Manusia Purba dan Modern Sempat Bersinggungan di Sulawesi? Ini Risetnya

ADVERTISEMENT

Manusia Purba dan Modern Sempat Bersinggungan di Sulawesi? Ini Risetnya

Novia Aisyah - detikEdu
Sabtu, 27 Des 2025 09:00 WIB
Manusia Purba dan Modern Sempat Bersinggungan di Sulawesi? Ini Risetnya
Leang Bulu Bettue di kawasan karst Maros-Pangkep Sulawesi Selatan. Foto: Basran Burhan dkk/PLOS One
Jakarta -

Ilmuwan mengungkap kemungkinan adanya persinggungan antara manusia purba dan manusia modern di Sulawesi.

Para peneliti yang terdiri dari Basran Burhan dkk mengungkapnya melalui laporan riset bertajuk "A near-continuous archaeological record of Pleistocene human occupation at Leang Bulu Bettue, Sulawesi, Indonesia". Riset ini diterbitkan dalam jurnal PLOS One pada 23 Desember 2025.

Basran dkk mengatakan dalam laporan tersebut, penelitian sebelumnya menunjukkan Pulau Sulawesi menjadi tempat tinggal hominin purba dengan kekerabatan taksonomi yang tidak diketahui, setidaknya sejak 1,04 juta tahun yang lalu (million years ago/Ma). Sementara spesies kita sendiri, Homo sapiens, diperkirakan telah menetap di daratan Wallacea tersebut setidaknya sejak 51,2 ribu tahun yang lalu (thousand years ago/ka) dan mungkin sejak 65 ka.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Meskipun demikian, kurangnya situs arkeologis Pleistosen yang bertanggal dengan baik dari Sulawesi mengisyaratkan, sangat sedikit yang diketahui tentang pola dan waktu hunian manusia purba di pulau tersebut, termasuk apakah ada bukti tumpang tindih antara hominin purba dan manusia modern dan kapan serta bagaimana hominin purba tersebut punah.

"Di sini, kami melaporkan hasil dari beberapa musim penggalian parit dalam di Leang Bulu Bettue (LBB), kompleks gua batu kapur di wilayah karst Maros-Pangkep di Sulawesi Selatan. Leang Bulu Bettue adalah satu-satunya situs yang saat ini diketahui di pulau tersebut dengan catatan arkeologis yang berusia antara Pleistosen Tengah hingga Akhir dan periode Holosen akhir," jelas para peneliti, dikutip dari laporan tersebut.

ADVERTISEMENT

Ada Pergeseran Aktivitas Budaya

Yang menarik, ilmuwan menemukan bukti pemotongan hewan dan produksi artefak batu, termasuk sebuah batu cungkil dari sekitar 132,3-208,4 ribu tahun lalu. Mereka juga mengungkap pergeseran besar dalam aktivitas budaya manusia selama Pleistosen Akhir.

Sekitar 40 ribu tahun lalu, fase bermukim sebelumnya dicirikan oleh teknologi inti dan serpihan berbasis kerikil yang sederhana dan kumpulan fauna yang didominasi oleh bovida kerdil yang masih hidup (Bubalus sp, anoas). Namun, termasuk proboscidea yang sekarang telah punah, telah digantikan oleh fase bermukim yang sama sekali baru dengan ciri arkeologis yang sangat berbeda, termasuk adanya bukti pertama ekspresi artistik dan budaya simbolik.

"Kami mempertimbangkan implikasi dari ketidaksesuaian perilaku ini terhadap pemahaman kita tentang sejarah manusia di Sulawesi, termasuk kemungkinan hal itu mencerminkan penggantian hominin purba oleh manusia modern," ungkap para peneliti.

Penemuan alat-alat batu baru-baru ini yang bertanggal lebih dari 194 ribu tahun lalu di Talepu, lebih dari 1 juta tahun lalu di Calio di Cekungan Walanae, dan sekarang 132,3-208,4 ribu tahun lalu di LBB, menunjukkan hominin purba dengan taksonomi yang belum diketahui, sudah ada di Sulawesi setidaknya pada akhir Pleistosen Awal.

Sementara, manusia modern pertama (Homo sapiens) yang mencapai Sulawesi mungkin telah ada setidaknya pada 50 ribu tahun lalu. Namun, mereka juga berpotensi sudah ada sejak 65 ribu tahun lalu, jika mengambil rute utara ke Australia seperti yang diyakini oleh penelitian terbaru oleh Shimona Kealy dkk.

Contoh Senada di Belahan Dunia Lain

Pergeseran spesies tersebut, menurut peneliti, mengingatkan pada peristiwa yang didokumentasikan pada prasejarah awal di belahan dunia yang. Di Eurasia barat contohnya, Homo sapiens tiba sekitar 45-43 ribu tahun yang lalu. Lima milenium kemudian Neanderthal terakhir yang masih hidup telah punah.

"Di Flores, bukti terakhir keberadaan Homo floresiensis dalam catatan fosil adalah 60-50 ribu tahun yang lalu, yang menunjukkan spesies endemik pulau ini menghilang tidak lama setelah manusia modern memasuki Wallacea," kata para ahli.

"Tidak jelas apakah kedua spesies hominin Sulawesi tersebut hidup berdampingan, dan kami menawarkan dua skenario alternatif dan bersaing untuk perubahan dan kesinambungan yang diwakili di situs LBB," lanjut mereka.




(nah/nwk)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads