Di seberang hutan lebat Kongo, beberapa masyarakat pemburu-pengumpul yang tersisa memiliki satu kesamaan, yakni atletisme yang luar biasa. Benarkah bukan hanya laki-laki yang atletis?
Sebuah studi baru yang nakhodai oleh George Brill dan rekan-rekannya dari Universitas Cambridge mengungkapkan kelompok-kelompok pemburu-pengumpul mampu melakukan beragam gerakan yang luar biasa berenang, menyelam, memanjat, dan berlari.
Penelitian ini terbit dengan judul "Extensive locomotor versality across a global sample of hunter-gatherer societies" dalam jurnal The Royal Society B".
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menariknya, bukan hanya pria yang mampu melakukannya. Kelompok pemburu-pengumpul wanita juga sangat terampil dan atletis.
Pemburu-Pengumpul Buktikan Stereotip Gender yang Keliru
Selama beberapa dekade, masyarakat dunia kuno digambarkan secara terbagi, yaitu pria berburu dan wanita mengumpulkan. Sebuah analisis masif terbaru tentang masyarakat pemburu-pengumpul membuktikan hal ini salah.
Di seluruh dunia, masyarakat pemburu-pengumpul menunjukkan serangkaian strategi pergerakan yang menakjubkan. Di Asia Tenggara, perempuan Bajau menghabiskan waktu berjam-jam menyelam mencari ikan, sama seperti rekan laki-laki mereka.
Di antara suku Mbuti di Afrika Tengah, baik laki-laki maupun perempuan memanjat pohon-pohon tinggi untuk mencari madu. Bahkan di Kutub Utara yang keras, perempuan Inuit Tembaga ikut serta dalam ekspedisi berburu jarak jauh bersama para laki-laki.
Studi ini menyoroti lebih dari 900 catatan etnografi. Penelitian menunjukkan, meskipun terkadang terdapat bias kecil seperti laki-laki yang lebih sering didokumentasikan sebagai pendaki, tren yang dominan adalah keterlibatan bersama. Bahkan, perempuan terkadang memimpin.
Di komunitas Yahgan di Tierra del Fuego, perempuan adalah perenang dan penyelam utama. Sementara laki-laki seringkali kesulitan di air, terkadang bahkan membutuhkan pertolongan dari pasangan perempuan mereka.
"Baik pria maupun wanita secara konsisten dilaporkan terlibat dalam setiap modalitas lokomotor," catat studi tersebut, dikutip dari ZME Science.
Hanya panjat tebing yang menunjukkan sedikit bias laki-laki, yang sebagian besar disebabkan oleh tabu budaya seputar perempuan yang memanjat pohon tinggi di masyarakat tertentu.
(nah/faz)











































