Ramai Jasa Sewa Pacar, Dosen UM Surabaya Ingatkan soal Perilaku Antisipatif

Ramai Jasa Sewa Pacar, Dosen UM Surabaya Ingatkan soal Perilaku Antisipatif

Nikita Rosa - detikEdu
Jumat, 04 Nov 2022 12:30 WIB
Happy Asian couple having fun and laughing together in living room at home
Galeri detikEdu: Ramai Jasa Sewa Pacar. (Foto: Getty Images/iStockphoto/interstid)
Jakarta -

Jasa sewa pacar di media sosial sedang ramai beberapa waktu ini. Dengan tarif Rp 100 ribu sampai Rp 1,5 juta per jam, seseorang bisa 'menyewa' penyedia jasa untuk dijadikan rekan kencan.

Fenomena jasa sewa pacar ini bermula dari platform TikTok. Jasa ini merambat ke Twitter dengan beberapa penyedia jasa yang sudah siap memberikan katalognya.

Dalam katalog digital di website itu, calon pelanggan bisa meminta pacar sewaan menemani belanja, berburu makanan, hingga menemani untuk mengunjungi pesta pernikahan. Sementara, jasa yang diberikan dapat berupa foto bersama, pegangan tangan, merangkul pundak, hingga berkencan.

Ramainya kasus tersebut ditanggapi oleh Radius Setiyawan selaku Dosen di Universitas Muhammadiyah Surabaya (UM Surabaya). Begini tanggapannya.

Apa yang Menyebabkan Orang Menyewa Jasa Pacar?

Radius menyebut faktor yang membuat seseorang menggunakan jasa sewa pacar adalah tuntutan sosial yang tinggi sekaligus persoalan seksualitas. Menurutnya, fenomena sewa pacar di media sosial merupakan bagian dari perkembangan zaman. Mudahnya alat komunikasi membuat seseorang dengan mudah berinteraksi.

"Saya memprediksi, ke depan, fenomena ini bakal lebih ekstrem, interaksinya sangat mungkin tidak hanya bertemu di dunia nyata. Seseorang akan sangat mungkin melakukan hubungan seksual di dunia cyber untuk memuaskan hasratnya," kata Radius dalam laman UM Surabaya, Kamis (3/11/2022).

Ia menyebut, perkembangan dan meluasnya penggunaan internet memunculkan perubahan seksual yang memungkinkan seseorang melakukan eksplorasi melampaui batas-batas budaya, gender, usia, agama, bangsa, bahkan bentuk fisik.

"Ekspresi diri ini dapat disalurkan melalui social media, aplikasi digital, webcam interaktif, teknologi sentuhan (sense of touch), hingga aplikasi jasa sewa pacar," imbuhnya.

Tambahnya, anonimitas ruang siber membuat seseorang dapat mengekspresikan dengan atau tanpa identitas asli mereka. Hal ini sekaligus dapat dijadikan ruang mengusir kebosanan.

Cara Mengantisipasi Jawa Sewa Pacar

Radius menjelaskan, kecepatan teknologi hari ini memerlukan beberapa perilaku antisipatif agar tidak merugikan, yakni:

1. Kemampuan Membangun Batasan

Menurutnya, seseorang harus membangun kemampuan membangun justifikasi yang otoritatif atau batasan diri atas perilaku seks di dunia maya.

"Tujuannya adalah agar agama dan budaya tidak mengalami kegagapan menghadapi masa depan (shock future) yang terus memunculkan praktik-praktik baru," kata Radius lagi.

2. Hati-hati Keamanan Data Pribadi

Ia juga mengimbau calon pengguna jasa untuk berhati-hati. Pasalnya, mengakses website seperti jasa sewa pacar atau jasa kencan memungkinkan para penjahat siber untuk mengambil data pengguna dan menggunakannya secara tidak bertanggung jawab.

Tidak hanya itu, beberapa ancaman kejahatan juga bisa terjadi seperti penguntitan, spamming email, pelacakan data pekerjaan, hingga peretasan alamat IP.

Di akhir, Radius menyebut ramainya fenomena jasa sewa pacar menjadi sebuah tantangan baru bagi negara, agama, dan tatanan sosial masyarakat.

"Semoga kondisi ini mendapatkan perhatian, karena jika tidak, kondisinya akan lebih ekstrem dan menjadi petaka di masa depan," pungkas dosen Cross-Cultural Understanding itu.



Simak Video "3 Hal Yang Mendorong Seseorang Gunakan Jasa Sewa Pacar"
[Gambas:Video 20detik]
(nir/twu)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia