Kemampuan mendengar manusia sangat terbatas. Mendengar suara bervolume tinggi seperti dari kembang api dan speaker konser secara langsung, akan berpotensi merusak indera pendengaran secara permanen.
Namun tahukah detikers, suara terkeras yang pernah terekam di muka bumi? Alam secara alami telah merekam suara terkeras pada masa lampau, seperti ledakan meteor dan gunung berapi, bahkan juga pada era modern ini.
Deretan Suara Terkeras di Dunia
1. Letusan Krakatau (1833)
Suara letusan krakatau sering dianggap sebagai suara terkeras sepanjang sejarah. Ledakannya terdengar hingga jarak 3000 km. Pada jarak 160 km, suara letusan mencapai sekitar 170 dB (desibel) yang sudah pasti merusak pendengaran secara permanen. Bahkan menurut kesaksian para pelaut, pada jarak 64 km suara letusannya memecahkan gendang telinga mereka.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut National Institutes of Health, kerusakan pendengaran terjadi ketika telinga menangkap suara sebesar 85 dB dalam beberapa jam, 100 dB dalam 14 menit, serta 110 dB hanya dalam 2 menit.
Diperkirakan ledakan krakatau mencapai 310 dB, yang tergolong bukan suara biasa. Pada tingkatan ini, suara tidak lagi bisa disebut sebagai "bunyi" yang menyebabkan gelombang udara. Hal demikian disebut sebagai "gelombang kejut", yaitu terciptanya tekanan super kuat yang timbul ketika sesuatu bergerak jauh lebih cepat dari kecepatan suara.
Gelombang kejut yang dihasilkan krakatau pada masa lalu sangat dahsyat, sampai bisa mengelilingi bumi sebanyak tujuh kali.
Namun demikian, sebenarnya tidak ada yang benar-benar tahu seberapa keras letusan Krakatau pada sumbernya karena tidak ada orang yang benar-benar dekat dari lokasi ledakan.
"Asumsi dapat dibuat tentang perambatan suara, tetapi ini sangat tidak pasti," ujar Michael Vorländer, seorang profesor dan kepala Institut Teknologi Pendengaran dan Akustik di Universitas RWTH Aachen di Jerman dan presiden Masyarakat Akustik Amerika, dikutip LiveScience pada (7/12/2025).
2. Meteor Tunguska (1908)
Suara letusan meteor Tunguska di Siberia, berhasil menghanguskan wilayah pepohonan seluas ratusan mil persegi dan menyalurkan gelombang tekanan ke seluruh dunia. Kekuatan ledakan meteor ini kurang lebih sama besarnya dengan letusan Krakatau sekitar 300-315 dB. Sama seperti Krakatau, ledakan meteor Tunguska juga hanya terekam dengan instrumen dari jarak yang sangat jauh.
3. Letusan Hunga, Tonga (2022)
Letusan gunung api ini adalah letusan terbesar yang berhasil direkam dengan barometer dan sensor infrasonik global, serta menjadi suara terkeras yang berhasil direkam pada era digital modern. Bahkan, para ilmuwan tanpa ragu menyatakan suara letusan Hunga, Tonga adalah suara paling keras.
"Saya yakin suara 'paling keras' yang terekam adalah letusan Hunga, Tonga , pada Januari 2022," ujar David Fee, profesor riset di Institut Geofisika di Universitas Alaska Fairbanks, dikutip Live Science.
"Letusan gunung berapi besar ini menghasilkan gelombang suara yang melintasi dunia berkali-kali dan terdengar oleh manusia ribuan mil jauhnya, termasuk di Alaska dan Eropa Tengah," imbuh Fee.
Pendiri sekaligus direktur Laboratorium Infrasonik di Universitas Hawaii Milton Garces, setuju dengan pernyataan Fee.
"Jika pertanyaannya dirumuskan ulang menjadi, 'Apa suara terkeras yang terekam di era digital modern?', maka tanpa ragu suara terkeras berasal dari Tonga pada tahun 2022," ujar Garces.
Lonjakan tekanan udara pada letusan bawah laut Tonga mencapai 1800 pascal, menurut stasiun pemantau terdekat, yang berjarak sekitar 68 km. Hasil ini sungguh sangat besar, mengingat ledakan bahan kimia berkekuatan 200 megaton saja hanya menghasilkan tekanan sebesar 567 pascal pada jarak ratusan kilometer.
Ledakan yang terjadi di Hunga, Tonga begitu besar sampai-sampai tidak dapat diukur dalam skala desibel.
4. Suara Buatan Manusia
Para ilmuwan mencoba membuat gelombang tekanan yang sangat besar di dalam laboratorium. Eksperimen menggunakan, laser sinar-X ke arah semburan air berukuran mikroskopis. Gelombang tekanan yang dihasilkan setara 270 dB, jauh lebih keras dibanding suara roket Saturn V yang membawa astronot Apollo ke Bulan, yang mencapai sekitar 203 dB.
Perlu diketahui, percobaan ini berlangsung di ruang vakum, yang berarti gelombang bertekanan 270 dB tersebut sama sekali tidak menghasilkan suara. Karena, suara membutuhkan medium (air atau udara) untuk merambat.
"Tekanan di ruang hampa agak curang. Itu seperti tekanan di luar angkasa: supernova mungkin menghasilkan tekanan radiasi yang sangat besar, tetapi tidak akan memancarkan radiasi seperti yang kita sebut suara," ujar Graces.
"Untuk gelombang suara terkuat yang pernah terekam di era modern, Tonga 2022 adalah juaranya," jelasnya.
Penulis adalah peserta program MagangHub Kemnaker di detikcom.
