Rahasia Beton Romawi Kokoh Ribuan Tahun, Ternyata Bisa 'Self-healing'

Rahasia Beton Romawi Kokoh Ribuan Tahun, Ternyata Bisa 'Self-healing'

Callan Rahmadyvi Triyunanto - detikEdu
Kamis, 01 Jan 2026 17:00 WIB
Rahasia Beton Romawi Kokoh Ribuan Tahun, Ternyata Bisa Self-healing
Situs bangunan di Pompeii ungkap rahasia kekuatan bangunan Romawi. Foto: Parco Archeologico di Pompei/REUTERS
Jakarta -

Penemuan lokasi konstruksi berusia sekitar 2.000 tahun di kota kuno Pompeii mengungkap cara bangsa Romawi membuat beton yang sangat kuat dan memperbaiki diri sendirinya.

Beton Romawi merupakan material bangunan yang digunakan secara luas pada masa Kekaisaran Romawi dan dikenal karena daya tahannya yang tinggi. Berbagai struktur kuno seperti bangunan tempat tinggal, pemandian umum, jembatan, dan jalan, masih bertahan hingga kini.

Selama bertahun-tahun, proses pembuatan beton Romawi menjadi pertanyaan bagi para peneliti, terutama terkait cara pembuatannya dan alasan kekuatannya yang jauh melampaui beton modern. Minimnya bukti fisik dari lokasi konstruksi Romawi menjadi kendala utama dalam mengungkap teknik tersebut secara rinci.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sebuah studi yang dipimpin oleh tim peneliti dari Massachusetts Institute of Technology dan dipublikasikan dalam jurnal Nature Communications memberikan bukti langsung dari lokasi kerja konstruksi Romawi yang terhenti akibat letusan Gunung Vesuvius pada tahun 79 Masehi. Penelitian tersebut bertajuk "An unfinished Pompeian construction site reveals ancient Roman building technology" dan ditulis oleh Ellie Vaserman dkk.

ADVERTISEMENT

Lokasi Konstruksi di Pompeii Ungkap Cara Pembuatan Beton

Penemuan lokasi konstruksi di Pompeii mengungkap proses pembuatan beton Romawi. Situs ini merupakan rumah yang tengah diperbaiki saat letusan Gunung Vesuvius terjadi pada abad pertama Masehi.

Di lokasi tersebut ditemukan berbagai material konstruksi, termasuk ubin yang telah dipilah untuk digunakan kembali serta amphora, dan kontainer anggur yang dimanfaatkan untuk mengangkut bahan bangunan.

Bahan beton kering yang disiapkan sebelum dicampur dengan air menjadi fokus penelitian, karena memungkinkan peneliti menganalisis komposisi dan memahami tahapan awal pembuatan beton Romawi secara langsung.

Proses Pembuatan Beton Romawi

Analisis komposisi kimia bahan yang ditemukan di lokasi konstruksi Pompeii mengungkap keberadaan partikel kecil kapur mentah (quicklime), yaitu kalsium oksida yang dibuat dengan memanaskan batu kapur murni (kalsium karbonat) pada suhu tinggi.

Penelitian menunjukkan pencampuran beton dilakukan di atrium rumah tersebut, di mana para pekerja mencampurkan kapur kering dengan pozzolana, abu vulkanik yang banyak ditemukan di wilayah sekitar Napoli. Saat air ditambahkan, terjadi reaksi eksotermik yang menghasilkan panas tinggi.

Metode ini dikenal sebagai pencampuran panas atau hot-mixing, menghasilkan beton dengan struktur bahan yang berbeda dibandingkan beton modern. Reaksi eksotermik tersebut membentuk kapur mati yang tetap mengandung partikel reaktif.

Jika beton retak, partikel ini bereaksi dengan air untuk menutup retakan, sehingga beton Romawi jenis ini secara harfiah dapat memperbaiki dirinya sendiri.

Pengetahuan Konstruksi dalam Teks Kuno Romawi

Selama ini, pengetahuan tentang beton Romawi banyak bersumber dari tulisan arsitek Romawi Vitruvius yang menyebutkan penggunaan campuran kapur dan pozzolana. Namun, tidak secara eksplisit dijelaskan adanya proses pencampuran panas atau hot-mixing.

Catatan dari penulis Romawi lainnya, Plinius Tua, menjelaskan reaksi kapur dengan air yang menghasilkan panas, menunjukkan bangsa Romawi telah memahami prinsip dasar reaksi kimia tersebut, meskipun tingkat penerapannya di berbagai wilayah masih belum sepenuhnya diketahui.

Penelitian sebelumnya menemukan partikel kapur serupa (lime clasts) pada bangunan Romawi di Privernum, sekitar 43 kilometer utara Pompeii, serta bukti penyembuhan retakan pada beton makam Caecilia Metella di sepanjang Via Appia dekat Roma.

Dengan bukti baru dari lokasi konstruksi di Pompeii, para peneliti kini memiliki dasar kuat untuk menyimpulkan bahwa teknik hot-mixing merupakan bagian penting dari teknologi beton Romawi.

Temuan ini tidak hanya memperkaya pemahaman sejarah konstruksi kuno, tetapi juga membuka peluang bagi pengembangan beton modern yang lebih kuat dan berkelanjutan.

Penulis adalah peserta program Magang Hub Kemnaker di detikcom.




(nah/nah)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads