Riset: Polutan Pengaruhi Kenaikan COVID-19, PSBB Cegah Penularan

Rafi Aufa Mawardi - detikEdu
Kamis, 30 Jun 2022 14:15 WIB
Polusi udara masih jadi salah satu persoalan yang terus diupayakan solusinya di Jakarta. Berikut penampakan Kota Jakarta yang tampak dikepung kabut polusi.
Polusi udara masih jadi salah satu persoalan yang terus diupayakan solusinya di Jakarta. Berikut penampakan Kota Jakarta yang tampak dikepung kabut polusi.Foto: Rifkianto Nugroho
Jakarta -

Peningkatan kasus penderita dan kematian akibat virus COVID-19 sejak pertama kali wabah ini muncul di kota Wuhan pada Desember 2019 hingga menyebar ke seluruh dunia, telah menarik perhatian para peneliti.

Sejumlah peneliti mencoba untuk menganalisis faktor-faktor yang berperan dalam penyebaran virus COVID-19. Bahkan, beberapa penelitian menemukan fakta bahwa virus COVID-19 bisa menular dengan perantara kontak fisik secara langsung antar manusia dan tetesan (droplet) dari pernapasan.

Dalam beberapa penelitian, sejumlah peneliti menjadikan polusi udara sebagai fokus penelitian mereka. Pertimbangannya, peningkatan polusi udara merupakan ancaman bagi kesehatan manusia, terutama yang terkait dengan penyakit pernapasan.

Beberapa penelitian sebelumnya membuktikan bahwa adanya hubungan antara paparan polusi udara partikulat jangka pendek di udara ambien terhadap risiko peningkatan penyakit pernapasan.

Peningkatan risiko tersebut terjadi karena partikulat di udara mengandung zat toksik yang masuk secara inhalasi hingga kemudian akan bersirkulasi dalam aliran darah dan organ sasaran, sehingga dapat mempengaruhi status kesehatan orang yang terpapar.

Polutan Menjadi Penyebab Kardiopulmoner

Polutan seperti NO2, SO2, CO, PM2.5 dan PM10 menjadi penyebab penyakit "kardiopulmoner". NO2 atau Nitrogen Dioksida menimbulkan penyakit inspeksi saluran pernapasan atas atau ISPA. SO2 (Sulfur Dioksida) dan CO (Karbon Monoksida) bisa meningkatkan risiko stroke, asma serta kanker paru-paru.

Polutan PM10 dan PM2.5 dengan diameter kurang dari 0,5 mm bisa melayang di udara, dan menempuh jarak yang jauh. Apabila partikel yang terbawa udara tersebut dihirup oleh manusia bisa masuk ke paru-paru dan menyebabkan peradangan, kerusakan oksidatif, dan kanker paru-paru.

Selain itu, sejumlah penelitian juga menemukan adanya keterkaitan antara polusi udara dengan penularan penyakit menular. Misalnya, kualitas udara yang lebih buruk juga telah terbukti meningkatkan kematian akibat SARS serta meningkatkan insiden influenza.

Data menunjukkan bahwa kualitas udara secara signifikan dan positif mempengaruhi peningkatan kasus COVID-19 harian di kota Wuhan, China. Polutan PM2.5 dan PM10 menjadi media transmisi SARS-CoV-2 sehingga berpotensi peningkatan penyebaran kasus COVID-19.

Particulate Matter atau PM memiliki sifat toksik yang bisa masuk ke paru-paru dan mempengaruhi kondisi fisiologis organ paru-paru manusia. Sehingga berkontribusi terhadap peningkatan risiko mortalitas dan morbiditas pada kejadian COVID-19.

Beberapa penelitian menemukan bahwa ada hubungan antara PM dengan COVID-19. Kemudian, PM2.5 yang lebih kecil dari PM10 memiliki kemampuan lebih tinggi untuk menjadi faktor risiko pemberat pada COVID-19.

Cara Transmisi COVID-19 Melalui Particulate Matter

Ada dua cara transmisi SARS-CoV-2 melalui Particulate Matter. Pertama PM2.5 menghalangi proses pernapasan manusia. Kedua, PM dapat membentuk inti kondensasi untuk perlekatan virus. PM2.5 ukurannya relatif lebih kecil sehingga dapat menembus alveoli sehingga merusak saluran pernapasan.

PM2.5 menjadi faktor paling dominan yang menyebabkan penularan SARS-CoV-2 atau COVID19. Di mana penelitian terkait pengaruh polutan terhadap peningkatan kasus COVID-19 telah dilakukan untuk sejumlah kota di beberapa negara, seperti China, Italia, Amerika Serikat.

Namun penelitian belum dilakukan untuk kota-kota di Indonesia. Erwin Dariyanto, mahasiswa Magister Perencanaan Ekonomi dan Kebijakan Pembangunan Universitas Indonesia melakukan penelitian untuk menguji pengaruh polusi udara terhadap peningkatan kasus COVID-19 di Indonesia saat penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar atau PSBB.

Periode pengamatan berlangsung selama 1 Maret 2020 sampai Desember 2020 di lima kota besar di Indonesia, yakni: Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Semarang dan Surabaya. Di mana dalam periode tersebut ada masa penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar atau PSBB.

Ringkasan Descriptive statistic variable dalam penelitian ini adalah jumlah observasi sebanyak 1.408 dengan rata-rata 783,076 kasus harian, PM10 dengan jumlah observasi 1.513, dan rata-rata konsentrasi harian sebesar 32,382 µg/m3 . Kemudian, polutan SO2 jumlah observasi 1.452 dan rata-rata konsentrasi harian sebesar 24,227 µg/m3 .

Sementara polutan NO2 jumlah observasi 1.149 dan konsentrasi rata-rata harian sebesar 15,950 µg/m3 . Selanjutnya data diolah menggunakan regresi metode Ordinary Least Square (OLS) dengan uji ketahanan Robust Standard Errors.

Hasil dari regresi ini menunjukkan bahwa PM10, SO2 , dan NO2 memiliki pengaruh yang signifikan terhadap peningkatan kasus COVID-19 di lima kota di Indonesia, seperti Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Semarang, dan Surabaya. Setiap kenaikan konsentrasi PM10 sebesar 1 μg/m3 akan menyebabkan peningkatan sebesar 2,65 kasus COVID-19.

Kenaikan SO2 sebesar 1 μg/m3 akan meningkatkan 7,955 kasus COVID-19. Setiap kenaikan NO2 sebesar 1 μg/m3 akan meningkatkan 21,01 kasus COVID-19. Sementara Penerapan PSBB cukup signifikan mengurangi kasus COVID-19. Di mana setiap diterapkan PSBB akan menurunkan angka COVID-19 sebesar 447,4 kasus.

Penelitian Erwin Dariyanto ini telah tayang dalam jurnal internasional Sustainability Science and Resource, Vol. 2 No. 1 (2022) dengan doi https://doi.org/10.55168/ssr2809-6029.2022.2002.

Sustainability Science and Resources (ISSN 2809-6029) adalah jurnal dengan akses terbuka, peer-review, yang diterbitkan oleh Indonesian Forestry Certification Cooperation (IFCC) bekerja sama dengan Millennium Resource Alternatives (MRA) LLC dan Sustainable Development Indonesia (SDI).



Simak Video "Penurunan Kualitas Udara di Jakarta Kombinasi Emisi dan Pola Angin"
[Gambas:Video 20detik]
(pal/pal)

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia