Revolusi Cina 1911-1912: Kronologi, Latar Belakang, dan Pengaruhnya bagi Indonesia

Revolusi Cina 1911-1912: Kronologi, Latar Belakang, dan Pengaruhnya bagi Indonesia

Putri Tiah - detikEdu
Kamis, 08 Des 2022 07:30 WIB
Suasana bagian dalam Tembok Besar China di Kota Jiayuguan, Provinsi Gansu, China, Senin (7/6/2021). Tembok yang dibangun oleh Dinasti Ming pada tahun 1372 tersebut merupakan benteng pertahanan militer terkuat yang pernah dimilliki China pada saat itu untuk menangkal serangan dari Mongolia. ANTARA FOTO/M. Irfan Ilmie/wsj.
Foto: ANTARA FOTO/M. IRFAN ILMIE/ilustrasi sejarah cina
Jakarta -

Revolusi Cina adalah gerakan yang ditujukan untuk melawan dan meruntuhkan dinasti terakhir Tiongkok yakni Dinasti Manchu. Simak sejarah Revolusi Cina di bawah ini.

Mengutip dari buku "Bestie Book Sejarah SMA/MA Kelas X, XI, XII" oleh The King Eduka, dari zaman kuno hingga 1912, Tiongkok selalu diperintahkan oleh dinasti (raja-raja dari satu keturunan).

Dinasti terakhir Tiongkok adalah Dinasti Manchu atau Dinasti Qing yang berkuasa dari tahun 1644-1912. Tiongkok sendiri adalah negara yang tertutup bagi bangsa asing yang dianggapnya lebih rendah dan belum beradap (barbar) daripada bangsa Tionghoa.

Adanya anggapan bahwa Dinasti Qing (Manchu) adalah dinasti asing ini menjadi salah satu pendorong rakyat cina untuk melawan Kaisar Ratu Tze Syi/Ci-Xi (kaisar terakhir dinasti Manchu) dan memicu Revolusi Cina.

Selain itu, Revolusi Cina mempunyai tujuan untuk menghapus sistem monarki dan menggantinya dengan republik pada tahun 1911, dipimpin oleh Dr. Sun Yat Sen, seperti dikutip dari buku Hafal Mahir Sejarah SMA/MA Kelas 11, 12, 13 oleh Santi Sari Dewi, M. Pd.

Latar Belakang Revolusi Cina

Mengutip dari jurnal ilmiah berjudul Sejarah Runtuhnya Dinasti Manchu Awal Abad Ke 20 oleh Yadi Kusmayadi, terjadinya Revolusi Cina bermula dari pedagang-pedagang Inggris yang mengalami kerugian ketika melakukan perdagangan di Cina.

Sehingga untuk menutupi kerugian tersebut, Inggris menyelundupkan candu yang diperoleh dari India. Pada awalnya hubungan perniagaan Cina dan Inggris berlangsung damai.

Namun, setelah diketahuinya kegiatan Inggris sangat membahayakan bagi kelangsungan hidup bangsa Cina, Kaisar Manchu memerintahkan supaya pedagang candu dilarang.

Akibat perbuatan kaisar tersebut menimbulkan kemarahan Inggris yang menyebabkan terjadinya perang candu.

Kekalahan yang dialami Cina pasca perang candu, memaksa Cina harus membayar ganti rugi dan membuka beberapa pelabuhan bagi Inggris juga bangsa Eropa lainnya, sehingga Cina terbagi atas beberapa daerah pengaruh yang dikuasai bangsa-bangsa Barat dengan tidak tunduk kepada hukum yang berlaku di Cina.

Di samping harus menghadapi perlawanan dari bangsa asing, Tiongkok juga harus menghadapi perlawanan dari rakyatnya sendiri, seperti keterangan yang dikutip dari buku Modul Pembelajaran SMA Sejarah oleh Kemendikbud RI.

Kronologi Revolusi Cina

Terjadinya pemberontakan Taiping pada tahun 1850-1864, didasari cita-cita bangsa Cina untuk mendirikan negara damai abadi (Taiping Tie Kuo).

Kemudian, terdapat Pemberontakan Boxer pada tahun 1900-1901 yang disebabkan kebencian rakyat tiongkok terhadap bangsa asing. Karenanya, rakyat Cina ingin membersihkan bangsa asing dan pengaruhnya dari tanah airnya.

Gerakan untuk membersihkan bangsa asing ini muncul di Tiongkok Utara dan menamai gerakannya "Tinju Keadilan". Semua anggotanya memahirkan diri dalam silat untuk membinasakan bangsa asing.

Puncak ketidaksenangan rakyat pada Dinasti Qing dan bangsa Barat semakin berkembang sehingga menciptakan perasaan nasional yang dipelopori oleh golongan terpelajar.

Salah satu kaum terpelajar yang akan menjadi tokoh utama mempelopori cita-cita nasional adalah Dr. Sun Yat Sen.

Kaum terpelajar memulai aksinya dengan mendirikan berbagai organisasi dan pada tahun 1905, Dr. Sun Yat Sen berhasil menyatukan semua organisasi yang didirikan kaum terpelajar tersebut dengan cara mendirikan Tung Meng Hui.

Tung Meng Hui mempunyai tiga sendi kedaulatan rakyat (San Min Chui), meliputi nasionalisme, demokrasi, dan sosialisme.

Perasaan nasionalisme semakin melebar ke kalangan tentara dan anggota dewan di provinsi-provinsi dengan menciptakan berbagai kesatuan untuk melancarkan pemberontakan dalam upaya melenyapkan kekuasaan Manchu.

Keberhasilan yang ditorehkan kaum terpelajar ditunjukkan oleh sebuah revolusi pada tanggal 10 November 1911, yang Meletus di Wuchang dan Dr. Sun Yat Sen memproklamasikan Republik Tiongkok.

Dr. Sun Yat Sen diangkat menjadi presiden pertama dan melaksanakan pemerintahan di Nanking serta menguasai Cina bagian selatan yang memiliki pandangan modern.

Sementara bagian utara masih dikuasai pemerintahan Dinasti Qing, yang dikendalikan oleh kaum bangsawan dimana kedudukan kaisar hanya merupakan lambang belaka, terutama terkait penentuan kebijakan-kebijakan yang erat dengan sistem politik dan keamanan.

Pengaruh Revolusi Cina bagi Indonesia

Pengaruh dari Revolusi Tiongkok pada 1911-1912 yakni meningkatkan semangat angkatan muda Tionghoa di Hindia Belanda. Dalam bulan Februari 1912, mereka sudah semakin berani terhadap pemerintahan kolonial Belanda.

Hal ini mengakibatkan, bentrokan dengan polisi sehingga seorang Tionghoa tewas dan beberapa orang lainnya luka-luka. Boikot sudah berubah menjadi kekerasan di sana sini, sebagaimana dikutip dari buku Tionghoa Dalam Pusaran Politik oleh Benny G. Setiano.

Nah, itulah penjelasan mengenai sejarah Revolusi Cina beserta latar belakang dan kronologinya. Semoga menambah wawasan detikers ya!



Simak Video "Viral Polisi Jemput Ratusan Tentara Cina di Bandara, Polri: Hoax"
[Gambas:Video 20detik]
(faz/faz)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia