di Jakarta.
Prediksi Hujan Sangat Lebat sampai Hujan Ekstrem
BMKG dalam unggahan Instagramnya, Senin (26/1/2026) memperkirakan Jawa Barat akan mengalami hujan sangat lebat sampai hujan ekstrem akan melanda Jawa Barat pada 27-29 Januari 2026.
Sementara itu, perkiraan hujan lebat hingga sangat lebat pada hari yang sama juga berlaku di Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Jakarta, Banten, Bengkulu, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, NTB, dan NTT. Provinsi lainnya diprediksi mengalami hujan dengan intensitas sedang.
Sedangkan Bali, NTT, dan NTB, serta Kalimantan Barat diprediksi akan mengalami angin kencang.
Pada 29 Januari hingga 1 Februari 2026, BMKG memperkirakan tidak ada daerah yang mengalami hujan dengan intensitas sangat lebat hingga ekstrem. Namun, berbagai daerah diperkirakan masih akan mengalami hujan lebat dan hujan intensitas sedang. Tetap berhati-hati, detikers.
(twu/pal)











































