Terungkap! Mumifikasi Mesir Kuno Ternyata untuk Spiritual, Bukan Pengawetan

Terungkap! Mumifikasi Mesir Kuno Ternyata untuk Spiritual, Bukan Pengawetan

Nograhany Widhi Koesmawardhani - detikEdu
Rabu, 23 Nov 2022 08:30 WIB
Mumi yang bernama Isaious, putri dari Demetrios (Foto: Manchester Museum)
Foto: Mumi yang bernama Isaious, putri dari Demetrios (Foto: Manchester Museum)
Jakarta -

Orang-orang Mesir kuno melakukan mumifikasi pada jasad manusia ternyata bukan bertujuan untuk pengawetan. Terungkap tujuannya lebih ke arah spiritual.

Miskonsepsi ini diungkap oleh ilmuwan Universitas Manchester, Campbell Price. Miskonsepsi tentang mumifikasi Mesir kuno ini akan diangkat dan disorot dalam pameran "Golden Mummies of Egypt" yang akan digelar di Museum Manchester, milik Universitas Manchester, awal tahun 2023 mendatang.

"Berbeda 180 derajat," kata Price yang juga merupakan kurator pameran "Golden Mummies of Egypt" seperti dilansir Live Science, Selasa (22/11/2022).

Bagaimana Miskonsepsi Terjadi?

Price menjelaskan ide dari ilmuwan Barat di masa Victoria salah menentukan bahwa orang-orang Mesir kuno mengawetkan jasad manusia seperti manusia modern melakukan pengawetan pada ikan. Alasannya, kedua proses itu melibatkan zat yang sama: garam.

"Ide bahwa kamu mengawetkan ikan untuk dimakan di masa depan. Jadi mereka (ilmuwan Barat era Victoria) mengasumsikan bahwa hal yang sama dilakukan pada jasad manusia," urai Price.

Price menjelaskan, bahwa substansi garam yang dipakai di era Mesir kuno berbeda dengan garam untuk mengawetkan ikan di masa modern.

Garam yang dipakai untuk mumifikasi jasad manusia di era Mesir kuno, diketahui sebagai natron. Natron ini adalah mineral yang terdiri dari sodium karbonat, sodium bikarbonat, sodium klorida, dan sodium sulfat. Mineral ini jamak dijumpai di dasar Sungai Nil, dan menjadi bahan utama mumifikasi.

"Diketahui pula natron ini digunakan dalam ritual-ritual di kuil, digunakan pula untuk membersihkan patung dewa-dewi," kata dia.

Dia menambahkan bahwa material lain yang umum diasosiasikan dengan mumi adalah kemenyan, yang juga dijadikan persembahan pada dewa-dewi.

"Lihatlah, dupa dan kemenyan, di kisah Yesus dalam agama Kristen ini adalah hadiah dari 3 orang bijak. Nah di Mesir kuno, kami menemukan bahwa dupa dan kemenyan ini juga sangat pantas dijadikan persembahan untuk dewa," tuturnya.

Kemenyan, dalam bahasa Mesir kuno, imbuh Price, adalah 'senetjer' yang artinya 'untuk terhubung ke dewa-dewi'. (https://www.detik.com/tag/mesir-kuno)

"Jadi saat kamu membakar kemenyan di kuil, hal itu sangat pantas karena itu adalah rumah dewa dan itu membuat ruangan itu terasa terhubung ke dewa. Namun ketika bahan kemenyan itu dimasukkan ke jasad manusia, hal ini ibarat membuat jasad itu lebih terhubung ke dewa-dewi," jelas dia.

"Jadi pada akhirnya tujuannya bukan mengawetkan jasad itu," tambah Price.

Ilmuwan Barat di era Victorian juga percaya bahwa jasad manusia akan membutuhkan tubuh mereka di kehidupan setelah mati, yang mana hal ini mendukung miskonsepsi mumifikasi.

Arkeolog juga sering menemukan mumi ditempatkan di sarkofagus (peti batu) yang diukir mirip sekali dengan wajah jasad mumi yang ada di dalamnya. Hal ini diibaratkan seperti topeng.

"Dalam budaya Inggris, topeng itu adalah sesuatu untuk mengaburkan identitas. Ini semacam gambaran yang mengungkapkan identitas. Objek-objek itu (sarkofagus dan kafan mumi) memberikan gambaran yang ideal tentang bentuk yang terhubung dengan dewa," tutup Price.

Lihat juga video 'Terungkap Wajah Mumi Hamil Pertama di Dunia':

[Gambas:Video 20detik]



(nwk/faz)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia