Alasan Pemberontakan Westerling Memakai Nama Perang Ratu Adil, Cari Simpati?

Alasan Pemberontakan Westerling Memakai Nama Perang Ratu Adil, Cari Simpati?

Nikita Rosa - detikEdu
Senin, 05 Des 2022 09:20 WIB
Gedung Divisi Siliwangi saat Bandung diduduki APRA, 23 Januari 1950. APRA menjadi tantangan penerapan Pancasila di awal masa kemerdekaan.
Alasan Westerling Menggunakan Nama Ratu Adil dalam APRA. (Foto: Wikimedia Commons/30 Tahun Indonesia Merdeka)
Jakarta -

Pemberontakan Westerling meletus pada 23 Januari 1950 di Bandung. Pemberontakan yang dipimpin oleh Raymond Westerling itu juga memakai nama Pemberontakan Angkatan Perang Ratu Adil (APRA). Apa alasannya?

Sebelumnya mari kenali dulu siapa pemimpin Pemberontakan APRA. Pemberontakan ini dipimpin oleh Raymond Westerling, seorang mantan kapten tentara Kerajaan Hindia Belanda Koninklijk Nederlandsch-Indische Leger (KNIL).

Dalam laman resmi Perumusan Naskah Proklamasi oleh Kemendikbud, Westerling berusaha untuk mempertahankan bentuk negara federal dan menolak Republik Indonesia Serikat (RIS). Westerling menilai, RIS di bawah Soekarno dan Hatta terlalu fokus pada wilayah Jawa atau Jawa sentris.

Alasan-alasan pemberontakan yang dilakukan Westerling dan APRA ini tertuang pada hasil Komisi Meja Bundar (KMB).

Latar Belakang Pemberontakan APRA

Konferensi Meja Bundar pada Agustus 1949 menghasilkan keputusan:

1. Kerajaan Belanda akan menarik pasukan KL (Koninklijk Leger) dari Indonesia.
2. Tentara KNIL (Koninklijk Nederlandsch-Indische Leger) akan dibubarkan dan akan dimasukkan ke dalam kesatuan-kesatuan TNI.

Atas hasil KMB itu, pasukan KL dan KNIL merasa dirugikan dan takut mengalami hukuman atau ancaman saat menyatu dengan TNI kelak.

Akhirnya, seorang Komandan dari kesatuan khusus Depot Speciale Troopen (DST), Kapten Raymond Westerling memanfaatkan keadaan. Berangkat dari ketidaksetujuannya akan bentuk negara Republik Indonesia Serikat (RIS) dan ketakutan para tentara, Westerling berhasil mengumpulkan 8.000 pasukan dari desertir dan anggota KNIL.

Nama pasukan itu kemudian dinamakan Ratu Adil dari kitab Jangka Jayabaya tentang datangnya "Sang Ratu Adil".

Alasan Pemberontakan Westerling memakai nama Perang Ratu Adil karena Westerling ingin menarik simpati dan dukungan dari rakyat Indonesia.

Istilah Ratu Adil dikenal dalam ramalan Sri Mapanji Jayabaya, seorang Raja Kediri yang bertakhta dari tahun 1135-1179.

Salah satu ramalan yang terkenal adalah akan datangnya seorang Ratu Adil, atau Satrio Piningit. Ratu Adil ini akan membawa kesejahteraan bagi rakyat Jawa dan membebaskan dari tirani.

Ramalan inilah yang dimanfaatkan oleh Raymond Westerling untuk mengumpulkan pengikut dan membentuk Angkatan Perang Ratu Adil (APRA) pada tahun 1950.

Pemberontakan APRA

Para pasukan APRA menyerang wilayah Jakarta dan Bandung. Hal ini karena Jakarta pada kala itu sedang ramai dilakukan Sidang Kabinet RIS untuk membahas kembalinya Indonesia ke bentuk negara kesatuan.

Kemudian, APRA juga menargetkan kota Bandung karena situasi kota belum sepenuhnya dikuasai oleh pasukan Sliwangi. Ditambah pula dengan basis kekuatan militer Belanda yang kuat di Bandung.

Pertempuran di Bandung ini rupanya tak seimbang. Sebanyak 800 pasukan APRA melawan 100 tentara Siliwangi yang tersisa di markas. Pertempuran ini menewaskan Letkol Adolf Lembong. Akhirnya, APRA menguasai markas Siliwangi.

Akhir Pemberontakan APRA

Pada Januari 1950, Presiden RIS Sukarno menunjuk Hamid sebagai menteri negara tanpa portofolio sekaligus koordinator tim perumusan lambang negara. Menteri tanpa portofolio adalah menteri pemerintahan tanpa tanggung jawab spesifik atau tidak mengepalai kementerian tertentu.

Kemudian Hamid menjalin mufakat dengan Westerling karena ingin mempertahankan negara federal dan kecewa dengan jabatannya yang hanya sebagai menteri tanpa portofolio.

Menurut Buku Modul Sejarah Indonesia kelas XII oleh Kemendikbud, Hamid mengakui telah memberi perintah kepada Westerling dan Inspektur Polisi Frans Najoan untuk menyerang sidang Dewan Menteri RIS pada 24 Januari 1950.

Dalam penyerbuan itu, Hamid juga memerintahkan agar semua menteri ditangkap, sedangkan Menteri Pertahanan Sultan Hamengku Buwono IX, Sekretaris Jenderal Ali Budiardjo, dan Kepala Staf Angkatan Perang RIS (APRIS) Kolonel T B Simatupang harus ditembak mati.

Moh Hatta akhirnya turun langsung untuk berunding dengan Komisaris Tinggi Belanda. Akhirnya, Mayor Jenderal Engels yang merupakan Komandan Tinggi Belanda di Bandung mendesak Westerling untuk meninggalkan Kota Bandung. Pemberontakan tentara "Ratu Adil" pun dihentikan oleh pasukan APRIS.



Simak Video "Permintaan Maaf Ratu Adil-Imam Mahdi Karawang yang Bikin Geger"
[Gambas:Video 20detik]
(nir/pal)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia