Kepala Pusat Penguatan Karakter, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Rusprita Putri Utami, SE, MA mengungkap bahwa anak Generasi Z dan Generasi Alpha disebut sebagai Generasi Strawberry. Istilah ini merujuk pada individu yang tampak keren di luar tapi rapuh di dalam.
"Nah ini juga menjadi salah satu fenomena saat ini, walaupun pada saat saya bicara pada anak-anak Gen Z ataupun Alpha gitu ya, mereka sebenarnya nggak setuju dibilang Generasi Stroberi," ujarnya pada break session konferensi Internasional Literasi Keagamaan Lintas Budaya 2025 di di Hotel Shangri-La, Jakarta, Rabu (12/11/2025).
"Jadi disampaikan bahwa memang anak-anak Gen Z ini karakternya seperti stroberi, kelihatan keren dari luar gitu ya, tapi sebenarnya sangat rapuh. Jadi pada saat menghadapi tantangan, masalah, mereka cenderung cepat putus asa," lanjutnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mengutip NPR, istilah Generasi Strawberry berkembang dan populer di Taiwan setidaknya sejak 10 tahun lalu. Penyandang gelar berkonotasi negatif ini saat itu bukan Generasi Z atau Gen Alph, melainkan millennials. Istilah ini dipakai untuk merendahkan generasi yang lebih muda sebagai kelompok yang 'kurang bekerja keras', kendati artsy dan trendy.
Gara-gara Orang Tua?
Rusprita mengatakan, karakteristik keren di luar-rapuh di dalam ala Generasi Strawberry dipengaruhi oleh pola asuh. Dalam hal ini, banyak orang tua yang melampaui batas kasih sayang kepada anak hingga over-protective.
Ia menjelaskan, pola asuh tersebut berangkat dari harapan agar semua hal pada hidup sang anak akan berjalan baik-baik saja. Padahal, kehidupan tidak selalu berjalan dengan baik.
Akibatnya, kecenderungan orang tua ini justru membuat anak hidup dalam bubble. Dalam pengasuhan orang tuanya tersebut, anak cenderung jadi tidak mengenal keberagaman, termasuk tantangannya.
Karena itu, sambung Rusprita, pola asuh melampaui batas ini menurutnya berdampak pada respons anak yang menjadi lebih cepat putus asa dalam menghadapi masalah.
Mencegah Anak Cepat Putus Asa
Rusprita mengatakan, ada cara sederhana agar anak tak cepat putus asa dalam menghadapi masalah. Caranya yakni sesimpel mengajak anak-anak untuk bermain ke rumah tetangga yang mungkin berbeda agama dan suku.
Hal ini juga disampaikan oleh Arif Jamali Muis, MPd, Staf Khusus Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah. Ia menjelaskan, anak-anak yang diberikan kesempatan berinteraksi dengan orang-orang dari latar belakang berbeda dapat belajar menimbulkan rasa toleransi dan juga empatinya.
Arif mengatakan, contoh kegiatan untuk mengenal orang-orang baru dari latar belakang berbeda yakni lewat bakti sosial.
" Kalau mayoritasnya di sana agama Islam, maka tempatnya bakti sosial itu di tempat yang bukan satu agama dengan mereka. Jadi saya tidak mengajak mereka ke gereja, tapi ke tempat bakti sosial, karena ingin menanamkan bahwa kegiatan ini adalah nilai kemanusiaan," ujarnya pada kesempatan yang sama.
(twu/twu)











































