Pemimpin IMF Peringatkan Negara-Negara soal Dunia Pendidikan, Apa Katanya?

ADVERTISEMENT

Pemimpin IMF Peringatkan Negara-Negara soal Dunia Pendidikan, Apa Katanya?

Nikita Rosa - detikEdu
Jumat, 16 Jan 2026 18:00 WIB
Pemimpin IMF Peringatkan Negara-Negara soal Dunia Pendidikan, Apa Katanya?
Pemimpin IMF Peringatkan Negara-Negara soal Dunia Pendidikan. (Foto: Getty Images/iStockphoto/golfcphoto)
Jakarta -

Lembaga keuangan dunia Internasional Monetary Fund (IMF) menyerukan peringatan pada dunia pendidikan. Peringatan ini menyusul pemanfaatan artificial intelligence (AI) yang menyebabkan banyak pekerjaan menghilang.

Direktur PelaksanaIMFKristalinaGeorgieva menilai, perlu ada desain baru sistem pendidikan yangemmastikan kaum muda bisa memanfaatkan AI saat memasuki pasar kerja, bukan bersaing dengan AI.


"Pemerintah perlu mendesain ulang sistem pendidikan untuk menghadapi perekonomian yang kini digerakkan oleh AI," kata Georgieva dalam laman IMF, dikutip Jumat (16/1/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Perombakan sistem pendidikan ini dinilai penting lantaran kemungkinan banyak tugas akan diotomatisasi oleh AI. Menurut Georgieva, pendidikan harus fokus pada pengembangan kemampuan kognitif, kreatif, dan teknis untuk memanfaatkan AI daripada bersaing dengannya.

"Skill Readiness Index kami menunjukkan, Finlandia, Irlandia, dan Denmark termasuk yang paling baik dalam mengembangkan tenaga kerjanya, melengkapi mereka dengan keterampilan dan fleksibilitas yang dibutuhkan untuk masa depan," tuturnya.

ADVERTISEMENT

Pekerja dengan Keterampilan Baru akan Mendapat Upah Lebih Tinggi

Berdasarkan data Lightcast dan perhitungan staf IMF, pekerja yang memiliki keterampilan baru di era yang terus berkembang ini cenderung menerima upah lebih tinggi. Di pasar kerja Inggris Raya dan AS, lowongan yang membutuhkan keterampilan baru menawarkan upah sekitar 3% lebih tinggi daripada lowongan umum.

Lebih lanjut, peran yang melibatkan empat atau lebih keterampilan baru mendapat upah hingga 15% lebih tinggi di Inggris Raya dan 8,5% lebih tinggi di AS.

Kenaikan upah ini memicu tumbuhnya perekonomian lokal. Karena itu, Georgieva mendesak negara-negara untuk membantu pekerja beradaptasi dengan lingkungan baru.

"Jaminan sosial juga harus ditingkatkan untuk lebih mendukung mereka yang mengalami transisi karier sulit dan memfasilitasi mereka untuk kembali masuk ke pasar tenaga kerja," jelasnya.

Realita 40% Pekerjaan Telah Hilang Gegara AI

Sebelumnya, sebanyak 40% pekerjaan diperkirakan telah hilang karena pemanfaatan AI. Perusahaan-perusahaan besar pun terpaksa melakukan PHK besar-besaran.

"Dengan sekitar 40% pekerjaan global diperkirakan akan terpengaruh oleh perubahan yang didorong oleh AI, kekhawatiran tentang hilangnya pekerjaan dan berkurangnya peluang bagi kelompok tertentu semakin gawat," ungkapnya.




(nir/twu)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads