Kenapa Boston University Kembangkan Virus COVID-19 yang Lebih Mematikan?

Kenapa Boston University Kembangkan Virus COVID-19 yang Lebih Mematikan?

Trisna Wulandari - detikEdu
Rabu, 19 Okt 2022 12:30 WIB
Poster
Kenapa Boston University kembangkan virus COVID-19 yang lebih mematikan? Foto: Edi Wahyono
Jakarta -

Para peneliti di National Emerging Infectious Diseases Laboratories, Boston University mengklaim telah mengembangkan virus COVID-19 yang lebih mematikan pada 14 Oktober 2022. Apa alasannya?

Versi virus SARS-CoV-2 di Boston Univeristy ini disebut menggabungkan Omicron dan strain dari masa awal pandemi. Omicron dikenal sebagai varian COVID-19 yang cepat menyebar namun relatif lebih ringan, sementara strain di awal pandemi diketahui lebih mematikan.

Dalam penelitian Role of Spike in the Pathogenic and Antigenic Behavior of SARS-CoV-2 BA.1 Omicron tersebut, virus versi peneliti Boston University ini mematikan bagi 80% tikus percobaan yang telah diinfeksi. Sementara itu, varian Omicron yang belum dimodifikasi tidak mematikan bagi tikus lab yang diinfeksi.

Kenapa Peneliti Boston University Kembangkan Versi COVID-19 yang Lebih Mematikan?

Tujuan penelitian di Boston University yaitu untuk mendapati apakah protein spike dari Omicron, pintu masuk virus SARS-CoV-2 untuk menginfeksi manusia dan hewan, telah membuat varian Omicron menjadi less pathogenic atau menyebabkan infeksi yang tidak separah strain di awal pandemi.

Dikutip dari laman Science.org, para peneliti di kampus AS ini mengambil gen untuk protein spike Omicron dan menambahkannya ke genom virus backbone. Virus backbone yang dimaksud merupakan varian SARS-CoV-2 dari Washington yang teridentifikasi tidak lama setelah pandemi berkembang di Wuhan, China, pada awal 2020.

Virus hybrid dari lab perguruan tinggi ini lantas mematikan bagi 8 dari 10 tikus yang diinfeksi. Sementara itu, tikus yang diinfeksi Omicron jadi sakit, tetapi tidak mati.

Hasil penelitian ini mendapati bahwa mutasi pada Omicron, yang menyebabkannya tidak semematikan strain awal pandemi, salah satunya termasuk tahap perubahan protein selain di protein spike.

Kontroversi Penelitian Virus COVID-19

Menurut kebijakan pemerintah AS, semua proposal penelitian dengan pendanaan federal yang perlu diantisipasi seharusnya mendapatkan review khusus agar virus ini tidak menjadi makin berbahaya.

Sementara itu, pihak Boston University menyatakan penelitian tersebut tidak memenuhi kriteria special review. Sebab, penelitian ini tidak memperkuat strain SARS-CoV-2 dan tidak membuatnya menjadi lebih berbahaya. Menurut pihak kampus, penelitian ini justru mengurangi bahaya virusnya.

Sejumlah peneliti juga mempertanyakan relevansi penelitian ini dengan upaya melindungi kesehatan manusia.

Para peneliti tersebut menggarisbawahi, temuan pada tikus kerap tidak berlaku sama pada manusia. Menurut Francois Balloux, virolog dari University College London, keterbatasan penelitian ini membuatnya jadi tidak cukup menyakinkan.

Sementara itu, peneliti terapi gen Alina Chan dari Broad Institute berpendapat, aspirasi masyarakat perlu diperhatikan dalam penelitian ini. Baginya, penelitian ini mengkhawatirkan karena berisiko menyebarkan virus di Boston.

Namun, pihak kampus mengatakan bahwa eksperimennya sudah disetujui komite biosafety, termasuk perwakilan masyarakat, dan dewan kesehatan masyarakat Boston.

Boston University menambahkan, pendanaan federal parsial dari National Institute of Allergy and Infectious Diseases (NIAID), National Institutes of Health (NIH).

Sejumlah peneliti juga berpendapat bahwa penelitian ini tidak seberbahaya yang dikhawatirkan. Virolog Stuart Neil dari King's College London mengatakan, virus hybrid tersebut jauh dari mematikan jika dibandingkan dengan strain SARS-CoV-2 Washington.

Ia menambahkan, tikus juga sangat sensitif dengan COVID-19. Sebab, sel paru-paru tikus memiliki reseptor yang umum digunakan virus SARS-CoV-2 untuk menginfeksi sel manusia.

Banyaknya virus yang dimasukkan peneliti Boston University ke hidung tikus menurutnya juga tidak sebanyak pada manusia biasa sehari-hari. Alhasil, tingkat kematian 80% pada tikus yang terinfeksi jauh lebih tinggi dari tingkat kematian varian SARS-CoV-2 awal, yang mencapai 1%.

Menurut Neil, eksperimen peneliti Boston University juga dilakukan di laboratorium biosafety level 3 (BSL-3), yang memiliki pintu bersegel, kabinet bertekanan udara negatif, dan para pekerja dalam pakaian khusus.

Sementara itu, Virolog Florian Krammer dari Icahn School of Medicine, Mount Sinai mengatakan bahwa penelitian ini tidak terlalu mengkhawatirkan karena virus hybrid semacam ini sudah berkembang secara alami di lingkungan dan tidak serta merta jadi sangat mematikan. Contoh, protein spike Omicron dengan backbone strain Delta.

Penelitian virus COVID-19 oleh Boston Univeristy ini kemudian ditinjau oleh tim federal National Science Advisory Board for Biosecurity (NSABB). Pemerintah merencanakan aturan terbaru terkait penelitian semacam ini dirilis pada 2023.



Simak Video "Kisah Para Petani China Lulusan Perguruan Tinggi"
[Gambas:Video 20detik]
(twu/nwy)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia