Hiu paus (Rhincodon typus) menjadi fauna ikonik di perairan Papua, Indonesia Timur. Namun selama ini belum ada data pasti populasinya. Sampai riset 13 tahun ini mengungkapnya!
Riset ini merupakan yang pertama menyoroti secara komprehensif dinamika populasi, pola residensi, dan ancaman terhadap spesies yang terancam punah ini di empat wilayah utama di Bentang Laut Kepala Burung (BLKB) yakni, Teluk Cenderawasih, Kaimana, Raja Ampat, dan Fakfak.
Riset yang dilakukan selama 13 tahun sejak September 2010 hingga Oktober 2023 ini dipimpin oleh Edy Setyawan dari Elasmobranch Institute Indonesia bersama dengan tim dari Indonesia (Badan Layanan Umum Daerah Unit Pelaksana Teknis Daerah (BLUD UPTD) Pengelolaan Kawasan Konservasi Perairan Kaimana, Konservasi Indonesia (KI) dan mancanegara (Conservation International, University of Western Australia, University of Adelaide, dan Shark Research Foundation) yang memberikan masukan dalam analisis data dan penulisan studi. Temuan-temuan dari riset ini menandai langkah penting untuk meningkatkan upaya pemantauan dan konservasi hiu paus di BLKB, khususnya di Teluk Cenderawasih dan Kaimana.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hasil Riset 13 Tahun
Edy mengungkapkan, riset ini dilakukan menggunakan data berbasis identifikasi fotografis (Foto ID) yang memanfaatkan pola totol dan garis yang unik tubuh hiu paus untuk membedakan setiap individu. Dari sebanyak 1.118 pengamatan, tim berhasil mengidentifikasi 268 individu hiu paus yang hampir seluruhnya ditemukan di sekitar bagan apung.
Dari 268 individu itu, 159 individu teramati di Teluk Cenderawasih dan 95 individu lain di Kaimana, demikian rilis Konservasi Indonesia (KI), Kamis (28/8/2025) ditulis Jumat (29/8/2025).
Data ini mengindikasikan tingginya interaksi antara hiu paus dengan aktivitas perikanan, khususnya bagan.
![]() |
Salah satu temuan penting dalam penelitian ini adalah masa menetap atau residensi hiu paus yang relatif tinggi di Teluk Cenderawasih dibandingkan dengan agregasi hiu paus di lokasi atau negara lain. Tingkat residensi hiu paus di Teluk Cenderawasih rata-rata 77 hari, sementara di Kaimana hanya setengahnya dengan rata-rata 38 hari.
Selain itu, lebih dari setengah dari total individu yang diidentifikasi teramati lebih dari satu kali. Bahkan, ada dua individu masih terlihat berada ke wilayah ini dalam rentang waktu lebih dari 10 tahun.
"Temuan kami menunjukkan bahwa BLKB menjadi habitat penting bagi populasi hiu paus muda yang menggunakan kawasan ini untuk makan dan tumbuh berkembang sebelum mereka bermigrasi ke laut lepas. Di seluruh perairan Indo-Pasifik, populasi hiu paus terus menurun hingga 63%. Dengan demikian, keberlangsungan populasi hiu paus di BLKB sangat penting dalam upaya pemulihan populasi ikan yang terancam punah ini," ungkap Edy Setyawan, pemimpin riset ini.
Saran Konservasi
Riset juga menekankan pentingnya upaya pengelolaan wisata berbasis bagan secara hati-hati untuk mengurangi risiko luka akibat interaksi dengan bagan dan kapal. Hasil riset mengungkap bahwa 76,9% hiu paus di BLKB mengalami sejumlah luka, mulai dari abrasi/goresan, sayatan, amputasi sirip, hingga bekas gigitan pemangsa.
Meski hanya sebagian kecil luka yang diakibatkan baling-baling kapal yaitu sekitar 2,4%, namun proporsi luka yang terkait interaksi manusia baik melalui perikanan maupun wisata tetap tinggi, utamanya di perairan Kaimana, mencapai 83,7%.
"Penelitian ini merekomendasikan desain bagan ramah hiu paus, penerapan kode etik wisata, dan pengawasan ketat aktivitas perikanan serta pelayaran. Konservasi hiu paus adalah tanggung jawab bersama. Bukan hanya ilmuwan, tetapi juga masyarakat, pelaku wisata, dan pelaut. Pariwisata hiu paus dapat menjadi penggerak ekonomi lokal, namun harus dikelola dengan aturan yang jelas agar tidak menimbulkan luka pada hiu paus maupun dampak negatif pada ekosistem," ujar Mochamad Iqbal Herwata Putra, yang terlibat dalam riset ini dari Yayasan Konservasi Cakrawala Indonesia.
"Dengan tingkat residensi tinggi di Teluk Cenderawasih dan Triton, hiu paus adalah aset berharga. Karena itu, kami mendorong regulasi modifikasi bagan, seperti menghilangkan bagian tajam untuk mengurangi risiko luka saat hiu paus berinteraksi di sekitar bagan," imbuh Iqbal.
Selain menyajikan temuan ilmiah, riset ini juga memberikan rekomendasi praktis baik dalam pengelolaan maupun penelitian. Tim ilmuwan juga mendorong perluasan pemantauan dan identifikasi individu hiu paus melalui integrasi basis data foto ID lintas lembaga, melibatkan wisatawan, nelayan, dan masyarakat lokal dalam sains warga.
Penggunaan teknologi seperti pelacakan jarak jauh (telemetry) menggunakan satelit dan perekaman data biologis (biologging) juga diusulkan untuk memahami lebih mendalam mengenai pola migrasi, struktur populasi, dan penggunaan habitat dengan lebih akurat.
Riset yang berjudul 'Insights into the population demographics and residency patterns of photo-identified whale sharks Rhincodon typus in the Bird's Head Seascape, Indonesia' ini sudah terbit di Jurnal Frontiers Marine Science, Volume 12 - 2025 yang terbit 28 Agustus 2025.
(nwk/pal)