Ngeri-ngeri Sedap, Kenapa Orang Suka dengan Rumah Hantu?

ADVERTISEMENT

Ngeri-ngeri Sedap, Kenapa Orang Suka dengan Rumah Hantu?

Novia Aisyah - detikEdu
Sabtu, 27 Des 2025 18:00 WIB
Ngeri-ngeri Sedap, Kenapa Orang Suka dengan Rumah Hantu?
Ilustrasi hantu. Foto: Getty Images/Artreyu
Jakarta -

Tak jarang orang gemar mengonsumsi sensasi horor. Bahkan, banyak yang menyukai hiburan rumah hantu hingga film horor meski sebenarnya ketakutan juga.

Mengapa bisa demikian?

Alasan Orang Suka Rumah Hantu

Menurut peneliti psikologi Florida International University, Matthew Sutherland, jawabannya terletak jauh di dalam otak. Sistem alarm, kontrol, dan penghargaan dalam otak kita bekerja sama untuk mengubah rasa takut menjadi kesenangan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sutherland yang merupakan seorang ahli neurosains kognitif menjelaskan, rumah hantu membajak sistem alarm otak, si amigdala. Ketika kita melihat adegan mengejutkan atau mendengar teriakan tiba-tiba, amigdala membanjiri tubuh dengan adrenalin dan hormon stres, mempersiapkan kita untuk bereaksi.

"Tugas amigdala adalah melindungi kita," jelas Sutherland.

ADVERTISEMENT

"Ia membuat jantung kita berdebar kencang, mempertajam indra kita, dan membuat kita tetap waspada, bahkan ketika kita tahu kita aman," lanjutnya, dikutip dari laman kampus.

Di situlah korteks prefrontal berperan. Bagian otak ini membantu kita bernalar dan mengenali bahaya itu tidak nyata. Misalnya bahwa zombie hanyalah aktor atau wahana roller coaster dirancang dengan aman. Begitu otak menyadari ancaman itu hanya pura-pura, rasa takut berubah menjadi sensasi.

"Otak kita memungkinkan kita mengalami sensasi fisiologis rasa takut sambil mengetahui bahwa kita tidak dalam bahaya nyata," kata Sutherland.

"Kombinasi itu mengubah kecemasan menjadi kegembiraan," ujarnya.

Setelah kejutan awal, sistem penghargaan otak mengambil alih. Dopamin, zat kimia penyebab perasaan senang dilepaskan. Proses ini kemudian memperkuat gagasan menghadapi rasa takut terasa menyenangkan.

"Inilah mengapa orang sering keluar dari rumah hantu sambil tertawa," kata Sutherland.

"Otak belajar bahwa 'bertahan' dari rasa takut bisa menyenangkan dan bermanfaat, yang memotivasi kita untuk melakukannya lagi," imbuhnya.

Rasa Takut Bisa Mendekatkan Individu

Ia juga menerangkan ada sisi sosial dari rasa takut. Rasa takut juga mendekatkan antarindividu.

Ketika kita berbagi pengalaman menakutkan, entah itu berpegangan dengan teman di labirin berhantu atau tertawa setelah kejutan yang mengejutkan contohnya, otak kita melepaskan oksitosin, hormon yang membangun kepercayaan dan koneksi.

"Menghadapi rasa takut bersama bertindak seperti perekat sosial," jelas Sutherland.

"Ini mengubah momen menakutkan menjadi kenangan bersama yang mendekatkan orang," lanjutnya.

Berbeda dengan Anak dengan Gangguan Kecemasan

Namun, bagi beberapa anak, rasa takut bisa terasa berbeda. Anak-anak dengan gangguan kecemasan mungkin memiliki amigdala yang bereaksi lebih kuat, sehingga lebih sulit untuk mematikan alarm dalam otak mereka.

Selain itu, anak-anak dengan ADHD sering memiliki aktivitas dopamin yang lebih rendah. Sehingga hal ini dapat menyebabkan mereka mencari sensasi yang lebih besar seperti teriakan yang lebih keras, wahana yang lebih cepat, atau pengalaman yang lebih menakutkan.

"Anggap otak Anda seperti orkestra," kata Sutherland.

"Amigdala memainkan genderang ketakutan yang menggelegar, korteks prefrontal menghantarkan impuls untuk menjaga semuanya tetap berirama, dan striatum menambahkan suara terompet kemenangan yang membuat pengalaman itu menyenangkan alih-alih menakutkan. Ketika ketiga sistem tersebut bekerja secara harmonis, rasa takut menjadi menyenangkan, kegembiraan merasakan takut sambil mengetahui bahwa kita aman," terangnya.




(nah/nwk)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads