Anomali Puma di Patagonia yang Makan Penguin, Tingkahnya Jadi 'Aneh'

ADVERTISEMENT

Anomali Puma di Patagonia yang Makan Penguin, Tingkahnya Jadi 'Aneh'

Callan Rahmadyvi Triyunanto - detikEdu
Senin, 05 Jan 2026 09:00 WIB
Anomali Puma di Patagonia yang Makan Penguin, Tingkahnya Jadi Aneh
Hewan puma. Foto: Reuters
Jakarta -

Puma si kucing besar, dikenal sebagai hewan yang penyendiri. Namun, puma-puma yang memakan penguin di Taman Nasional Argentina ini tidak bertingkah demikian.

Puma-puma tersebut menunjukkan tingkah anomali. Apakah makan penguin bikin mereka jadi bertingkah 'aneh'?

Penemuan tentang tingkah aneh puma ini diungkapkan dalam studi yang dipublikasikan dalam jurnal Proceedings of the Royal Society B Volume 292, Issue 2061, December 2025 dengan judul "A marine subsidy reshapes the ecology of a large terrestrial carnivore" dan ditulis oleh Mitchell W Serota dkk.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Bagaimana Awal Mula Puma Memangsa Penguin?

Sejak abad ke-20, peternak domba di Patagonia (meliputi sebagian wilayah Argentina dan Chili) memaksa puma keluar dari wilayah tersebut. Setelah Taman Nasional Monte LeΓ³n dibentuk pada 2004, puma mulai kembali ke habitatnya.

Namun, selama ketidakhadiran puma, spesies lain menyesuaikan diri karena berkurangnya tekanan predator. Salah satunya adalah penguin Magellan (Spheniscus magellanicus), yang biasanya berkembang biak hanya di pulau-pulau lepas pantai. Kini, mereka berhasil mendirikan koloni di daratan utama, yang terdiri dari sekitar 40.000 pasangan penguin.

ADVERTISEMENT

Tak lama setelah taman nasional dibuka, para peneliti mulai menemukan sisa-sisa penguin di kotoran puma. Hal ini menunjukkan bahwa puma memanfaatkan perubahan ekosistem dan mulai memangsa penguin yang sebelumnya tidak terbiasa menjadi target mereka.

"Kami mengira hanya beberapa individu yang melakukan hal ini," kata Serota

"Tetapi ketika kami tiba di lapangan, kami menemukan banyak jejak puma di dekat koloni penguin," tambah Serota.

Fenomena ini tidak hanya menunjukkan satwa liar ke ekosistemnya (reintroduksi), tetapi juga menimbulkan efek lanjutan yang menarik seperti interaksi baru dengan spesies lain, perubahan perilaku, dan dampak tak terduga pada populasi.

"Mengembalikan satwa liar di lanskap yang telah berubah saat ini tidak serta merta mengembalikan ekosistem ke kondisi masa lalu," kata Mitchell Serota, peneliti dan ekologi di Duke Farms, New Jersey, dikutip dari Live Science.

"Reintroduksi dapat menciptakan interaksi baru yang sepenuhnya mengubah perilaku dan populasi hewan dengan cara yang tak terduga," tambah Serota.

Anomali Tingkah Puma

Dalam studi tersebut, para peneliti menggunakan kamera untuk memperkirakan jumlah puma yang tinggal di dekat koloni penguin, yang membentang sepanjang 1,2 mil (2 kilometer) di dalam taman nasional.

Mereka juga melacak 14 puma individu menggunakan kalung GPS dan menyelidiki lokasi pemangsaan penguin selama beberapa musim antara 2019 dan 2023. Dari 14 puma yang dilacak, sembilan memangsa penguin, sedangkan lima lainnya tidak.

Hasil studi menunjukkan puma pemangsa penguin memiliki variasi jangkauan wilayah yang lebih besar dari musim ke musim. Mereka tetap dekat koloni penguin saat burung-burung berkembang biak di taman nasional. Namun, mereka menjelajah sekitar dua kali lebih jauh ketika burung-burung bermigrasi ke lepas pantai pada musim panas.

Selain itu, puma yang memangsa penguin lebih sering berinteraksi satu sama lain dibanding puma yang mengandalkan mangsa lain.

Para peneliti mencatat 254 pertemuan antara puma pemakan penguin, sementara hanya empat pertemuan tercatat pada puma lain. Sebagian besar pertemuan terjadi dalam radius 0,6 mil (1 km) dari koloni penguin.

Banyak puma menggunakan koloni penguin sebagai sumber makanan, sehingga puma pemakan penguin tampak lebih toleran terhadap puma lain dibanding puma yang berburu mangsa lain. Hal ini kemungkinan karena makanan yang melimpah mengurangi persaingan.

Para peneliti menemukan kepadatan puma di dalam taman nasional lebih dari dua kali lipat konsentrasi tertinggi yang pernah tercatat di Argentina.

Biasanya, puma dewasa hidup menyendiri dan menetapkan wilayah jelajah yang luas agar memiliki cukup mangsa untuk diri sendiri dan anak-anaknya.

Memahami perilaku karnivora besar saat kembali ke ekosistem yang telah terpengaruh manusia menjadi kunci dalam upaya konservasi modern.

Menurut Juan Ignacio Zanon Martinez, ahli ekologi populasi di National Scientific and Technical Research Council (CONICET) Argentina, hal ini memungkinkan pengelola merancang strategi berdasarkan bagaimana ekosistem sebenarnya berfungsi saat ini, bukan asumsi dari masa lalu.

"Sangat penting untuk perencanaan konservasi karena memungkinkan pengelola merancang strategi pengelolaan yang didasarkan pada bagaimana ekosistem sebenarnya berfungsi saat ini, bukan bagaimana kita menganggap seharusnya berfungsi berdasarkan masa lalu," kata Martinez.

Selain itu, memahami bagaimana perilaku puma memengaruhi baik kucing besar maupun populasi penguin di taman nasional, menjadi penting untuk upaya konservasi di masa depan.

Misanya, predasi puma mungkin tidak berdampak besar pada koloni penguin yang besar dan berkembang, tetapi bisa memengaruhi pertumbuhan koloni baru yang lebih kecil.

"Ini merupakan situasi yang kompleks bagi pengelola area, karena ada dua spesies asli yang berinteraksi," kata Javier Ciancio, ahli biologi di CONICET.

Dalam penelitian selanjutnya, tim peneliti yang dipimpin Serota akan menyelidiki bagaimana hubungan antara puma dan penguin juga memengaruhi mangsa lain puma, seperti guanaco (Lama gugnicoe), kerabat llama.

Penulis adalah peserta program Magang Hub Kemnaker di detikcom.




(nah/nah)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads