Sistem Ekonomi Gerakan Benteng: Tujuan, Pencetus, dan Program-program

Cicin Yulianti - detikEdu
Kamis, 24 Nov 2022 10:00 WIB
Ilustrasi uang koin, uang logam, uang receh
Ilustrasi (Foto: Getty Images/iStockphoto/Kadek Bonit Permadi)
Jakarta -

Sistem ekonomi gerakan benteng adalah salah satu cara perbaikan dan perubahan struktur ekonomi peninggalan Belanda menuju ekonomi nasional. Artinya, usaha dari sistem ekonomi gerakan benteng ini adalah mengubah sistem ekonomi kolonial menjadi ekonomi nasional.

Pada saat itu, sistem ekonomi mengalami berat sebelah atau lebih condong dan menguntungkan penduduk kolonial. Oleh karena itu, sistem ekonomi gerakan benteng ini diharapkan dapat menjadi pengubah nasib pengusaha pribumi.

Tujuan Sistem Ekonomi Gerakan Benteng

Mengutip buku Ilmu Pengetahuan Sosial (Geografi, Sejarah, Sosiologi, Ekonomi) untuk Kelas IX Sekolah Menengah Pertama oleh Nana Supriatna dkk (2004), tujuan dari sistem ekonomi gerakan benteng adalah untuk melindungi pengusaha-pengusaha pribumi dari penguasaan pengusaha nonpribumi. Sistem ekonomi ini berlangsung pada tahun 1950 - 1953.

Pada masa itu terdapat 700-an pengusaha pribumi yang diberi modal berupa kredit. Harapannya adalah pengusaha pribumi dapat menghemat devisa lewat pengurangan volume impor. Namun, kenyataannya bantuan modal tersebut tidak dapat dimaksimalkan oleh penerima karena kinerja mereka lamban.

Namun, tujuan dari sistem ekonomi benteng ini tidak terealisasi atau dengan kata lain mengalami kegagalan. Sistem ini membuat keuangan negara mengalami defisit. Pada tahun 1952, defisit yang dialami mencapai angka tiga miliar rupiah ditambah dengan sisa defisit keuangan di tahun sebelumnya yakni sebesar 1,7 milyar rupiah.

Pencetus Sistem Ekonomi Gerakan Benteng

Dalam buku Sejarah SMA Kelas XII oleh M Habib Mustopo dkk (2006) disebutkan bahwa sistem ekonomi gerakan benteng adalah gagasan yang dicetuskan oleh Dr. Soemitro Djojohadikusumo yakni Menteri Perdagangan pada masa pemerintahan Kabinet Natsir.

Soemitro merupakan ayah dari Menteri Pertahanan Kabinet Indonesia Maju era pemerintahan Presiden Joko Widodo, Prabowo Subianto.

Dr. Soemitro merupakan seorang guru besar FE UI yang ilmu ekonominya tidak usah dihiraukan kembali. Selain itu, ia pernah menempuh pendidikan di Netherland School of Economics dan Universite de Sorbonne.

Sebagai seorang ahli ekonomi, ia akhirnya menduduki jabatan sebagai staf Perdana Menteri RI pada tahun 1946. Setelah itu, ia menjadi menteri di beberapa bidang yang berhubungan dengan ekonomi. Jabatan yang pernah ia duduki antara lain sebagai berikut:

· Menteri perekonomian pada tahun 1950 hingga 1951

· Menteri keuangan pada tahun 1952 hingga 1953

· Menteri perdagangan pada tahun 1968 hingga 1973

· Menteri negara riset pada tahun 1973 hingga 1978

Program-Program dalam Sistem Ekonomi Gerakan Benteng

Mengutip buku Strategi Cerdas SBMPTN Soshum oleh Ana Andriyani dkk (2018) beberapa program yang dilakukan dalam menerapkan sistem ekonomi gerakan benteng ini adalah:

  • Menumbuhkan kelas pengusaha yang berasal dari pribumi (bangsa Indonesia)
  • Para pengusaha pribumi kecil atau lemah diberi kesempatan untuk turut berpartisipasi dalam memajukan pembangunan ekonomi nasional
  • Para pengusaha pribumi yang lemah diberikan bimbingan dan bantuan kredit
  • Para pengusaha pribumi diharapkan dapat maju dan berkembang secara bertahap

Namun, pada akhirnya sistem ekonomi gerakan benteng ini mengalami kegagalan dikarenakan pengusaha yang menerima modal kurang gesit dalam mengelola bantuannya untuk perdagangan mereka. Alhasil, keuangan negara malah mengalami defisit.



Simak Video "Prabowo: Saya Mantan Prajurit, Dekat dengan Ulama-Habib "
[Gambas:Video 20detik]
(pal/pal)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia