Bagi sebagian keluarga di Inggris, membeli seragam sekolah bukan sekadar urusan tampilan, tetapi juga mengakses pendidikan. Riset terbaru mengungkap, ribuan anak dihukum hingga dikeluarkan dari kelas karena keluarga mereka tidak mampu membeli seragam sekolah berharga tinggi.
Berdasarkan jajak pendapat terhadap 3.000 orang tua di Inggris, 44 persen anak pernah menerima konsekuensi negatif akibat karena tak mampu membeli seragam sekolah. Di antaranya berupa detensi (12%), isolasi (9%), dan bahkan pengeluaran dari sekolah (8%).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Temuan tersebut diperoleh dari riset dosen sosiologi City St George's, University of London Dr Matt Barnes untuk badan amal The Children's Society.
Tekanan Ekonomi dan Kebijakan Seragam yang Tak Ramah Siswa
Laporan The Children's Society menyebut, tekanan ekonomi terhadap keluarga berpenghasilan rendah semakin parah. Sebanyak 38 persen orang tua mengaku masih kesulitan membeli seragam wajib dan perlengkapan olahraga (PE kits).
Bahkan, 42% responden mengatakan biaya seragam tidak lebih terjangkau dibanding tahun lalu. Kesulitan ini tetap muncul meskipun sudah ada upaya menyediakan seragam bekas di beberapa daerah. Seragam olahraga, dasi, kardigan, dan jumper sekolah turut menambah biaya seragam yang membebani orang tua.
Data juga menunjukkan, siswa sekolah menengah paling sering menerima hukuman. Sekitar 1 dari 8 siswa (12%) ditempatkan dalam ruang isolasi hanya karena pelanggaran seragam yang sebenarnya di luar kendali mereka, misalnya karena tidak mampu membeli sweater atau dasi berlogo sekolah.
Menurut Mark Russell, CEO The Children's Society, kebijakan semacam itu tidak manusiawi.
"Menghukum anak atas kondisi di luar kendalinya adalah hal yang sangat tidak adil. Setiap anak berhak datang ke sekolah tanpa takut dikucilkan atau dihukum hanya karena keluarganya tidak mampu membeli seragam," ujarnya, dilansir dari Phys.org.
Ortu Minta Batasi Seragam Berlogo Sekolah
The Children's Society juga menyoroti usulan pembatasan jumlah item seragam berlogo sekolah. Saat ini, sekolah dasar di Inggris rata-rata mewajibkan lima seragam berlogo, sedangkan sekolah menengah enam seragam, jauh di atas keinginan orang tua yang rata-rata hanya menyetujui tiga seragam berlogo.
Sebanyak 78 persen orang tua mendukung pembatasan tersebut agar biaya seragam bisa ditekan dan anak tidak lagi menjadi korban kebijakan yang tidak sensitif terhadap kemampuan ekonomi keluarga.
"Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa meski ada kemajuan, banyak keluarga masih berada di bawah tekanan besar untuk membiayai seragam sekolah. Dukungan kuat terhadap pembatasan jumlah seragam berlogo menegaskan bahwa orang tua menginginkan solusi yang nyata dan terjangkau," tambah Dr. Barnes.
Seruan untuk Reformasi: Seragam Harus Jadi Hak, Bukan Beban
Riset ini juga menyoroti daerah-daerah dengan tingkat kesulitan tertinggi dalam membeli seragam sekolah, termasuk Irlandia Utara (44%), Wales (42%), serta kota besar seperti Brighton (52%) dan Norwich (48%). Data ini menunjukkan banyaknya daerah yang keberatan terhadap aturan ini sehingga diperlukannya solusi nyata.
Menjelang musim panas, ketika keluarga biasanya mulai menyiapkan kebutuhan seragam baru untuk tahun ajaran September, The Children's Society mengimbau pemerintah dan sekolah untuk memperluas akses ke uniform bank dan toko amal lokal. Pada kedua fasilitas ini, lazimnya tersedia seragam bekas layak pakai dengan harga terjangkau.
"Kami berharap pemerintah bergerak cepat membatasi jumlah seragam berlogo yang diwajibkan sekolah, dan meninjau ulang serta mengubah kebijakan seragam mereka," tegas Dr Barnes.
"Perubahan kecil dalam kebijakan bisa berdampak besar bagi keluarga yang setiap hari berjuang memenuhi kebutuhan hidup," imbuhnya.
(twu/twu)











































