Semua Serba AI, Apa Sih yang Nggak Bisa Dilakukan AI?

ADVERTISEMENT

Semua Serba AI, Apa Sih yang Nggak Bisa Dilakukan AI?

Nograhany Widhi Koesumawardani - detikEdu
Minggu, 18 Jan 2026 18:00 WIB
Semua Serba AI, Apa Sih yang Nggak Bisa Dilakukan AI?
Foto: Ben Stansall/AFP/Getty Images
Jakarta -

Sedikit-sedikit artifficial intelligence (AI). Tanya atau curhat ke ChatGPT kini menjadi hal yang makin lumrah.

Laporan Future Jobs 2025 dari World Economic Forum (WEF) memprediksi, 170 juta lapangan kerja baru akan tercipta, sedangkan 92 juta akan tergusur dalam lima tahun ke depan. Sektor pekerjaan yang diprediksi akan tergeser antara lain kasir, petugas tiket, hingga bagian administrasi. Perubahan ini terjadi imbas AI dan otomatisasi.

Lalu apa sih yang nggak bisa dilakukan AI?

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"AI tidak dapat melakukan tiga hal. Tiga hal yang AI tidak dapat melakukan. Apa itu? Pertama, membuat keputusan," demikian dikatakan Dekan Sekolah Magister Management Globis University dari Jepang, Prof Satoshi Hirose saat berbincang dengan wartawan beberapa waktu lalu di Jakarta, ditulis Minggu (18/1/2026).

ADVERTISEMENT

Pertama, adalah membuat keputusan. Kedua, memutuskan nilai-nilai seperti kelestarian, bagaimana berdampingan dengan alam. Ketiga, adalah sense of mission, tujuan hidup atau istilah dalam bahasa Jepang adalah 'kokorozashi'.

Kokorozashi adalah konsep Jepang tentang misi pribadi atau tujuan hidup ambisius yang menyatukan gairah, keahlian, dan visi jangka panjang untuk menciptakan perubahan positif di masyarakat.

"Itulah tiga hal yang AI tidak dapat melakukan. Dan, sangat jelas. Jadi, apa yang harus kita lakukan adalah memperkuatnya," imbuh Hirose.

Banyak anak muda sekarang, datang ke perusahan dan melakukan pekerjaan yang sifatnya administratif. Nah, anak-anak muda ini harus mulai diajarkan tentang bagaimana cara membuat keputusan, memutuskan nilai-nilai diri apa yang mereka pegang hingga menentukan misi dan tujuan hidup mereka.

"Sekarang, hal yang sulit adalah bagi orang muda. Biasanya, mereka datang ke perusahaan, dan mereka melakukan pekerjaan admin. Dan, perlahan-lahan, belajar tentang membuat keputusan. Atau, bagaimana memasang nilai atau tujuan hidup," ujar Hirose menjelaskan filosofi kampus yang diampunya.

Pendapat lain datang dari ekonom Universitas Oxford, Carl Benedikt Frey. Menurut Frey, ada tiga keterampilan inti di mana manusia memiliki keunggulan kompetitif dibandingkan AI, demikian dilansir dari Fortune. Ketiga keterampilan inti itu yakni: interaksi sosial yang kompleks, kreativitas, dan resiliensi untuk menavigasi lingkungan yang kompleks.

Interaksi Sosial

Frei menguraikan bahwa AI tidak dapat mengadakan rapat sebaik kemampuannya dalam menyelesaikan pembagian panjang. Komunikasi dan kecerdasan emosional adalah hal-hal yang tidak dapat ditiru oleh model AI, setidaknya untuk saat ini, sehingga nilainya tetap terjaga di tempat kerja.

Sebuah studi Universitas Stanford yang mengevaluasi bagaimana AI akan menggeser keterampilan yang dihargai di tempat kerja menemukan bahwa keterampilan komunikasi akan semakin penting. Sementara keterampilan yang kini bergaji tinggi seperti analisis data dan akuntansi akan menurun nilainya.

Kreativitas

Kreativitas manusia, imbuh Frey, melampaui menghafal pengetahuan dan mengulanginya dalam format yang berbeda. Dibutuhkan kemampuan untuk berpikir berbeda dan mendobrak batasan.

"Jika Anda bertanya kepada LLM (Large Language Model/model bahasa besar semacam ChatGPT-red) pada tahun 1900, 'Apakah manusia akan pernah bisa terbang?'. Mereka akan menyimpulkan bahwa tidak ada burung yang beratnya lebih dari 30 pon yang mampu lepas landas," ujar Frey menganalogikan ChatGPT jika sudah ada di era itu.

Itulah mengapa kreativitas menjadi karakter yang harus dimiliki para pekerja. Laporan Future Jobs 2025 dari World Economic Forum (WEF) juga mengatakan bahwa pemikiran kreatif menjadi semakin penting di tengah meningkatnya AI. Frey mengatakan diskusi dan debat aktif (landasan pendidikan perguruan tinggi) adalah aktivitas penting untuk meningkatkan pemikiran kreatif.

Resiliensi/Ketahanan

Frey mengatakan AI tidak memiliki ketahanan yang cukup untuk berfungsi seperti manusia. AI dapat menyediakan dengan sekali klik berbagai informasi, mulai dari sejumlah kasus hukum yang kompleks hingga rencana perjalanan yang dioptimalkan. Tetapi AI tidak berfungsi dengan baik di lingkungan yang selalu berubah, seperti dunia nyata.

"Buku teks sarjana tidak akan banyak berubah dalam beberapa dekade terakhir. AI berkembang sebagai tutor di lingkungan yang relatif statis," tutur Frey.

Itu berarti fleksibilitas akan semakin penting seiring dengan peningkatan AI. Laporan Future Jobs 2025 dari World Economic Forum (WEF) juga menyebutkan resiliensi sebagai keterampilan yang semakin penting.

Dan para pemimpin bisnis mencatat pentingnya hal ini di era AI, dengan mengatakan bahwa resiliensi adalah karakter yang dibutuhkan untuk menghadapi banyak perubahan yang dihadapi bisnis di tengah adopsi AI.




(nwk/nah)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads