Paleolitikum, Masa saat Masyarakat Purba Hidup Nomaden

Rahma Harbani - detikEdu
Senin, 03 Okt 2022 13:30 WIB
Manusia purba
Ilustrasi. Masyarakat purba hidup secara nomaden pada masa Paleolitikum. (L Xueping Ji/IFL Science)
Jakarta -

Masyarakat purba hidup secara nomaden pada masa Paleolitikum. Masa Paleolitik sendiri termasuk dalam pembagian zaman prasejarah berdasarkan temuan arkeologi yang menggunakan batu.

"Pada zaman ini, kehidupan manusia masih sangat primitif dan sederhana, dicirikan dengan kehidupan yang berpindah-pindah tempat (nomaden)," bunyi keterangan buku Top One SBMPTN Soshum oleh Forum Tentor Indonesia.

Keadaan nomaden tersebut bergantung pada daya dukung alam berupa tersedianya bahan makanan, terutama binatang buruan. Artinya, bila binatang buruan dan bahan makanan yang diambil dari hutan sudah habis, mereka akan berpindah ke tempat yang lebih subur lagi.

Hal itu pun terus berlangsung secara terus menerus. Pada dasarnya, kegiatan sehari-hari manusia purba di masa itu dihabiskan dengan mengumpulkan bahan makanan dari alam untuk dikonsumsi saat itu juga. Kegiatan tersebut juga dikenal dengan istilah food gathering atau pengumpul makanan tahap awal.

Mengutip buku IPS Terpadu (Sosiologi, Geografi, Ekonomi, Sejarah) oleh Nana Supriatna, Mamat Ruhimat dan Kosim, kehidupan nomaden pada masa Paleolitikum ini hampir mirip dengan pola hidup berpindah suku-suku terasing saat ini di Indonesia seperti, Suku Kubu di Bengkulu dan Suku Sasak di Sumatra.

Mengenal Masa Paleolitikum

Masa Paleolitikum juga kerap disebut sebagai zaman batu tua. Sebab, pada masa ini, alat-alat yang ditemukan masih terbuat dari batu meskipun beberapa alat terbuat dari tulang belulang atau tanduk hewan.

Peninggalan masa Paleolitikum pertama kali ditemukan oleh Von Koenigswald dan M. W. F Tweedie pada tahun 1934 di Jawa. Bukti keberadaannya didukung dari penemuan-penemuan jenis manusia purba pada akhir abad ke-19 dan sepanjang abad ke-20.

Manusia purba yang hidup pada masa Paleolitikum di antaranya Pithecanthropus Erectus, Pithecanthripus Robustus, Pithecanthropus Mojokertensis, Homo Wajakensis, Meganthropus Paleojavanicus, dan Homo Solensis.

Tercatat, masa Paleolitikum berlangsung selama 600 ribu tahun. Masa Paleolitikum berlangsung secara lambat karena keadaan alam masih sangat alami dan belum banyak dimanfaatkan oleh manusia pada saat itu.

Ada banyak hasil kebudayaan masa Paleolitikum yang ditemukan di Indonesia. Kebudayaan Paleolitikum tersebut dapat ditemukan di Pacitan dan Ngandong. Selain itu, keberadaannya didukung dari lukisan pada dinding goa seperti lukisan tapak tangan merah dan babi hutan di Goa Leang Pattae di Sulawesi Selatan.

Artefak yang ditemukan di daerah tersebut umumnya berupa kapak genggam, kapak perimbas atau chopper, alat-alat tulang dan tanduk, serta alat serpih atau flakes. Tiap alat tersebut memiliki kegunaannya masing-masing.

Kapak perimbas untuk merimbas kayu, memahat tulang, dan sebagai senjata. Kemudian, alat dari tulang dan tanduk binatang digunakan untuk mengorek ubi dan keladi dari dalam tanah.

Sementara alat serpih ditujukan sebagai alat menguliti hewan buruan selama nomaden, mengiris daging, dan memotong umbi-umbian. Alat serpih ini ditemukan di daerah lainnya seperti Lahat (Sumatra), Batturing (Sumbawa), Cabbenge (Sulawesi), dan Mangeruda (Flores).



Simak Video "Belajar Sejarah dari Pameran Kampung Purba"
[Gambas:Video 20detik]
(rah/nwy)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia