Begini Kondisi Otak Korban Bencana Alam yang Alami Trauma

Begini Kondisi Otak Korban Bencana Alam yang Alami Trauma

Fahri Zulfikar - detikEdu
Senin, 17 Okt 2022 12:00 WIB
Computer screens in laboratory. Brain scans and coronavirus research
Foto: Getty Images/janiecbros/Ilustrasi pengamatan otak
Jakarta -

Sebuah penelitian dari Institut Teknologi Bandung (ITB) bersama pakar profesional mengungkapkan kondisi otak korban bencana alam yang mengalami trauma. Kondisi otak tersebut dilihat dari sisi tampilan gelombang pada otak.

Penelitian dilakukan dengan mengamati para korban bencana longsor Desa Cihanjuang, Cimanggung, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, yang terjadi pada 9 Januari 2021.

Pada peristiwa tersebut, 40 orang meninggal dunia, puluhan lainnya luka-luka, serta menimbulkan dampak kerugian bagi para penyintas, salah satunya dalam bentuk gangguan psikologis seperti PTSD (Post Traumatic Stress Disorder).

PTSD atau 'Gangguan Stres Pasca Traumatik' adalah gangguan yang dapat menimbulkan gejala seperti rasa cemas berlebihan yang muncul berulang kali, gangguan tidur, hingga bisa berujung depresi.

Kegiatan Coaching untuk Trauma Healing

Kelompok Keahlian Fisiologi, Perkembangan Hewan, dan Sains Biomedika dari program studi Biologi, Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati, Institut Teknologi Bandung (SITH-S ITB) bersama dengan para coach professional dari Badan Usaha Milik Negara (BUMN) melakukan kegiatan coaching yang diikuti dengan pengukuran gelombang otak sebagai upaya trauma healing kepada para korban bencana longsor di Desa Cihanjuang.

"Coaching adalah salah satu metode yang dapat mendukung proses trauma healing. Dalam kegiatan pengabdian masyarakat ini, metode coaching melibatkan interaksi antara coach dengan para korban bencana sebagai responden dalam durasi kurang lebih 40-45 menit," tulis laporan di laman resmi ITB, dikutip Senin (17/10/2022).

Tujuan coaching, secara umum dilakukan agar responden mencapai target tertentu atau meningkatkan kualitas hidup.

Selama sesi coaching ini, 28 orang responden yang terdiri dari 16 laki-laki dan 12 perempuan dipandu oleh para coach masing-masing untuk merefleksikan dirinya melalui jawaban atas berbagai pertanyaan yang diberikan.

Dengan cara ini, harapannya dapat meringankan beban emosional para responden sebagai korban bencana alam.

Selain itu, metode coaching juga diharapkan dapat membantu mereka untuk menyadari kemampuan diri sendiri agar dapat bangkit dan mengambil pembelajaran atau tindakan positif dari pengalaman traumatik yang pernah mereka alami.

Merekam Gelombang pada Otak

Sejalan dengan proses coaching, responden telah memberikan persetujuan untuk pengambilan gelombang otak yang direkam melalui perangkat elektroensefalografi (EEG) Muse.

Tampilan visual gelombang otak yang terdeteksi oleh alat tersebut dapat dilihat langsung melalui aplikasi Mind Monitor di smartphone.

Perangkat elektroensefalografi (EEG) akan menerjemahkan aktivitas elektrikal atau kelistrikan pada otak dengan tampilan gelombang otak.

Perangkat Muse EEG memiliki empat buah elektroda sensorik yang dapat mendeteksi aktivitas gelombang otak di empat kanal spesifik, yakni area otak depan yang disebut antero frontal bagian kiri (kode AF7) dan kanan (AF8), serta area otak samping atau temporoparietal bagian kiri (TP9) dan kanan (TP10).

Adapun secara umum, berdasarkan situasi emosional dan rentang frekuensinya, gelombang otak dapat dibagi menjadi lima jenis, yaitu gelombang delta, theta, alfa, beta, dan gamma.

Gelombang otak responden korban longsor yang diukur saat menjalani sesi coaching adalah gelombang alfa dan beta.

Dinamika Gelombang Otak

Penggunaan perangkat teknologi seperti Muse EEG dapat menampilkan karakteristik gelombang otak alfa dan beta pada responden korban bencana longsor di Desa Cihanjuang melalui aplikasi Mind Monitor.

1. Gelombang Otak Alfa

Hasil analisis data gelombang otak alfa menunjukkan perubahan aktivitas yang nyata setelah korban bencana menjalani sesi coaching.

Rata-rata gelombang alfa responden menunjukkan penurunan aktivitas yang signifikan di kedua area anterofontal, baik di kiri dan kanan (AF7 dan AF8).

Penurunan aktivitas ini juga mengindikasikan terjadinya defisit pada aktivitas otak yang terlibat dalam fungsi-fungsi eksekutif, seperti fungsi kontrol gerakan motorik dan atensi.

Defisit atensi adalah salah satu ciri khas dari individu yang terdampak PTSD. Fenomena ini diduga terjadi sebagai bentuk penghindaran para responden terhadap kejadian traumatis yang mereka alami.

Kondisi defisit atensi dapat menjadi penanda (marker) penting bahwa para responden masih dalam kondisi PTSD.

Namun, jika dikaitkan dengan fungsi area AF, maka aktivitas gelombang alfa berasosiasi dengan perhatian penuh (attentiveness) dan kewaspadaan (alertness) saat sesi coaching berlangsung, sehingga mampu mempengaruhi responden bersikap cukup rileks.

Sebaliknya, aktivitas gelombang alfa di kedua area temporoparietal (TP9 dan TP10) justru meningkat secara signifikan.

Aktivitas gelombang alfa yang lebih tinggi di area TP menunjukkan sisi emosional para naracoba yang cenderung lebih kuat.

Peningkatan aktivitas gelombang alfa di area TP9 dan TP10 berkontribusi terhadap tiga kemungkinan. Pertama, kondisi naracoba menjadi semakin rileks setelah sesi coaching berlangsung. Kedua, munculnya lonjakan emosional. Terakhir, adanya proses ingatan yang muncul kembali (memory retrieval) terkait kejadian traumatis di masa silam.

2. Gelombang Otak Beta

Berbeda dengan gelombang alfa, tampilan gelombang beta menunjukkan nilai yang tinggi saat sesi awal coaching dan berangsur menurun signifikan sejalan dengan usainya sesi coaching.

Penurunan ini ditemukan di seluruh area yakni AF dan TP. Gelombang beta berasosiasi dengan proses berpikir atau konsentrasi yang aktif, sibuk, hingga kecemasan, bergantung seberapa intens aktivitas gelombang beta di area otak tertentu.

Semakin tinggi aktivitas gelombang beta pada individu, maka orang tersebut kemungkinan besar mengalami kecemasan yang tinggi.

Penurunan aktivitas gelombang beta yang terjadi di kedua area antero frontal mengindikasikan proses berpikir yang intensif meskipun dapat diasumsikan para responden tengah berada dalam konsentrasi yang sudah berkurang.

Sementara itu, penurunan gelombang beta di area temporoparietal, yakni TP 9 dan TP 10, berkaitan dengan menurunnya tingkat kecemasan dan proses pelepasan emosional.

Keduanya saling berhubungan dan membentuk indikasi bahwa telah terjadi penurunan tingkat stres dan munculnya rasa rileks pada responden setelah melalui sesi coaching.

Dampak Sesi Coaching bagi Penyintas

Dalam laporan di laman resmi ITB, diketahui semua responden mengaku merasa lega setelah berinteraksi dengan para coach masing-masing.

Meski sering tampak responden menangis saat mengingat kembali peristiwa bencana longsor, namun perasaan lega yang muncul berkaitan dengan proses pelepasan emosional.

Setelah sesi coaching usai, banyak responden yang menjadi korban bencana longsor masih memendam perasaan negatif pada diri mereka masing-masing.

Dampak dari memendam perasaan yang lama kemudian akan berpengaruh terhadap kemunculan gejala PTSD atau bahkan bisa memperparah gejala tersebut.

Oleh karena itu, sesi coaching sangat bermanfaat bagi para korban bencana untuk memulai langkah baru yang positif dalam melanjutkan kehidupan.



Simak Video "24 Orang Tewas dalam Insiden Tanah Longsor di Malaysia"
[Gambas:Video 20detik]
(faz/nwy)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia