Sejarah Pemberontakan Republik Maluku Selatan dan Tokoh yang Berperan

Putri Tiah Hadi Kusuma - detikEdu
Rabu, 23 Nov 2022 18:30 WIB
Kapal RMS Titanic sebelum berlayar, sekitar Februari-Maret 1912, difoto oleh fotografer resmi perusahaan Harland & Wolff, Robert John Welch (1859-1936).
Foto: Robert John Welch/Harland & Wolff/Wikimedia Commons/Sejarah Pemberontakan Republik Maluku Selatan dan Tokoh yang Berperan
Jakarta -

Pemberontakan Republik Maluku Selatan (RMS) adalah gerakan separatis yang bertujuan ingin memisahkan diri dari Negara Indonesia Timur (NIT) dan RIS (Republik Indonesia Serikat).

Pemberontakan Republik Maluku Selatan (RMS) adalah gerakan separatis yang bertujuan ingin memisahkan diri dari Negara Indonesia Timur (NIT) dan RIS (Republik Indonesia Serikat). Pemberontakan RMS, diproklamirkan pada 25 April 1950 yang berlokasikan di Ambon sebagai markas pusat.

Tokoh yang mendirikan pemberontakan RMS adalah seorang mantan Jaksa Agung di Negara Indonesia Timur, bernama Dr. Christian Robert Steven Soumokil. Pemberontakan ini merupakan kelanjutan dari pertentangan antar golongan unitaris dan federalis yang telah berkembang tahun 1946.

Selain itu, pemberontakan ini juga bagian dari pergolakan di Makassar sejak pemberontakan Andi Aziz pada awal 1950. Pemberontakan RMS dilatarbelakangi adanya keinginan mempertahankan negara federal.

Demikian, dikutip dari dari buku Explore Sejarah Indonesia Jilid 3 untuk SMA/MA Kelas XII oleh Dr. Abdurakhman, S.S., M.Hum

Kronologi Latar Belakang Pemberontakan RMS

Berdirinya pemberontakan RMS dilatarbelakangi oleh kondisi situasi politik di Maluku yang sedang tidak menentu, terutama setelah Konferensi Meja Bundar. Masa peralihan RIS menimbulkan ketegangan dalam masyarakat Ambon.

Persoalan pemicu pemberontakan RMS ini bermula, dari pemikiran beberapa orang Ambon yang berkuasa pada masa NIT. Hal tersebut, mengakibatkan masyarakat di Ambon mengalami pertentangan sehingga terpecah menjadi dua kelompok, yakni kelompok republik yang berorientasi pada nasionalisme Indonesia.

Sementara di pihak lain, kelompok federalis atau pro-Belanda yang tergabung dalam organisasi Gabungan Sembilan yang berorientasi mendukung kolonialisme Belanda, seperti dikutip di buku Bahan Pembelajaran Sejarah Nasional Indonesia VI oleh Syarifuddin.

Pada 13 April 1950, Dr. Soumokil mengadakan rapat dengan berbagai pihak di Ambon. Pada tahun 23 April 1950, Dr. Soumokil menyelenggarakan rapat rahasia di Tulehu. Hasil dari rapat tersebut, melahirkan sebuah gagasan untuk mendirikan Republik Maluku Selatan dan disepakati pula pelaksanaan proklamasi Republik Maluku Selatan akan dilakukan oleh pemerintah daerah.

Pemerintah daerah yang ditunjuk untuk memproklamasikan Republik Maluku Selatan adalah Kepala Daerah Maluku Selatan, J. Manuhutu. J. Manuhutu, dipaksa hadir dalam rapat rahasia Dr. Soumokil. Di bawah tekanan pasukan KNIL, J. Manuhutu akhirnya menyetujui perintah terkait proklamasi Republik Maluku Selatan.

Menindaklanjuti hal tersebut, pada 25 April 1950 pemerintahan Maluku Selatan mengikrarkan proklamasi Republik Maluku Selatan. Selain itu, Dr. Soumokil menjabat sebagai Presiden RMS.

Menjelang waktu proklamasi, Dr. Soumokil sudah berhasil menghimpun kekuatan pasukan KNIL dan pasukan Baret Hijau yang terlibat dalam pemberontakan Andi Aziz di Ambon. Sebenarnya Dr. Soumokil ikut terlibat dalam pemberontakan Andi Aziz. Namun, ia berhasil kabur ke Maluku dan memindahkan pasukan KNIL dari Makassar ke Ambon.

Pemberontakan Andi Aziz dan pemberontakan RMS memiliki kesamaan tujuan, yakni ketidakpuasan mereka terhadap proses kembalinya RIS ke Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Hal ini mengutip dari buku Sejarah: Kelas XII oleh M. Habib Mustopo.


Upaya Mengatasi Pemberontakan Republik Maluku Selatan

Pada awalnya pemerintah pusat mencoba mengirim pasukan tim yang dipimpin oleh Dr. Leimena untuk menyelesaikan pemberontak RMS dengan cara damai. Akan tetapi, upaya damai tersebut gagal sehingga pemerintah menerjunkan pasukan ekspedisi yang dipimpin oleh Kolonel A.E.Kawilarang untuk menumpas pemberontakan.

Pada 14 Juli 1950, pasukan ekspedisi APRIS/TNI mendarat di Pulau Laha, Pulau Buru dengan dilindungi Korvet Pati Unus. Dengan susah payah akibat belum mengenal medan, Pulau Buru berhasil diduduki oleh APRIS dan pos-pos penting berhasil direbut. Setelah Pulau buru dikuasai, pasukan APRIS bergerak menuju ke Pulau Seram.

Gerakan pasukan-pasukan APRIS di Pulau Seram, mengalami kesulitan dan mengakibatkan banyak korban berjatuhan. Hal ini disebabkan, pemberontakan RMS memusatkan kekuatan pasukannya di Pulau Seram.

Setelah Pulau Seram dapat dikuasai, pergerakan pasukan APRIS diarahkan ke Ambon yang menjadi tempat kedudukan RMS. Pada 3 November 1950, Kota Ambon berhasil dikuasai oleh pasukan-pasukan APRIS meski banyak menelan korban.

Pasukan APRIS yang bergerak ke Ambon dipecah menjadi tiga kelompok. Grup pertama, dipimpin oleh Mayor Achmad Wiranatakusuma. Grup kedua, dipimpin oleh Letnan Kolonel Slamet Rijadi. Grup ketiga, dipimpin oleh Mayor Suryo Subandrio.

Dalam pertempuran jarak dekat memperebutkan benteng Nieuw Victoria, Letnan Kolonel Slamet Rijadi menjadi salah satu korbannya. Setelah Kota Ambon jatuh ke tangan pemerintah, sisa-sisa pasukan pemberontakan RMS melarikan diri kehutan dan selama beberapa tahun mereka melakukan aksi gerilya dan membuat kegiatan pengacauan.

Demikian, dikutip dari Buku Sejarah oleh Nana Supriatna dan buku Sejarah SMP/MTs Kelas IX (KTSP) oleh Dr. Nana Nurliana Soeryono, MA. Sampai di sini sudah mengerti tentang pemberontakan Republik Maluku Selatan?



Simak Video "Serunya Bermain Air di Sungai Desa Sawai Bersama Anak-anak, Maluku"
[Gambas:Video 20detik]
(nwy/nwy)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia