Guru Besar FE UM Ingatkan Ini agar Mahasiswa Tak Terjerat Pinjol

Guru Besar FE UM Ingatkan Ini agar Mahasiswa Tak Terjerat Pinjol

Nograhany Widhi K - detikEdu
Kamis, 17 Nov 2022 11:00 WIB
pinjam online
Guru Besar FE UM Prof Dr Heri Pratikto, MSi menjelaskan sejumlah langkah agar masyarakat, khususnya mahasiswa, tidak terjerat pinjol. Foto: Fauzan Kamil/Infografis detikcom
Jakarta -

Sekitar 300-an mahasiswa, 116 di antaranya dari IPB University, terjerat penipuan toko online dan pinjaman online (pinjol). Guru Besar Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang (FE UM) Prof Dr Heri Pratikto, MSi memberikan nasihat agar mahasiswa tak terjerat pinjol.

"Tersiar kabar berulang, pinjol telah memakan korban, dan saat ini ratusan mahasiswa yang terjebak atau lebih tepatnya dijebak oleh pinjol. Jebakan dengan segala atribut yang menyertainya," demikian tutur Prof Heri dalam keterangan tertulis kepada detikEdu, Kamis (17/11/2022).

Pria yang doktoralnya bidang pendidikan ekonomi ini mengemukakan sejumlah faktor kenapa pinjol bisa dengan mudah menjerat warga, dalam hal ini, mahasiswa.

Pertama, ekosistem perbankan Indonesia masih perlu perbaikan. Berdasarkan data, masih ada 50% penduduk yang berstatus unbankable atau underbankable.

"Sehingga mereka seringkali mengakses sumber pendanaan di luar perbankan. Dan sebagian orang via pinjol," tuturnya.

Kedua, masyarakat Indonesia adalah masyarakat yang belum mencapai tingkat literasi keuangan yang baik. Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Organisasi Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (Organisation for Economic Co-operation and Development/OECD) menunjukkan bahwa banyak masyarakat yang belum mengetahui produk jasa keuangan, manfaat, risiko, hak, dan kewajiban dari transaksi keuangan.

"Kondisi ini menyebabkan rentan terhadap penipuan seperti kredit, investasi dan pengelolaan keuangan," jelas dia.

Ketiga, masyarakat Indonesia belum memiliki literasi digital yang baik: tidak mengetahui bagaimana cara menggunakan peralatan digital secara aman; seringkali masih melakukan tindakan yang bisa membuat sebaran data dan identitas pribadi; masih belum mengetahui bagaimana mekanisme untuk melindungi data dan identitas pribadinya, di samping penyedia platform seringkali juga ceroboh dalam pengamanan platform digitalnya.

Keempat, masyarakat Indonesia telah hanyut dalam budaya konsumerisme. Budaya konsumerisme itu ditopang dengan platform-platform digital untuk menuntaskan hasrat konsumerisme tersebut.

"Kondisi tersebut di atas: lemahnya ekosistem perbankan, lemahnya literasi keuangan, lemahnya literasi digital dan budaya konsumerisme menjadi ladang yang subur untuk lahirnya pinjol-pinjol, baik yang legal maupun yang ilegal," jelas dosen Pendidikan Tata Niaga dan Kepala Pusat Halal UM ini.

Tips Menggunakan Pinjol, Mahasiswa Harus Bagaimana?

Heri mengatakan, sesungguhnya tidak masalah menggunakan pinjol, asalkan mencermati dan kritis kepada sederet syarat di bawah ini:

  1. Memastikan bahwa platform yang menyediakan pinjol tersebut legal atau sudah mendapatkan ijin dari OJK. Cek saja di ojk.go.id.
  2. Lakukan evaluasi pribadi, apakah pinjaman tersebut untuk kegiatan produktif atau konsumtif. Hindari melakukan pinjaman jika hanya untuk kegiatan konsumtif.
  3. Meningkatkan literasi keuangan dan literasi digital, dengan sering membaca, berdiskusi, dan berinteraksi sehingga terjadi akumulasi pengetahuan tentang keuangan dan digital.
  4. Jika benar mau melakukan pinjaman, lakukan komparasi dengan platform yang menyediakan skema pinjaman. Cari skema yang sesuai dengan profiling keuangan pribadi.
  5. Selalu menanyakan yang tidak jelas kepada penyedia platform, jangan melakukan penafsiran sendiri. Informasi harus clear sebelum kita bertindak. Jangan berspekulasi!

"Semoga ada manfaatnya, prinsip mahasiswa harus memiliki literasi keuangan yang baik, kehadiran fintech harus dimanfaatkan secara bijak dan proporsional. Kesadaran, kognisi, dan sikap atas pemanfaatan fintech dan medsos harus ditingkatkan dengan baik. Identifikasi atas kebutuhan, keinginan, dan demand harus cerdas, artinya bisa memilah dan memisah mana yang kebutuhan dan mana yang keinginan supaya tidak terjebak pada budaya konsumtif," pungkasnya.



Simak Video "Pernyataan Lengkap Kapolres Bogor soal Ratusan Mahasiswa Terjerat Pinjol"
[Gambas:Video 20detik]
(nwk/twu)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia