Lukisan Pengantin Revolusi & Prambanan/Seko Jadi Benda Cagar Budaya Nasional

Lukisan Pengantin Revolusi & Prambanan/Seko Jadi Benda Cagar Budaya Nasional

Novia Aisyah - detikEdu
Jumat, 04 Nov 2022 18:00 WIB
Lukisan Pengantin Revolusi & Prambanan/Seko Jadi Benda Cagar Budaya Nasional
Foto: Instagram/Kemdikbud RI/Lukisan Pengantin Revolusi & Prambanan/Seko Jadi Benda Cagar Budaya Nasional
Jakarta -

Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbudristek) Nadiem Anwar Makarim menetapkan lukisan Pengantin Revolusi karya Hendra Gunawan dan Lukisan Prambanan/Seko karya Sindoedarsono Sudjojono sebagai Benda Cagar Budaya Peringkat Nasional.

Keputusan tersebut termaktub dalam Keputusan Mendikbudristek Nomor 415/M/2022 tanggal 25 Oktober 2022.

Lukisan Pengantin Revolusi dan Prambanan/Seko sendiri sekarang disimpan dan jadi salah satu koleksi Museum Seni Rupa dan Keramik di Jakarta.

Lukisan Pengantin Revolusi adalah salah satu karya terbaik Hendra Gunawan. Sang maestro melukisnya pada 1955.

Dikatakan dalam Keputusan Mendikbudristek, Hendra Gunawan membuat sketsa lukisan tersebut dari tahun 1945. Dia terinspirasi oleh rekaman peristiwa pernikahan di suatu lokasi di Karawang, Jawa Barat.

Lukisan Pengantin Revolusi

Mengutip laman Direktorat Pelindungan Kebudayaan, Ditjen Kebudayaan Kemdikbudristek, lukisan Pengantin Revolusi menggambarkan peristiwa yang dialami sendiri oleh pelukisnya. Lukisan ini hadir di hadapan publik secara perdana pada 1957 di Hotel Des Indes, Jakarta.

Pengantin perempuan dan laki-laki dalam lukisan hanyalah orang biasa. Namun, pakaian yang mereka gunakan tidak biasa.

Pengantin laki-laki mengenakan jaket tentara. Sementara, gaun pengantin perempuan adalah kostum yang dipinjam dari penari topeng Betawi.

Digambarkan juga pengantin pria mendorong sepeda, sedangkan pengantin perempuan duduk di atas rangka besinya. Pasangan dalam lukisan ini dibuntuti arak-arakan sekelompok orang dan pemain tanjidor yang menjadi pusat perhatian para pejuang, tak terkecuali Hendra Gunawan sendiri.

Hendra Gunawan lahir di Bandung pada 11 Juni 1918 dan meninggal pada 17 Juli 1983 di Bali. Dia belajar melukis setelah lulus jenjang SMP dan ikut sanggar Abdullah Suriosubroto di Bandung.

Maestro kemudian bergabung dengan sanggar Wahdi Sumantra, pelukis yang pernah berguru juga ke sanggar Abdullah Suriosubroto. Di sanggar Wahdi itulah, Hendra Gunawan berjumpa dengan Affandi, Sudarso, dan Barli yang kemudian setuju membentuk Kelompok Lima pada 1938.

Lukisan Prambanan/Seko

Dikatakan dalam Keputusan Mendikbudristek Nomor 415/M/2022, S Sudjojono menggambarkan sebuah peristiwa yang terjadi saat perang gerilya antara tahun 1946-1949 dalam lukisan Prambanan/Seko.

Lukisan ini menggambarkan seorang seko yang dalam bahasa Jepang berarti prajurit pelopor, yang sedang mengintai di jalan masuk ke Yogyakarta di sekitar Jalan Prambanan. Prajurit pelopor adalah prajurit lini depan yang membuka jalan.

Lukisan Prambanan/Seko memperlihatkan realitas perang di garis belakang persiapan perang gerilya, penyusunan strategi atau penangkapan mata-mata.

S Sudjojono memiliki julukan sebagai Bapak Seni Rupa Indonesia Modern. Dia lahir pada Mei 1913 di Kisaran, Sumatra Utara dan wafat 25 Maret 1986 di Jakarta.

Julukan sebagai Bapak Seni Rupa Indonesia disematkan kepadanya karena dia adalah seniman pertama di negeri ini yang memperkenalkan modernitas seni rupa Indonesia berkonteks kondisi faktual Tanah Air.

S Sudjojono merupakan maestro yang selalu kreatif, tidak mandek di satu gaya atau tema. Objek lukisannya cenderung pada situasi faktual bangsa yang disampaikan secara jujur.

Di samping sebagai pelukis, S Sudjojono juga dikenal sebagai kritikus seni rupa pertama di Indonesia.



Simak Video "Meraup Cuan dari Lukisan Ukir Bambu"
[Gambas:Video 20detik]
(nah/faz)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia