Apa yang Dimaksud Anakronisme dalam Sejarah? Ini Pengertian dan Contohnya

Apa yang Dimaksud Anakronisme dalam Sejarah? Ini Pengertian dan Contohnya

Cicin Yulianti - detikEdu
Rabu, 26 Okt 2022 11:00 WIB
Budayawan Aceh Tarmizi Abdul Hamid membersihkan koleksi naskah kuno di kediamannya Desa Ie Masen Kaye Adang, Banda Aceh, Aceh, Jumat (26/9/2020). Sekitar 500 lebih naskah berupa manuskrip kuno termasuk mushaf Alquran kuno, buku tasawuf, tauhid, hukum Islam, falak hingga ilmu pengobatan peninggalan akhir abad ke-16 hingga abad ke-19 masehi telah menjadi bahan pengembangan ilmu pengetahuan dan sejarah peradaban di nusantara. ANTARA FOTO/Irwansyah Putra/pras.
Foto: ANTARA FOTO/IRWANSYAH PUTRA/ilustrasi buku sejarah atau naskah kuno
Jakarta -

Ketika mendengarkan cerita sejarah dari seseorang yang bukan ahli sejarah, terkadang akan ditemukan informasi-informasi yang tidak sesuai dan kurang tepat. Ketidaksesuaian informasi tersebut adalah anakronisme.

Secara lebih sederhananya, pengertian anakronisme adalah sesuatu yang tidak ada kesesuaian dengan kenyataan sehingga menjadi tidak masuk akal.

Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) mengartikan anakronisme adalah ketidakcocokan dengan zaman tertentu.

Sedangkan menurut Anton Moeliono dalam esai "Kemerdekaan itu Diproklamasi atau Diproklamirkan?" pada Santun Bahasa (1984), dijelaskan dalam memahami makna anakronisme, seharusnya tidak menampik kata lama dengan cara memberi makna baru dalam bahasa masa kini.


Contoh Anakronisme dalam Sejarah

Untuk memahami makna anakronisme lebih jauh bisa dilihat dari cerita berikut ini:

Pada tahun 1960-an, beberapa pelajar dan mahasiswa terganggu proses belajarnya karena banyak di antara mereka turun ke medan tempur menjadi tentara pelajar untuk mengusir para penjajah yang berusaha menguasai Indonesia.

Cerita di atas adalah penggalan wacana yang tidak sesuai dengan sejarah yang ada. Pada tahun 1966 lebih tepatnya, memang para pelajar dan mahasiswa turun ke jalan untuk melakukan demonstrasi.

Namun tujuannya bukanlah untuk mengusir penjajah melainkan untuk memperjuangkan tuntutan lain.

Contoh lain dari anakronisme adalah terdapat dalam cerita Panji yang berlatar zaman Kediri (1104-1222).

Anakronisme yang ada dalam cerita tersebut adalah mencampurkan kerajaan Singasari (1222-1292) dengan zaman Kediri. Saat itu kerajaan Kediri masih berdiri, meski pemerintahannya di bawah Singasari.

Mengutip buku Teori Pengkajian Fiksi (2018) oleh Burhan Nurgiyantoro, anakronisme perlu dihindari dalam penulisan fiksi sejarah.

Dalam menuliskan cerita atau novel sejarah, meskipun beberapa tokoh dibuat secara fiksi, namun latar sejarah seperti waktu dan tempat tidak boleh mengada-ngada atau berlainan dengan sejarah sebenarnya.

Kemudian latar yang ditulis tidak sesuai dengan sejarah maka akan menimbulkan cerita yang tidak masuk akal dan terkesan membohongi pembaca.

Jadi, bisa dikatakan bahwa anakronisme lebih merujuk pada hal negatif karena tidak cocok dengan urutan waktu atau perkembangan sejarah.

Oleh karena itu, perlu dipantau kembali cerita sejarah atau bacaan sejarah untuk melihat apakah terdapat anakronisme atau tidak.

Caranya adalah dengan membaca historiografi atau tulisan dari sejarawan (ahli sejarah) setelah melumat informasi tentang sejarah secara selewat.

Pasalnya, jika mudah menerima informasi dan langsung memercayainya, maka berpotensi terjadi salah tafsir soal sejarah kepada generasi berikutnya.



Simak Video "Melihat Pameran Buku Terapung Terbesar di Dunia"
[Gambas:Video 20detik]
(faz/faz)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia