Mengenal Kongres Perempuan Indonesia, Momen Cikal Bakal Hari Ibu

Mengenal Kongres Perempuan Indonesia, Momen Cikal Bakal Hari Ibu

Devita Savitri - detikEdu
Selasa, 15 Nov 2022 15:00 WIB
Diorama Kongres Perempuan Indonesia I di Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta
Diorama Kongres Perempuan Indonesia I di Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta (Foto: Galeri detikEdu dok. Kemdikbud)
Jakarta -

Kongres Perempuan Indonesia adalah suatu momentum penting dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia khususnya kaum perempuan.

Bila menilik sejarahnya, Kongres Perempuan Indonesia bangkit dari semangat RA Kartini sebagai salah satu perempuan terkemuka dalam sejarah Indonesia.

Melansir buku Kesadaran Nasional dari Kolonialisme Sampai Kemerdekaan Volume 1 oleh Slamet Muljana peran Kartini adalah bangkitkan semangat agar kaum perempuan Indonesia bisa mencari pengetahuan, mencari kepandaian yang cukup untuk mencapai derajat yang layak.

Seruan tersebut tak sia-sia, lantaran usai Kartini meninggal dunia banyak sosok yang ikut memperjuangkan peran perempuan Indonesia, salah satunya Dewi Sartika.

Hingga akhirnya terbentuk perkumpulan-perkumpulan perempuan Indonesia. Perkumpulan perempuan pertama didirikan di Jakarta pada tahun 1912 bernama Putri Mardika atas prakarsa Budi Utomo.

Perkumpulan Putri Mardika bertujuan untuk memajukan pendidikan anak-anak terutama anak perempuan. Sejak saat itu, perkumpulan perempuan berkembang pesat.

Tidak kalah pentingnya dan perlu dicatat yaitu pada tanggal 22 April 1917 Perguruan Muhammadiyah mendirikan "Aisyiyah" di Yogyakarta dan 8 Juli 1917 didirikan "PIKAT" (Percintaan Ibu Kepada Anak Temurunnya) oleh Maria Walanda Maramis di Manado.

Pergerakan perempuan antara tahun 1920-1927, mulai tegas, bahkan ada yang ingin melangkah ke arah pergerakan politik. Mulai bermunculan pergerakan perempuan yang merupakan bagian dari organisasi politik.

Selain itu, terdapat juga organisasi perempuan yang berafiliasi pada organisasi pergerakan nasional, seperti Wanita Taman Siswa (1922), Jong Islamieten Bond Dames Afdeeling (1925), dan Putri Indonesia (1927).

Kongres Perempuan Indonesia I

Kongres Perempuan Indonesia I terinspirasi dan terdorong oleh semangat Kongres Pemuda Indonesia pada 28 Oktober 1928 yang lebih dikenal dengan sebutan Sumpah Pemuda.

Faktor pendorong dilaksanakannya Kongres Perempuan Indonesia I adalah keinginan para tokoh pergerakan perempuan untuk memperjuangkan kedudukan perempuan dalam bidang pendidikan, sosial dan kebudayaan.

Kongres tersebut merupakan hasil prakarsa 7 organisasi perempuan yakni Wanita Oetama, Wanita Taman Siswa, Putri Indonesia (PI), Aisyiyah, Jong Islamieten Bond (JIB) bagian perempuan, Wanita Katholik, dan Jong Java (JJ) bagian perempuan.

Dikutip dari buku Sejarah Nasional Pergerakan Indonesia yang diterbitkan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (1997), Kongres Perempuan Indonesia I berlangsung pada 22-25 Desember 1928.

Kongres tersebut digelar di Pendopo Joyodipuran yang sekarang menjadi kantor Balai Pelestarian Nilai Budaya di Jalan Brigjen Katamso 139 Yogyakarta.

Persiapan untuk menyelenggarakan Kongres Perempuan Indonesia Pertama ini dibicarakan selama satu minggu. Akhirnya berhasil dibentuk komite Kongres Perempuan Indonesia yang terdiri dari :

1. Ismudiyati (Wanita Oetama).
2. Sunaryati (PI).
3. Sukaptinah (JIB).
4. Nyi Hajar Dewantara ( WanitaTaman Siswa).
5. R.A Soekonto (WO).
6. Siti Muji'ah (Aisiyah).
7. R.A. Hardjodiningrat (Wanita Katholik).
8. Suyatien (PI).
9. Siti Hayinah (Aisiyah).
10. B. Murjati (JJ).

Setelah persiapan selesai, maka pada malam Ahad, 22-23 Desember 1928 sebagai permulaan diadakan resepsi untuk kaum perempuan dan laki-laki dalam Kongres Perempuan Indonesia Pertama yang dibuka oleh ketuanya yaitu R.A. Soekonto dari Wanita Oetama.

Susunan Pengurus Kongres Perempuan Indonesia I sebagai berikut :

Ketua Ny R.A. Sukonto dari Wanita Oetama
Wakil Ketua St. Mudjinah dari Aisyiyah
Penulis I St.Sukaptinah (Ny. Sunaryo Mangunpuspito) dari JIBDA
Penulis II Sunaryati (Ny. Sukemi) dari Putri Indonesia
Bendahara I Ny. Hardjodiningrat dari Wanita Katholik
Bendahara II R.A. Suyatin (Ny. Kartowiyono) dari Putri Indonesia
Anggota-anggota :

- Nyi Hajar Dewantara dari Wanita Taman Siswa
- Ny. Drijowongso dari Wanita PSII
- Ny. Muridan Noto dari Wanita PSII
- Ny. Umi Salamah dari Wanita PSII
- Ny. Ojohanah dari Aisyiyah
- Ny. Badiah Muryati dari Jong Java Dames Abdeeling
- Hajinah (Ny. Mawardi) dari Aisyiyah
- Ismudijati (Ny. A. Saleh) dari Wanita Oetama
- Ny. R.A. Mursandi dari Wanita Katholik

Kongres ini dihadiri kurang lebih 1000 orang dan kemudian menghasilkan berbagai keputusan-keputusan yakni sebagai berikut:

1. Mendirikan badan federasi bersama Perserikatan Perkumpulan Perempuan Indonesia (PPPI).
2. Menerbitkan surat kabar yang redaksinya dipercayakan kepada pengurus PPPI anggota-anggota redaksi terdiri dari : Nyi Hajar Dewantara, Nn. Hajinah, Ny. Ali Sastroamidjojo, Ismudiyati, Budiah, dan Sunaryati.
3. Mendirikan studiefonds yang akan menolong gadis-gadis tidak mampu.
4. Memperkuat pendidikan kepanduan putri.
5. Mencegah perkawinan anak-anak.
6. Mengirimkan mosi kepada pemerintah agar : (a) Secepatnya diadakan fonds bagi janda dan anak-anak; (b) Tunjangan bersifat pensiun (onderstand) jangan dicabut; (c) sekolah-sekolah putri diperbanyak.
7. Mengirimkan mosi kepada Raad Agama agar tiap talak dikuatkan secara tertulis sesuai dengan peraturan agama.

Perserikatan Perkumpulan Perempuan Indonesia (PPPI) yang didirikan pada tanggal 25 Desember 1928 memiliki usaha-usaha antara lain :
1. Mengadakan kongres setiap tahun untuk membicarakan kedudukan perempuan Indonesia.
2. Menerbitkan surat kabar yang merupakan sarana untuk membahas soal-soal perempuan.
3. Menjadi hakim pemisah untuk mendamaikan anggota-anggota yang berselisih.
4. Tempat kedudukan pengurus PPPI ditetapkan menurut jumlah anggota. Untuk pertama kali Mataram (Yogyakarta) menjadi tempat kedudukan pengurus.
Sejak momen Kongres Perempuan Pertama pada tanggal 22 Desember yang menjadi tanggal fusi perkumpulan perempuan seluruh Indonesia, setelah merdeka tanggal tersebut dijadikan sebagai Hari Ibu.

Kongres Perempuan Indonesia II

Tak berhenti di situ, Kongres Perempuan Indonesia kedua dilangsungkan di Jakarta tanggal 20-24 Juli 1935. Keputusan-keputusan dalam kongres tersebut ternyata sangat menyentuh dalam kehidupan berorganisasi untuk perjuangan perempuan jauh ke depan.

Keputusan Kongres Perempuan Indonesia II:

1. Dibentuk badan perserikatan dengan nama "Kongres Perempuan Indonesia " yang saat ini disebut KOWANI
2. Tiap-tiap tiga tahun sekali diadakan Kongres Perempuan
3. Pencanangan tentang kewajiban utama wanita Indonesia ialah menjadi "lbu Bangsa" , yang berarti berusaha menumbuhkan generasi baru yang lebih sadar akan kebangsaannya (sampai saat ini tetap diperingati setiap tanggal 22 Desember diadakan peringatan Hari Ibu).

Selain itu, kongres menetapkan pula dasar sementara Kongres Perempuan Indonesia (KPI) yakni nasionalisme, sosialisme dan keperempuanan. Ditegaskan bagaimanapun setiap perempuan Indonesia terutama harus menjadi perempuan bagi negaranya.

Kongres Perempuan Indonesia III

Tiga tahun kemudian, kongres itu rutin dilaksanakan, sampai akhirnya pada Kongres Perempuan Indonesia III ditetapkan bahwa Hari Ibu diperingati secara nasional pada tanggal 22 Desember.

Kongres ketiga ini dilaksanakan di Bandung pada tanggal 23 - 28 Juli 1938, dan dipimpin oleh Ny Emma Puradireja. Kongres ini membicarakan hak pilih dan dipilih bagi wanita di badan perwakilan.

Dalam kongres tersebut, disetujui RUU tentang perkawinan modern yang disusun oleh Ny. Maria Ulfah dan disepakati tanggal lahir PPI 22 Desember sebagai Hari Ibu.

Itulah sejarah singkat Kongres Perempuan Indonesia yang juga menjadi cikal bakal lahirnya hari Ibu Indonesia. Jadi makin tahu kan detikers? Selamat belajar!



Simak Video "Cara Desy Ratnasari Rayakan Hari Ibu Bersama Putrinya"
[Gambas:Video 20detik]
(pal/pal)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia