Jejak badak berbulu dari 14.400 tahun lalu ditemukan di dalam perut serigala Zaman Es di dekat Desa Tumat, Siberia timur laut. Badak Coelodonta antiquitatis ini adalah salah satu spesimen badak berbulu termuda yang pernah ditemukan.
Jejak badak berbulu atau woolly rhino tersebut berupa fragmen kecil jaringan tubuh yang terawetkan di dalam perut jasad anak serigala. Peneliti kemudian mengurutkan genom jaringan tersebut.
Peneliti Pusat Paleogenetika Universitas Stockholm-Museum Sejarah Alam Swedia, Camilo ChacΓ³n-Duque, menjelaskan, mengumpulkan genom dapat mengungkap penyebab spesies tersebut punah.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Yang mungkin juga relevan untuk konservasi spesies terancam punah saat ini," ujarnya, dikutip dari laman University of Cardiff, Sabtu (24/1/2026).
Temuan di Dalam Perut Anak Serigala Purba
Anak serigala Zaman Es yang diteliti semula ditemukan di lapisan es abadi dalam keadaan beku. Saat peneliti mengotopsinya, barulah ditemukan fragmen kecil jaringan di dalam perutnya.
Berdasarkan penanggalan karbon, jaringan tersebut berumur sekitar 14.400 tahun. Lebih lanjut, berdasarkan pengurutan DNA, jaringan tersebut adalah spesies badak berbulu dari Zaman Es terakhir.
"Perkiraan tanggal tersebut, yang sangat dekat dengan waktu kepunahan badak berbulu, membuatnya sangat berharga untukbantu memahami bagaimana dan mengapa begitu banyak spesies punah pada saat itu," kata peneliti di Sekolah Biosains University of Cardiff Dr David Stanton.
Ada Banyak Badak Berbulu Sesaat Sebelum Punah
Peneliti lalu membandingkan genom badak Desa Tumat dengan dua genom dari spesimen yang lebih tua, 18.000 tahun yang lalu dan 49.000 tahun yang lalu. Berdasarkan analisis mereka, tidak ada tanda-tanda kerusakan genetik saat badak berbulu Zaman Es terkahi mendekati kepunahan.
Peneliti mengartikan, badan berbulu kemungkinan punya populasi yang stabil dan relatif besar sesaat sebelum punah.
"Analisis kami menunjukkan pola genetik yang sangat stabil tanpa perubahan tingkat perkawinan sedarah selama puluhan ribu tahun sebelum kepunahan badak berbulu," kata Edana Lord, yang pada saat penelitian merupakan peneliti pascadoktoral di Pusat Paleogenetika.
Penyebab Kepunahan Badak Berbulu
Profesor genomika evolusioner di Pusat Paleogenetika, Love DalΓ©n, mengatakan, kepunahan badak berbulu tampak terjadi dalam waktu cepat. Penyebab kepunahannya diperkirakan karena pemanasan iklim.
"Hasil penelitian kami menunjukkan badak berbulu memiliki populasi yang lestari selama 15.000 tahun setelah manusia pertama tiba di Siberia timur laut, menunjukkan bahwa pemanasan iklim, bukan perburuan manusia, yang menyebabkan kepunahan mereka," ucapnya.
Sempat Dikira Singa Gua Purba
Di balik penemuan ini, peneliti mengungkapkan tantangan meneliti sampel jaringan dari perut hewan purba yang membeku.
Stanton menjelaskan, memetakan genom dari materi jaringan ini biasanya sangat sulit karena DNA purba biasanya sudah terdegradasi dan jumlahnya sangat kecil. Karena itu, spesimen semacam ini sangat tidak biasa diteliti di laboratorium.
Di samping itu, DNA predatornya pada jaringan tersebut juga mempersulit analisis. Ia mengatakan, sebelumnya jaringan tersebut diidentifkasi sebagai potongan jaringan spesies singa gua.
"Awalnya diidentifikasi sebagai potongan jaringan singa gua, jadi cukup mengejutkan ketika analisis genetik menunjukkan bahwa itu sebenarnya adalah badak berbulu," kata Stanton, yang pada saat penelitian masih bekerja di Museum Sejarah Alam Swedia.
Hasil studi ini telah dipublikasi dalam jurnal Genome Biology and Evolution dengan judul "Genome shows no recent inbreeding in near-extinction woolly rhinoceros sample found in ancient wolf's stomach", 14 Januari 2026.
(twu/nah)











































