Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu'ti, mengatakan pemerintah tengah melakukan pemulihan sekolah pasca banjir yang menimpa wilayah Sumatera pada akhir November lalu. Ia menyampaikan jika ada sekolah yang rusak sepenuhnya.
Seperti diketahui, banjir telah menyapu wilayah Aceh,Sumatera Utara, danSumatera Barat pada Kamis (28/11/2025) lalu. Sebanyak 4.149 dinyatakan rusak dengan rincian 2.756 sekolah di Aceh, 443 sekolah diSumatera Barat, dan 950 sekolah diSumatera Utara.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam pemulihannya, Kemendikdasmen telah mengeluarkan tiga skenario pembelajaran yang dibagi berdasarkan jangka waktu. Jangka waktu pemulihan paling lama, 1-3 tahun, ditujukan bagi sekolah yang rusak sepenuhnya.
"Beberapa sekolah ada yang memang betul-betul hilang dan harus dibangun sekolah baru yang memang waktunya membutuhkan wwaktu lebih dari 1 tahun," ujar Mu'ti dalam jumpa pers di Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Jl Pramuka, Utan Kayu Utara, Jakarta Timur, Selasa (30/12/2025).
Seperti apa rincian kurikulum penanggulangan bencana di wilayah terdampak banjir Sumatera? Berikut rinciannya.
3 Fase Kurikulum Penanggulangan Dampak Bencana BanjirSumatera
1. Tanggap Darurat (0-3 Bulan)
Kurikulum Tanggap Daruat akan berupa penyesuaian Kurikulum Minimum Esensial. Kurikulum yang ada akan disederhanakan menjadi materi esensial seperti literasi dasar, numerasi dasar, kesehatan dan keselamatan diri, serta dukungan psikolososial dan informasi mititgasi bencana. Selain itu, tidak ada asesmen kompleks.
"Asesmen yang sangat sederhana. Tidak ada sesmen formatif atau umatif yang kompleks, fokus pada kehadiran, keamanan, dan keamanan murid," tegas Mu'ti.
2. Pemulihan Dini (3-12 Bulan)
Setelah itu, ada skenario Pemulihan Dini yang berlangsung 3-12 bulan. Fase ini ditujukan untuk beberapa sekolah yang perlu dibangun lagi.
"Kemudian untuk skenario 3-12 bulan karena beberapa sekolah harus dibangun lagi dan membutuhkan waktu yang cukup lama," jelas Mu'ti.
Kurikulum dalam fase Pemulihan Diri berupa integrasi materi mitigasi bencana dengan mata pelajaran yang relevan. Kurikulum ini disebut dengan Kurikulum Adaptif Berbasis Krisis.
Selain itu, terdapat program pemulihan pembelajaran, pembelajaran fleksibel menyesuaikan kondisi siswa, dan asesmen berbasis portofolio atau unjuk kerja sederhana.
3. Pemulihan Lanjutan (1-3 Tahun)
Terakhir, adalah Pemulihan Lanjutan untuk sekolah yang rusak total dan perlu dibangun kembali. Untuk sekolah ini, Mu'ti menyampaikan jika pembelajaran menerapkan integrasi permanen dengan pendidikan kebencanaan, penguatan kualitas pembelajaran, pembelajaran inklusi, dan evaluasi pendidikan darurat.
Metode kurikulum ini akan diterapkan mulai 5 Januari 2026.
"Pembelajaran yang nanti kita rencanakan dimulai pada tanggal 5 Januari yang akan datang," ujar Mendikdasmen.
(nir/faz)











































