Di tengah gempuran modernisasi, masyarakat Dayak Golik di perbatasan Indonesia-Malaysia masih menggenggam erat warisan leluhur. Hingga kini mereka masih melakukan pengobatan tradisional berbasis tanaman hutan.
Uniknya, ilmu ini tidak sembarang diwariskan, bahkan ada yang menyebut pengobatan spiritual. Fakta ini diungkap oleh peneliti dari Pusat Riset Bahasa, Sastra, dan Komunitas (PR BSK) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Dwi Wahyuni.
Dalam webinarnya bertajuk "Eksplorasi Bahasa dan Sastra dalam Etnomedisin Masyarakat Etnik di Perbatasan", Dwi mengangkat hasil risetnya di wilayah perbatasan Kalimantan Barat, tepatnya Kecamatan Beduai, Entikong, dan Sekayam, Kabupaten Sanggau.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Wilayah ini dihuni masyarakat Dayak Golik yang masih mengandalkan tanaman hutan sebagai pengobatan utama. Hal itu dilakukan karena keterbatasan akses layanan kesehatan.
120 Tanaman Digunakan sebagai Obat Alami
Pada tahun pertama penelitiannya, Dwi dan tim mencatat ada 82 jenis tanaman obat dan 38 tanaman rempah yang digunakan. Khususnya untuk perawatan kesehatan reproduksi perempuan.
"Tanaman seperti jahe, kencur, lengkuas, sirih, kemiri, kunyit, dan berbagai jenis dedaunan lokal digunakan dalam berbagai bentuk ramuan, baik untuk diminum, dilulurkan, ataupun sebagai campuran air mandi," jelas Dwi dikutip dari laman BRIN, Sabtu (30/8/2025).
Tradisi Pengobatan Diturunkan Lewat Ilham
Namun, pengobatan ini bukan sekadar fisik. Ada juga aspek spiritual yang kental dan sudah diturunkan dari generasi sebelumnya ke komunitas tertentu.
Yang membuat praktik ini semakin eksklusif adalah sistem pewarisan ilmunya yang sangat tertutup. Tidak semua orang bisa belajar.
"Ada sistem pewarisan yang sangat tertutup. Pengetahuan ini dianggap sakral dan tidak bisa sembarangan diajarkan kepada orang lain," ujarnya.
Bahkan, Dwi menemukan bahwa budaya ini tidak semerta-merta diturunkan begitu saja. Hanya orang tertentu saja yang menerima mimpi/ilham yang dapat mewarisi.
"Sistem pewarisan ini masih secara lisan, belum terdokumentasi secara ilmiah. Nah, di sini, peran kita sebagai peneliti untuk mendokumentasikan itu!" tegas Dwi.
Tradisi Dayak Golik Ini Terancam Punah
Sayangnya, di tengah arus modernisasi, generasi muda mulai meninggalkan tradisi ini. Dwi mengaku khawatir jika pengetahuan langka ini hilang sebelum sempat terdokumentasi secara ilmiah.
"Generasi muda semakin sedikit yang tertarik mempelajari pengobatan tradisional. Jika tidak segera didokumentasikan, pengetahuan ini bisa hilang ditelan zaman," katanya.
BRIN melalui riset ini berharap bisa mendukung pelestarian warisan lokal. Khususnya di wilayah-wilayah yang sering luput dari radar kebijakan nasional.
Penelitian ini juga membuka peluang kolaborasi lintas disiplin, dari ilmu kebahasaan, botani, farmasi, hingga antropologi. Harapannya, praktik etnomedisin ini tak hanya dikenang sebagai bagian dari masa lalu, tapi juga berkontribusi pada masa depan kesehatan Indonesia.
(cyu/pal)