Jam Kiamat Maju 90 Detik, Invasi Rusia ke Ukraina Turut Jadi Alasan

Jam Kiamat Maju 90 Detik, Invasi Rusia ke Ukraina Turut Jadi Alasan

Novia Aisyah - detikEdu
Rabu, 25 Jan 2023 10:00 WIB
Jam Kiamat
Foto: Jamie Christiani/Bulletin of the Atomic Scientists/ Jam Kiamat atau Doomsday Clock
Jakarta -

Para pakar dari Bulletin of The Atomic Scientist (BAS) telah mengatur Jam Kiamat atau Doomsday Clock menjadi 90 detik menuju tengah malam. Artinya, pengaturan ini adalah yang paling dekat daripada sebelum-sebelumnya.

Pengaturan jarum Jam Kiamat terdekat dengan tengah malam yang pernah dilakukan adalah 100 detik. Hal itu berlaku pada 2020, 2021, dan 2022.

Bagi yang belum tahu, Doomsday Clock adalah simbol untuk mewakili seberapa dekat manusia dengan kehancuran dunia akibat teknologi berbahaya buatan manusia sendiri. Sebagaimana dijelaskan dalam laman University of Chicago Office of Communications, Jam Kiamat menunjukkan metafora menit menuju tengah malam sebagai lambang berapa lama peradaban manusia bisa bertahan.

Alasan Memajukan 'Kiamat' Jadi 90 Detik

BAS setiap tahunnya mengatur jarum Doomsday Clock. Pada tahun 2023, mereka memajukan jarum Jam Kiamat 90 detik menuju musnahnya peradaban manusia karena sejumlah alasan utama.

BAS melakukan hal ini karena invasi berkelanjutan Rusia ke Ukraina, krisis iklim, dan ancaman biologis seperti penyebaran COVID-19 yang tidak terdeteksi.

Dewan Sains dan Keamanan BAS mengadakan dua pertemuan per dua tahunan dalam menentukan jarum jam setiap tahunnya. Pada pertemuan ini, hadir 18 ahli dari latar belakang yang mencakup ilmu nuklir, perubahan iklim, sejarah militer, dan lain sebagainya.

Saat menilai berbagai ancaman di dunia, BAS juga berkonsultasi kepada rekan-rekan mereka di bidang terkait dan Dewan Sponsor BAS. Terdapat 11 orang dalam dewan tersebut yang merupakan penerima Nobel.

"Jam Kiamat membunyikan alarm untuk seluruh umat manusia. Kita sedang berada di ambang jurang. Namun, para pemimpin kita tidak bertindak dengan kecepatan atau skala yang cukup untuk mengamankan planet yang damai dan layak huni," ujar Mary Robinson, ketua organisasi hak asasi manusia The Elders sekaligus mantan Komisaris Tinggi PBB untuk HAM dalam pernyataannya, dikutip dari Live Science.

"Mulai dari memangkas emisi karbon sampai memperkuat perjanjian pengendalian senjata dan investasi kesiapsiagaan pandemi, kita tahu apa yang harus dilakukan. Ilmunya jelas, tetapi kemauan politiknya kurang. Ini harus berubah pada 2023 jika kita ingin mencegah bencana," ungkapnya.



Simak Video "Bumi Makin Tua, Begini Cara Ilmuwan Menunda Kiamat "
[Gambas:Video 20detik]
(nah/nwk)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia