Dalam Rapat Paripurna DPR RI ke-5 Masa Persidangan I Tahun Sidang 2025-2026, Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menyinggung soal Sumitronomics. Istilah ini memang cukup asing di telinga masyarakat awam.
Apa sebenarnya Sumitronomics ini? Sumitronomics adalah istilah yang merujuk pada kerangka pemikiran ekonomi yang dikembangkan oleh Prof. Sumitro Djojohadikusumo, seorang ekonom Indonesia yang dikenal sebagai "Begawan Ekonomi" dan ayah dari Presiden ke-8 Republik Indonesia, Prabowo Subianto.
Istilah "Sumitronomics" sendiri adalah singkatan dari "Sumitro Economics", yang menggabungkan nama Prof. Sumitro dan "Economics". Konsep ini pertama kali populer pada era 1950-1960-an di bawah pemerintahan Soekarno, tetapi belakangan ini kembali mengemuka di era Presiden Prabowo Subianto mulai tahun 2024.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sumitronomics bertumpu pada tiga pilar utama yaitu:
- Pertumbuhan ekonomi tinggi
- Pemerataan manfaat pembangunan
- Stabilitas nasional yang dinamis
"Untuk menjalankan tiga pilar tersebut, mesin-mesin pertumbuhan harus dihidupkan dan dipastikan berjalan selaras fiskal, sektor keuangan, dan perbaikan ekonomi, investasi harus sinergis menggerakkan perekonomian Indonesia agar dapat tumbuh melampaui 6% dalam waktu tidak terlalu lama," kata Purbaya dikutip dari detikFinance, Rabu (24/9/2025).
Konsep tersebut dicanangkan untuk mencapai target pertumbuhan Indonesia sebesar 8%. Menurut Purbaya, pada masa lalu, pertumbuhan ekonomi Indonesia pernah mencapai 6%.
"Target ini tidak mudah, namun bukan berarti tidak bisa diwujudkan. Sejarah menunjukkan sebelum krisis keuangan tahun 1997-1998 ekonomi Indonesia tumbuh rata-rata di atas 6%," kata Purbaya.
Sumitronomics, Gagasan yang Diusung Ayah Prabowo
Penggagas konsep Sumitronomics adalah seorang ekonom terkemuka Indonesia yakni Sumitro Djojohadikusumo. Ia juga merupakan ayah dari Presiden Prabowo Subianto.
Dikutip dari artikel In Memoriam: Professor Sumitro Djojohadikusumo, 1917-2001 oleh Thee Kian Wie, Sumitro dikenal sebagai salah satu arsitek utama kebijakan ekonomi Indonesia setelah merdeka. Ia memegang sejumlah posisi penting di bidang ekonomi, baik pada masa awal kemerdekaan maupun di era Orde Baru.
Selain kiprahnya di pemerintahan, Sumitro juga berperan besar dalam dunia akademik. Sebagai Guru Besar Ekonomi di Universitas Indonesia, ia dikenal tak kenal lelah mengajar dan menulis tentang isu-isu ekonomi. Dari tangan dinginnya lahir generasi ekonom Indonesia yang kemudian menduduki berbagai jabatan strategis di pemerintahan.
Sumitro lahir dari keluarga pegawai negeri menengah-atas di lingkungan Hindia Belanda, Sumitro mendapat kesempatan menempuh pendidikan di sekolah-sekolah Belanda. Setelah lulus sekolah menengah pada 1935, kedua orang tuanya rela berkorban besar untuk menyekolahkannya ke Rotterdam, di Netherlands School of Economics (yang kemudian menjadi Fakultas Ekonomi Universitas Erasmus Rotterdam).
Pada 1937-1938, ia sempat menghentikan studi untuk memperdalam filsafat dan sejarah di Sorbonne, Paris. Kemudian pada 1943, ia meraih gelar doktor ekonomi di Rotterdam dengan disertasi berjudul Het Volkscredietwezen in de Depressie (Lembaga Kredit Rakyat di Masa Depresi).
Selepas itu, antara 1946 hingga 1950, Sumitro aktif sebagai wakil kepala delegasi Indonesia di Perserikatan Bangsa-Bangsa, memperjuangkan dukungan internasional bagi kemerdekaan Indonesia.
Setelah Belanda mengakui kedaulatan RI pada akhir 1949, karier politiknya melesat. Pada usia 33 tahun, ia dipercaya menjabat Menteri Perdagangan dan Perindustrian dalam Kabinet Mohammad Natsir (1950-1951), kemudian Menteri Keuangan di Kabinet Wilopo (1952-1953) serta Kabinet Burhanuddin Harahap (1955-1956).
Sumitro lalu berseberangan jalan dengan Presiden Sukarno dan bergabung dengan kelompok pemberontak Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI). Saat pemberontakan tersebut dipadamkan, ia memutuskan hidup di luar negeri. Sumitro kembali ke tanah air setelah rezim Orde Baru berkuasa. Ia lantas diangkat sebagai Menteri Perdagangan dalam Kabinet Pembangunan I (1968-1973), dan Menteri Riset dan Pengembangan dalam Kabinet Pembangunan II (1973-1978).
Konsep Sumitronomics Sukses di Negara Maju
Purbaya mengklaim konsep Sumitronomics dipakai di beberapa negara maju. Misalnya di Korea Selatan dan Singapura, pertumbuhan ekonomi mereka rata-rata di atas 7,5% selama sepuluh tahun sebelum menjadi negara maju.
Kemudian, ada juga negara China yang saat ini menjadi negara dengan ekonomi terbesar kedua setelah Amerika Serikat. Menurut Purbaya, ekonomi China tumbuh melampaui 10% selama 2003, 2007, dan 2010 karena adanya strategi yang tepat.
(cyu/pal)











































