Deret Aksi Kemendikdasmen Pascabanjir Sumatera

Deret Aksi Kemendikdasmen Pascabanjir Sumatera

Nikita Rosa - detikEdu
Selasa, 30 Des 2025 20:00 WIB
Deret Aksi Kemendikdasmen Pascabanjir Sumatera
Banjir Sumatera. (Foto: ANTARA FOTO/Erlangga Bregas Prakoso)
Jakarta -

Sudah sebulan semenjak bencana banjir yang menimpa wilayah Aceh, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara. Dalam penanganannya, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikasmen) telah menyalurkan beragam bantuan.

Dalam jumpa pers di Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Jl Pramuka,Utan Kayu Utara, Jakarta Timur, Selasa (30/12), Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), AbdulMu'ti menyampaikan jika jumlah total sekolah rusak adalah 4.149. Adapunrinciannya adalah 2.756 sekolah di Aceh, 443 sekolah diSumatera Barat, dan 950 sekolah diSumatera Utara.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Untuk memulihkan bangunan sekolah, tenaga kependidikan, hingga siswa, Mu'ti menyampaikan jika Kemendikdasmen telah memberikan bantuan secara bertahap.

Pemulihan Sekolah Rusak

Dari jumlah total sekolah rusak, sebanyak 85 persen sekolah sudah bisa dioperasikan.

ADVERTISEMENT

"Total sekolah yang bisa beroperasi 85 persen. Masih ada 54 yang memang belum bisa kita gunakan karena kerusakan sangat serius ada sekolah rusak total sehingga belajar di tenda," kata Mu'ti.

Rincian pemulihan sekolah rusak adalah sebagai berikut:

Aceh: 2.226 atau 81% di antaranya sudah bisa beroperasi

Sumatera Barat: 380 atau 86% di antaranya sudah bisa beroperasi

Sumatera Utara: 902 atau 95% di antaranya sudah bisa beroperasi.

Lebih lanjut, Kemendikdasmen telah membangun 54 tenda sekolah dengan rincian:

Aceh 14 tenda
Sumbar 21 tenda
Sumut 19 tenda

Kemendikdasmen juga melakukan pembersihan sekolah dengan rincian:

Aceh 516 sekolah
Sumbar 42 sekolah
Sumut 29 sekolah

"Total pembersihan 587 sekolah. Proses pembersihan terus kami lakukan. Tingkat kerusakan dampak banjir sangat berat prosesnya membutuhkan waktu lebih lama," jelas Mu'ti.

Tunjangan Khusus Guru dan Tenaga Kependidikan

Kemendikdasmen juga menyalurkan tunjangan khusus guru dan tenaga kependidikan terdampak bencana di Aceh, Jawa Timur, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara. Tunjangan ini telah disalurkan mulai Desember 2025. Total sebanyak 16.467 guru dan tendik menerima bantuan senilai Rp 32, 934 miliar.

"Ini transfer langsung ke rekening masing-masing guru dan sudah kami transfer. Sekarang masih proses karena memang ada beberapa yang membutuhkan waktu, terutama karena jumlahnya cukup besar. Tapi ini bukan akan, tapi sudah proses," terang Mu'ti.

Berikut data penyaluran tunjangan khusus guru dan tenaga kependidikan:

Aceh

PAUD: 379 orang, Rp 758 juta
Pendidikan dasar (Dikdas): 4.098 orang, Rp 8,196 miliar

Pendidikan menengah (Dikmen): 3.381 orang, Rp 6,762 miliar

Tendik(tenaga kependidikan): 3 orang, Rp 6 juta

Total: 7.861 orang, Rp 15,722 miliar

Sumatera Barat

PAUD: 91 orang, Rp 182 juta

Dikdas: 1.674 orang, Rp 3,348 miliar

Dikmen: 1.013 orang, Rp 2,026 miliar

Tendik: 17 orang, Rp 34 juta

Total: 2.795 orang, Rp 5,590 miliar

Sumatera Utara

PAUD: 437 orang, Rp 874 miliar

Dikdas: 4.482 orang, Rp 8,964 miliar

Dikmen: 864 orang, Rp 1,728 miliar

Tendik: -

Total: 5.783 orang, Rp 11,566 miliar

Kurikulum Penanggulangan Dampak Bencana Banjir Sumatera

Terakhir, Kemendikdasmen telah mengeluarkan tiga skenario pembelajaran yang dibagi berdasarkan jangka waktu. Jangka waktu pemulihan paling lama, 1-3 tahun, ditujukan bagi sekolah yang rusak sepenuhnya. Berikut rinciannya:

1. Tanggap Darurat (0-3 Bulan)

Kurikulum Tanggap Darurat akan berupa penyesuaian Kurikulum Minimum Esensial. Kurikulum yang ada akan disederhanakan menjadi materi esensial seperti literasi dasar, numerasi dasar, kesehatan dan keselamatan diri, serta dukungan psikososial dan informasi mitigasi bencana. Selain itu, tidak ada asesmen kompleks.

2. Pemulihan Dini (3-12 Bulan)

Setelah itu, ada skenario Pemulihan Dini yang berlangsung 3-12 bulan. Fase ini ditujukan untuk beberapa sekolah yang perlu dibangun lagi.

Kurikulum dalam fase Pemulihan Diri berupa integrasi materi mitigasi bencana dengan mata pelajaran relevan. Kurikulum ini disebut dengan Kurikulum Adatif Berbasis Krisis.

Selain itu, terdapat program pemulihan pembelajaran, pembelajaran fleksibel menyesuaikan kondisi siswa, dan asesmen berbasis portofolio atau unjuk kerja sederhana.

3. Pemulihan Lanjutan (1-3 Tahun)

Terakhir, adalah Pemulihan Lanjutan untuk sekolah yang rusak total dan perlu dibangun kembali. Untuk sekolah ini, Mu'ti menyampaikan jika pembelajaan menerapkan integrasi permanen dengan pendidikan kebencanaan, penguatan kualitas pembelajaran, pembelajaran inklusi, dan evaluasi pendidikan darurat.

Metode kurikulum ini akan diterapkan mulai 5 Januari 2026.

"Pembelajaran yang nanti kita rencanakan dimulai pada tanggal 5 Januari yang akan datang," ujar Mendikdasmen.




(nir/nwk)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads